Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

Tujuh Kutipan Terbaik dari Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari (Miyazawa Kenji 1931)

Dongeng pendek Miyazawa Kenji ini penuh dengan kalimat-kalimat yang patut dikenang: dari syair anak yang menyebut angin bernama Gosuke dan Kasuke, sampai penutup ibu yang hanya berkata "Kalau begitu sudah baik." Berikut tujuh kutipan paling indah dari dongeng pendek Miyazawa di akhir hayatnya.

Pagera Editorial

Karya pendek terakhir Miyazawa Kenji ini, ditulis sekitar 1931 dua tahun sebelum ia wafat di usia 37 tahun, dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang ringan tetapi sangat khas: syair anak tentang angin yang punya nama pribadi, deskripsi awan dan matahari yang seperti kimono, dan satu kalimat penutup ibu yang sangat tenang. Berikut tujuh kutipan yang patut diingat dari Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari.

1. Tentang Awal Musim Semi Iwate

"Rerumputan kering terbentang kekuningan terang, seakan-akan di mana-mana orang bisa berguling-guling, dan di ujungnya langit biru bersinar dingin dan mengkilap. Taneri berlari seakan-akan ingin segera ke sana dan menggigit sedikit langit biru itu."

Dari semua deskripsi musim semi dalam sastra Jepang modern, mungkin tidak ada yang lebih efektif daripada gambaran Miyazawa tentang Tohoku awal April: tanah masih bertabur sisa salju, tetapi langit sudah biru begitu mengkilap sehingga seorang anak ingin menggigitnya. Inilah Miyazawa di puncak sinestesianya: warna, suhu, dan rasa bercampur dalam satu kalimat.

2. Syair untuk Angin yang Punya Nama Pribadi

"Dari atas gunung, kuambil batang wisteria biru
...angin barat Gosuke dan angin utara Kasuke..."

Lagu yang Taneri karang sendiri di awal cerita, dengan refrain berulang tentang Gosuke si Angin Barat dan Kasuke si Angin Utara, adalah salah satu syair anak paling khas dalam karya Miyazawa. Penamaan ini bukan main-main. Dalam tradisi Tohoku, anak-anak sering memberi nama pribadi pada elemen alam yang akrab, sebagai cara untuk membuatnya tetap dekat. Gosuke dan Kasuke bukan dewa angin agung dalam mitologi; mereka adalah teman bermain.

3. Telur-telur Hujan

"Karena sebagai pengganti salju, sekarang hujan akan turun, lihat, banyak sekali, telur-telur hujan sudah jadi."

Kalimat ini diucapkan Taneri sambil memandang langit musim semi yang dipenuhi pusaran-pusaran kecil tembus pandang yang naik-turun. Apa yang sebenarnya ia lihat? Mungkin uap kelembapan, atau partikel debu, atau hanya silau matahari. Tetapi Taneri menyebutnya "telur-telur hujan," dan Miyazawa membiarkan kosmologi anak ini berdiri sendiri tanpa koreksi naturalistik. Bagi anak, dan bagi penulis seperti Miyazawa, dunia memang bisa terdiri dari telur-telur hujan.

4. Tentang Burung Toki yang Datang Seperti Anggur

"Bagian dalam sayapnya bersinar merah muda berkilauan, seakan ia adalah raja segala burung. Dada Taneri seakan-akan dipenuhi oleh kegembiraan yang melimpah."

Burung Toki, Crested Ibis Jepang, sudah hampir punah pada zaman Miyazawa. Penampakan burung ini di kepala bab tengah dongeng adalah peristiwa langka yang mengubah suasana cerita. Bahasa Jepang asli menyebut "dada Taneri seperti penuh sake," yang dalam terjemahan Indonesia menjadi "dipenuhi oleh kegembiraan yang melimpah" untuk menjaga tone dongeng anak. Tetapi gambar bawaan kalimat ini adalah kemabukan rohani yang memenuhi anak ketika ia menyaksikan keajaiban.

5. Pikiran Kodok yang Terdengar Lewat Angin

"(Bagaimana, di atas kepalaku ini. Sejak kapan, jadi seperti ini, api merah yang berkibar tipis.)"

Salah satu momen paling khas Miyazawa dalam seluruh karyanya: hewan tidak berbicara dalam bahasa manusia, tetapi pikirannya bocor ke telinga anak yang cukup peka, seakan-akan angin sedang berbisik dari jauh. Kodok coklat di rawa ini sedang mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri, atau mungkin sedang menyebut langit musim semi sebagai api merah yang berkibar tipis di atas kepalanya. Tafsir dibiarkan terbuka, dan Taneri hanya bisa lari ketakutan.

6. Lagu Rantai Makanan

"Pohon berangan dimakan, pohon berangan mati
burung kakesu memakan, anak-anak mati
burung yotaka memakan, kakesu mati
elang terbang tinggi ke langit."

Lagu yang Taneri nyanyikan kepada mistletoe emas di puncak ranting pohon berangan adalah versi anak-anak dari rantai makanan yang Miyazawa, sebagai mahasiswa agronomi, kenal dengan baik. Tetapi yang membuat lagu ini istimewa adalah betapa ringan kematian setiap mata rantai diperlakukan. Tidak ada tragedi. Hanya ulat memakan pohon, anak memakan ulat, burung memakan anak, dan akhirnya elang terbang ke langit. Siklus alam diberi melodi.

7. Penutup: Resignasi Lembut Sang Ibu

"Oh, begitu. Kalau begitu sudah baik." Ibu, setelah memandang wajah Taneri, terlihat lega, dan mulai kembali menumbuk biji konara.

Kalimat penutup ini, yang dalam bahasa Jepang asli adalah "Souka. Sondara ii" dalam dialek Tohoku, mungkin adalah kalimat paling karakteristik Miyazawa akhir di seluruh karyanya. Tidak ada moral. Tidak ada hukuman. Hanya satu pengakuan bahwa hari yang sudah terjadi sudah cukup adanya. Banyak pembaca melewati kalimat ini terlalu cepat, tetapi inilah esensi keseluruhan dongeng: sebuah hari tanpa hasil pekerjaan, ditebus oleh kelelahan anak yang sudah benar-benar bermain.

Mengapa Kutipan-kutipan Ini Penting

Karya pendek Miyazawa ini, hanya 4.900 kata, mungkin terkesan kecil dibandingkan novel-novel Akutagawa atau Soseki. Tetapi setiap kalimatnya, terutama yang dikutip di atas, mengandung kosmologi yang penuh: tentang anak yang berbicara dengan pohon, ibu yang menerima hari tanpa hasil, dan langit yang bisa digigit kalau saja mulut anak cukup besar.

Untuk membaca Miyazawa lainnya, tersedia Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji dan Dua Pejabat karya Miyazawa Kenji di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Miyazawa Kenji di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera