Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Kutipan dan Tema: Moralitas Kerumunan dalam Menertawakan yang Mati

Lima kutipan kunci dari Menertawakan yang Mati karya Kikuchi Kan, dengan analisis tema moralitas kerumunan, voyeurisme tragedi, dan paradoks pengamat yang juga adalah bagian dari yang diamati.

Pagera Editorial

Kutipan Menertawakan yang Mati Kikuchi berikut menggambarkan lima momen kunci yang mengangkat tema-tema utama cerpen: moralitas kerumunan, voyeurisme modern, dan paradoks pengamat yang juga adalah bagian dari yang diamati.

Kutipan 1: Rutinitas Berita yang Mendehumanisasi

Keikichi yang bekerja di kantor surat kabar tahu bahwa berita tentang orang tenggelam, setelah dilirik sekilas seperti kertas bekas, langsung dilemparkan ke keranjang sampah. Namun kenyataan bahwa mayat sungguhan berada dalam jarak beberapa meter dari dirinya adalah perasaan yang sama sekali berbeda.

Tema: Dehumanisasi modern. Kalimat ini menangkap paradoks kunci dunia berita harian: berita kematian orang lain adalah 'kertas bekas', tetapi kehadiran fisik kematian masih memiliki kekuatan untuk menggugah. Kikuchi mengkritik bagaimana modernitas (media massa, statistik, rutinitas) telah mendehumanisasi tragedi — kita membaca tentang 'X orang meninggal' setiap hari dan tidak merasakan apa-apa, sampai tragedi itu hadir secara fisik di depan kita.

Pada era media sosial, paradoks ini bahkan lebih akut. Kita menyaksikan video kematian, kecelakaan, dan tragedi setiap hari di feed kita, tetapi tetap merasa terkejut ketika tragedi terjadi pada orang yang kita kenal secara pribadi. Kikuchi pada 1921 sudah melihat awal dari pola psikologis ini.

Kutipan 2: Triple Repetition Buruh — Birokrasi tanpa Empati

Tetapi para buruh itu tampaknya berusaha mengangkat mayat dengan terampil — sebisa mungkin tidak membasahi tangan dan kaki, sebisa mungkin tidak merasa kotor, sebisa mungkin tidak banyak mengeluarkan tenaga.

Tema: Birokrasi tanpa empati. Tiga frasa 'sebisa mungkin' yang paralel adalah signature gaya satir Kikuchi. Tidak ada satu pun dari ketiga frasa itu yang menyebut 'martabat mayat' atau 'kepedulian terhadap orang yang meninggal'. Semua tiga frasa adalah tentang kenyamanan pekerja, bukan tentang yang sedang dilayani.

Ini adalah kritik Kikuchi terhadap sistem upah harian (nikkyuusei) era Taisho yang tidak memberikan insentif moral bagi pekerja untuk melampaui minimum. Tetapi yang menarik, Kikuchi tidak menghakimi para buruh secara harsh — di paragraf berikutnya ia memberikan justifikasi simpatik. Targetnya adalah sistem, bukan individu.

Kutipan 3: Penghinaan terhadap Mayat sebagai Penghinaan Manusiawi

Tubuh manusia, lebih lagi seorang perempuan yang semasa hidupnya pasti tak henti memperhatikan penampilannya, kini diangkat seperti gurita rebus yang digantung pada kait, di depan mata umum, tanpa sedikit pun simpati, hanya dengan rasa ingin tahu yang dangkal dari kerumunan yang bergerak — hal itu bukan hanya penghinaan terhadap mayat itu, tetapi penghinaan kejam terhadap seluruh umat manusia.

Tema: Martabat universal. Kalimat ini adalah inti etis cerpen ini. Kikuchi membuat lompatan kategoris yang penting: penghinaan terhadap satu mayat bukan hanya penghinaan terhadap individu itu, tetapi 'penghinaan kejam terhadap seluruh umat manusia'.

Logika ini adalah inti dari etika martabat manusiawi: setiap tubuh manusia, hidup atau mati, memiliki martabat yang tidak dapat dipisahkan dari martabat semua manusia. Ketika satu tubuh dihina, semua tubuh dihina. Ini adalah kerangka etika yang kompatibel dengan banyak tradisi religius termasuk Islam (yang memiliki ajaran kuat tentang penghormatan jenazah), Kristen, Buddha, dan Konfusianisme.

Kutipan 4: Pengakuan Diri — Tertawa di Bioskop

Keikichi pun adalah salah satu yang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Itu adalah klimaks film, adegan yang dipikirkan pembuat film dengan memeras otak, dan ia berhasil menangkap psikologi tawa kerumunan dengan begitu lihai.

Tema: Tawa sebagai psikologi universal. Kutipan ini adalah titik balik etis cerpen. Sampai paragraf ini, Keikichi (dan pembaca) merasa moral atas kerumunan yang tertawa. Tetapi Kikuchi membatalkan posisi moral itu dengan satu kalimat: Keikichi pun adalah salah satu yang tertawa terpingkal-pingkal.

Sebagai pengamat, Kikuchi mengatakan: tidak ada manusia yang tidak pernah tertawa atas penderitaan visual orang lain. Komedi slapstick — yang menampilkan orang jatuh, kepala benjut, dipukul — adalah salah satu genre paling sukses dalam sejarah hiburan manusia karena ia menyentuh psikologi tawa universal. Yang membedakan kita dari kerumunan di jembatan bukan superioritas moral, tetapi kemampuan untuk membedakan fiksi dari kenyataan. Tetapi batas itu juga tidak selalu jelas.

Kutipan 5: Bunuh Diri yang Sudah Disiapkan

Terutama, ketika Keikichi melihat bahwa perempuan itu, sebagai persiapan setelah kematiannya, mengenakan celana panjang dalam laki-laki, ia menerima kesan mendalam seakan menyaksikan babak kelima sebuah tragedi. Itu jelas merupakan bunuh diri yang sudah disiapkan dengan tekad. Itu adalah klimaks akhir dari tragedi seumur hidup seorang perempuan.

Tema: Tragedi yang tersembunyi dalam tontonan. Detail ini adalah penemuan paling menusuk dalam cerpen. Stetsuko-no-tashinami (kesopanan setelah kematian) adalah konsep Jepang lama: orang yang akan bunuh diri akan menyiapkan tubuhnya secara hati-hati agar tidak memalukan bagi yang menemukannya. Mengenakan celana panjang dalam adalah upaya menjaga martabat tubuhnya di air yang akan menyingkapkan kainnya.

Perempuan ini, di tengah keputusasaan yang mendorongnya bunuh diri, masih memikirkan martabat tubuhnya yang akan ditemukan. Itu adalah klimaks akhir dari tragedi seumur hidup seorang perempuan. Kerumunan yang tertawa tidak tahu cerita ini. Mereka tertawa karena mereka tidak tahu. Tetapi Kikuchi (dan pembaca) sekarang tahu — dan tawa di awal cerpen menjadi tidak nyaman secara retrospektif.

Tema Penutup: Tidak Ada Posisi Pengamat yang Aman

Tema kunci cerpen ini bukan 'kerumunan jahat, individu baik' atau 'birokrasi dingin, hati hangat'. Tema kuncinya adalah tidak ada posisi pengamat yang aman. Keikichi yang mengkritik kerumunan adalah Keikichi yang juga pernah tertawa di bioskop. Pembaca yang merasa moral atas Keikichi yang ragu adalah pembaca yang baru saja mengonsumsi cerpen tentang mayat dengan rasa ingin tahu sastra.

Kikuchi tidak menawarkan jalan keluar dari paradoks ini. Ia hanya menawarkan kesadaran: tahu bahwa kita semua adalah bagian dari kerumunan, bahwa moralitas yang puas diri adalah ilusi, bahwa setiap kali kita melihat tragedi sebagai tontonan, kita memerlukan untuk berhenti dan bertanya — 'Pantaskah manusia tertawa seperti ini terhadap mayat sesama manusia?'

Baca Menertawakan yang Mati karya Kikuchi Kan di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera