Vol. 3June 2026

Kutipan · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 4 mnt

10 Kutipan «Inlyeokggun» (인력거꾼): Penarik Becak Kim Seobang dan Nurani Sang Istri — Ahn Guk-seon (1915)

Sepuluh kutipan pilihan dari cerpen pendek «Inlyeokggun» (1915) karya Ahn Guk-seon: pembukaan musim dingin, dialog suami-istri yang menggerutu, penemuan setumpuk uang, suara nurani sang istri, dan penutup yang menyambungkan judul «Gongjinhoe» dengan tubuh cerita.

Pagera Editorial

10 Kutipan «Inlyeokggun» (인력거꾼): Penarik Becak Kim Seobang dan Nurani Sang Istri, Ahn Guk-seon (1915)

«Inlyeokggun» (인력거꾼, «Penarik Becak») karya Ahn Guk-seon (1878 ~ 1926) adalah cerpen pendek dari «Gongjinhoe» (1915), kumpulan cerpen pertama dalam sejarah sastra Korea modern. Berikut sepuluh kutipan pilihan yang menampilkan kekuatan dialog, kejernihan moral, dan kepadatan ekspresi cerpen pendek 1915 ini, dalam terjemahan Korea-Indonesia kontekstual.

Kutipan 1, Pembukaan: Hari Terbenam, Angin Musim Dingin

"Hari sudah hampir terbenam di balik gunung di barat, dan angin musim dingin yang dingin meniup ke sela-sela kamar sewaan kecil di rumah orang lain, di mana istri dari seorang pekerja yang bekerja sehari demi makan sehari, tanpa beras dan tanpa kayu bakar, terus memarahi dirinya sendiri tentang kehidupan yang sempit dan sulit……" (Babak 1, paragraf pembuka)

Kalimat pembuka ini langsung menempatkan pembaca di lapisan paling bawah masyarakat Seoul kolonial, seseyi deureo (kamar sewaan), haru beoleo haru meokneun (sehari demi makan sehari). Realisme rakyat dimulai dari gambaran rumah, bukan gambaran tokoh.

Kutipan 2, Sapaan Istri yang Menggerutu

"Aigo, hari sudah hampir lewat. Bagaimana aku memasak makan malam ini……. Berapa banyak alkohol yang sedang Anda minum sehingga belum juga pulang sampai sekarang……" (Babak 1, sang istri)

Sapaan ini menampilkan bunyi rumah miskin Seoul 1915 yang sangat akrab dengan Pembaca Indonesia. Penggunaan aigo (aduh) sebagai pembuka adalah ciri khas dialog rakyat Korea masa Joseon akhir.

Kutipan 3, Kepulangan Mabuk Kim Seobang

"Pada saat itu, orang yang mendobrak pintu dan masuk adalah Kim Seobang. Karena ini adalah pemandangan yang dilihat setiap hari, sang istri tidak menganggap perilaku itu sangat aneh, bau alkohol yang berat dan ketidakmampuan melangkahi ambang pintu, langsung jatuh terlentang." (Babak 1, paragraf 3)

Kim Seobang, nama sebutan biasa untuk laki-laki tukang Korea masa Joseon akhir. Frasa "karena ini adalah pemandangan yang dilihat setiap hari" secara halus mengindikasikan bahwa kemabukan suami adalah pola harian, sebuah keterangan yang lebih kuat dari pernyataan langsung.

Kutipan 4, Pengakuan Tanpa Beras

"Padahal beras pun belum sempat aku beli sedikit dan bawa pulang, bagaimana aku memasak makan malam ini?" (Babak 1, sang istri)

"Ah, tidak ada beras sama sekali, ya? Hmm. Aku tidak ada nafsu makan nasi." (Babak 1, Kim Seobang)

Dialog pendek ini mengandung dua fakta sosial 1915: (1) keluarga penarik becak Seoul tidak bisa selalu membeli beras setiap hari, (2) suami yang mabuk sering kehilangan nafsu makan, sebuah pemandangan realistis tanpa hiasan.

Kutipan 5, Penemuan Setumpuk Uang

"Pada saat itu, kakinya tersandung pada sesuatu di tanah. Ia menundukkan kepala melihat, dan tampaklah segenggam uang kertas terikat dengan tali. Tangannya gemetar, dan ia memungutnya, menyembunyikannya di balik jaketnya, dan dengan langkah cepat kembali ke rumah." (Babak 2)

Tiga gerakan tubuh berurutan: tersandung, memungut, menyembunyikan. Ahn Guk-seon menulis adegan kunci ini tanpa pernyataan psikologis langsung, hanya deskripsi gerakan yang memungkinkan pembaca melihat goncangan batin Kim Seobang.

Kutipan 6, Suara Nurani Sang Istri

"Uang ini bukan uang kita. Pemilik uang ini sedang menangis di suatu tempat malam ini." (Babak 3, sang istri)

Inilah salah satu kalimat moral paling jernih dalam sastra Korea modern. Sang istri tidak berargumen secara filosofis tentang etika, ia hanya membayangkan tangis pemilik uang di malam yang sama. Empati menjadi dasar nurani moral.

Kutipan 7, Keinginan Suami yang Tergoda

"Marilah kita beli sawah dengan uang ini. Beli sapi. Hidup tanpa kekurangan. Hidup tanpa keserakahan tuan-tuan kaya. Ya?" (Babak 3, Kim Seobang)

Daftar tiga kata benda, sawah, sapi, hidup tanpa kekurangan, adalah mimpi paling konkret rakyat miskin Korea 1915. Realisme rakyat di sini tidak menyangkal mimpi rakyat kecil, ia hanya menanyakan apakah mimpi itu boleh dicapai dengan cara apa pun.

Kutipan 8, Keputusan Suci Sang Istri

"Bawa kembali uang ini ke tempat di mana kamu menemukannya. Tunggu di sana. Pasti pemiliknya datang mencari." (Babak 4, sang istri)

Tiga kalimat imperatif pendek: bawa kembali, tunggu, pasti datang. Sang istri tidak meminta, ia memerintah. Pertukaran posisi moral suami-istri lengkap pada momen ini.

Kutipan 9, Pertemuan dengan Pemilik Uang

"Pada saat itu, datanglah seorang laki-laki dengan air mata mengalir, mencari-cari di sekitar tempat itu. Ketika Kim Seobang menanyakannya, ternyata benar itu adalah pemilik uang. Kim Seobang mengeluarkan setumpuk uang dari balik jaketnya dan mengembalikannya." (Babak 4)

Adegan ini ditulis tanpa kemegahan dramatis, hanya fakta-fakta yang berurutan. Justru kesederhanaan inilah yang memberi kekuatan moral pada cerpen.

Kutipan 10, Penutup: Lima Tahun Kemudian dan Gongjinhoe

"Ada kabar bahwa Gongjinhoe akan diadakan, dan di Seoul telah dibentuk Komite Persiapan Gongjinhoe, Gongjinhoe ini diadakan sebagai peringatan lima tahun pelaksanaan pemerintahan Gubernur Jenderal, kabar ini didengar oleh Kim Seobang dan istrinya …….." (Babak 5, paragraf penutup)

Kalimat penutup yang sangat khas «Gongjinhoe»: ia membawa nama kumpulan cerpen ke dalam tubuh cerita, sehingga judul kumpulan dan ending cerpen saling bersinggungan. Kim Seobang dan istrinya, yang lima tahun lalu memilih kejujuran, sekarang mendengar kabar pameran kolonial dengan cara yang sangat berbeda dari para pejabat kolonial yang merayakannya.

Penutup

Kutipan-kutipan ini menampilkan kekuatan dialog, kejernihan moral, dan pertukaran posisi gender yang menjadi ciri khas «Inlyeokggun» 1915. Ahn Guk-seon, meski sebagai gunsu kolonial, mendengarkan suara rakyat kecil Seoul dengan ketelitian seorang etnografer dan kelembutan seorang penulis moral.

Baca cerpen «Inlyeokggun» selengkapnya.

Telusuri profil dan karya Ahn Guk-seon.

Kembali ke Pagera