Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-23 · Waktu baca ~ 5 mnt

Lafcadio Hearn: Penulis Yunani-Irlandia yang Mencatat Hantu-Hantu Jepang

Lafcadio Hearn meninggalkan Eropa dan Amerika untuk menetap di Jepang Meiji, menjadi Koizumi Yakumo, dan menulis kisah hantu yang mendefinisikan negeri itu.

Pagera Editorial

Lafcadio Hearn: Penulis Yunani-Irlandia yang Mencatat Hantu-Hantu Jepang

Sedikit sekali penulis yang melintasi sebanyak itu perbatasan seperti Lafcadio Hearn. Lahir tahun 1850 di pulau Lefkada di Laut Ionia dari ibu Yunani dan ayah dokter bedah Irlandia yang bertugas di angkatan darat Inggris, ia dibesarkan di Dublin, ditinggalkan kedua orang tuanya, diserahkan oleh kerabat, dan akhirnya dikirim ke Amerika pada usia sembilan belas tahun. Ia bekerja sebagai wartawan koran di Cincinnati dan New Orleans, mengembara di Karibia Prancis, dan akhirnya tiba di Yokohama pada 1890 untuk sebuah tugas majalah. Ia tidak pernah pergi lagi.

Di Jepang ia menikahi Koizumi Setsu, memakai nama keluarganya, memiliki empat anak, dan mengambil nama Koizumi Yakumo. Ia mengajar bahasa Inggris di Matsue, Kumamoto, dan di Universitas Imperial Tokyo. Ketika ia meninggal karena gagal jantung pada 1904 di usia lima puluh empat tahun, ia telah menghasilkan lebih dari selusin buku tentang Jepang yang, bagi pembaca berbahasa Inggris, hampir-hampir menciptakan citra sastra negeri itu.

Seorang Pendengar Sebelum Seorang Penulis

Penglihatan Hearn buruk akibat kecelakaan masa kecil. Satu matanya buta, yang lain tegang dan keruh, dan ia menulis dengan wajah hampir menempel pada kertas. Hal ini mungkin menjelaskan ketergantungannya seumur hidup pada suara manusia. Di Jepang ia mendengarkan. Istrinya Setsu akan menceritakan kepadanya cerita rakyat lama di malam hari dalam bahasa Jepang yang pelan dan disengaja, mengulang frasa hingga ia menangkapnya, dan keesokan paginya ia akan menyusun versi Inggris yang mempertahankan irama tutur Setsu.

Hasilnya tidak menyerupai apa pun yang pernah ditemui pembaca Barat. Hearn tidak menerjemahkan Jepang sebanyak mendengarkannya. Sketsanya tentang festival kuil, catatannya tentang hantu desa, dan meditasinya yang sabar atas satu serangga atau satu bunyi adalah karya seorang penulis yang memahami bahwa sebuah kebudayaan terikat oleh apa yang dikatakan orang di senja hari, bukan oleh apa yang ditulis para pejabat di tengah hari.

Kisah-Kisah Hantu

Hearn paling diingat karena penuturan ulangnya atas cerita-cerita gaib Jepang. Cerita-cerita itu bukan rekaan. Ia mengumpulkannya dari istrinya, dari buku-buku murah lama, dari pendeta kuil, dan dari nelayan serta petani yang ditemuinya dalam perjalanan. Koleksi paling terkenal, Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things (1904), terbit pada tahun kematiannya. Buku itu memuat beberapa kisah hantu paling abadi dari sastra Jepang modern: "The Story of Mimi-nashi-Hoichi," pemain biwa buta yang telinganya dirobek oleh roh samurai; "Yuki-Onna," perempuan salju yang membiarkan hidup seorang penebang kayu muda dengan syarat ia tidak akan pernah bicara tentangnya; dan "Mujina," yang di dalamnya hantu tanpa wajah menggentayangi sebuah jalan menanjak di Tokyo.

Yang membuat kisah-kisah itu begitu awet bukan ngerinya melainkan keseganannya. Hearn tidak pernah menjelaskan. Hantu datang, hening bertahan, manusia memikul perjumpaan itu seumur hidupnya. Itu adalah struktur yang ia pelajari dari sumber-sumber Jepangnya dan disempurnakan menjadi sesuatu yang khas miliknya.

Lebih Dari Sekadar Hantu

Membaca Hearn hanya untuk kisah-kisah hantunya berarti melewatkan sebagian besar dirinya. Glimpses of Unfamiliar Japan (1894), buku besar pertamanya tentang Jepang, adalah kumpulan esai dua jilid tentang kuil-kuil Matsue, tentang senyum orang Jepang, tentang pemakaman di tepi laut. In Ghostly Japan (1899) dan Shadowings (1900) mencampur cerita rakyat dengan renungan tentang pemikiran Buddha. Kuliah-kuliah terakhirnya di Universitas Imperial Tokyo, yang dikumpulkan setelah wafatnya sebagai A History of English Literature, disusun sepenuhnya tanpa catatan oleh seorang lelaki yang nyaris tidak bisa melihat mimbarnya sendiri.

Hearn juga seorang esais serius tentang serangga, bunga, makna sebuah kata Jepang. "Frogs," "Dragon-flies," dan "Butterflies" dalam Kotto (1902) adalah mahakarya kecil pengamatan alam. Ia mengambil hal-hal yang dianggap biasa oleh pembaca Jepang dan menuliskannya dengan perhatian seorang lelaki yang tahu bahwa ia adalah orang luar dan akan selalu menjadi orang luar.

Mengapa Ia Masih Penting

Jepang yang dicintai Hearn sudah mulai lenyap saat ia menulis. Modernisasi Meiji menghantam negeri itu, mengganti kuil kayu dengan kantor bata, festival kuno dengan hari libur nasional. Ia sangat sadar bahwa ia sedang melestarikan dunia yang sirna, dan buku-bukunya membawa sedikit kemurungan dari seorang lelaki yang menuliskan apa yang ia tahu akan segera hilang.

Ini sebagiannya mengapa karyanya menua dengan begitu baik. Pembaca hari ini yang membuka Kwaidan tidak sedang membaca rasa ingin tahu kuno dari 1904, melainkan catatan cermat tentang cerita-cerita yang terus membentuk perfilman horor Jepang, manga, dan animasi selama lebih dari satu abad. Mujina tanpa wajah, perempuan salju, biksu tanpa telinga, semuanya hidup terus di dalam film dan permainan yang penciptanya mungkin bahkan tidak tahu nama Hearn.

Dari Mana Memulai

Titik awal yang wajar adalah panduan baca Kwaidan, yang membahas ketujuh belas cerita dalam koleksi aslinya. Dari sana, pembaca yang menginginkan lebih banyak suara Hearn dapat beralih ke esainya tentang Matsue dan sejarah alam mungilnya, yang menunjukkan mengapa generasi-generasi penulis Jepang menganggapnya sebagai penulis nasional kehormatan.

Hearn dimakamkan di Pemakaman Zoshigaya, Tokyo, di bawah batu Buddha bertuliskan nama Koizumi Yakumo. Makamnya masih dikunjungi. Bagi seorang lelaki yang tiba di Jepang sebagai wartawan letih dan tinggal selama empat belas tahun, itu adalah suatu bentuk kepunyaan yang luar biasa.

Catatan untuk Pembaca Pertama Kali

Pembaca yang baru mengenal Hearn sering kali mengharapkan entah penulis perjalanan Victoria atau pengarang horor. Ia bukan keduanya. Ia lebih dekat tempramennya dengan seorang naturalis cermat yang kebetulan menulis tentang sebuah negeri dalam masa transisi. Jalan terbaik masuk ke dalam karyanya adalah memilih satu karya pendek, mungkin kisah hantu Yuki-Onna, mungkin esai mungil tentang senyum Jepang, dan membacanya cukup pelan untuk menyimak bentuk kalimat-kalimatnya. Bentuk itulah intinya. Hearn adalah seorang lelaki yang, dalam cahaya redup dan dengan mata rusak, belajar mendengarkan irama sebuah cerita dan menuangkan irama itu dalam bahasa Inggris. Irama itulah yang membuat karyanya melampaui momen historis yang melahirkannya. Pembaca yang menangkap irama itu dalam satu karya akan mendengarnya dalam semua karya yang lain.

Kembali ke Pagera