Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Nathaniel Hawthorne (1804-1864): Penulis Aula Fantasi dan The Scarlet Letter
Nathaniel Hawthorne adalah salah satu novelis dan cerpenis Amerika terbesar abad ke-19. Penulis The Scarlet Letter, The House of the Seven Gables, dan koleksi Mosses from an Old Manse, ia mendefinisikan tradisi alegori moral Amerika dengan kearifan Puritan dan kelembutan Romantis.
Pagera Editorial
Nathaniel Hawthorne penulis Amerika (1804-1864) adalah salah satu tokoh sentral gerakan Romantisme Amerika abad ke-19. Lahir di Salem, Massachusetts, ia menjadi salah satu pencetus tradisi alegori moral dalam sastra Amerika melalui karya monumental seperti The Scarlet Letter, The House of the Seven Gables, serta koleksi cerita pendek Twice-Told Tales dan Mosses from an Old Manse — koleksi yang memuat esai Aula Fantasi.
Lahir dari Warisan Puritan Salem
Hawthorne lahir pada 4 Juli 1804 di Salem, Massachusetts, dari keluarga Puritan kuno. Salah satu leluhurnya, John Hathorne, adalah hakim dalam pengadilan penyihir Salem 1692 yang menghukum sembilan belas orang sampai mati. Hawthorne menambahkan huruf w pada nama keluarganya — dari Hathorne menjadi Hawthorne — untuk menjauh dari warisan tersebut. Namun rasa bersalah turun-temurun atas perbuatan leluhur ini meresapi seluruh karyanya, terutama dalam tema dosa, rasa bersalah, dan penebusan.
Ayahnya, seorang kapten kapal, meninggal karena demam kuning di Suriname ketika Hawthorne baru berusia empat tahun. Setelah itu Hawthorne dibesarkan oleh ibunya dan keluarga ibu, dalam suasana introvert dan banyak membaca. Ia bersekolah di Bowdoin College di Maine (1821-1825), di mana ia berteman dengan calon presiden Franklin Pierce dan calon penyair Henry Wadsworth Longfellow.
Tahun-Tahun Pengasingan dan Twice-Told Tales
Selama dua belas tahun setelah lulus dari Bowdoin (1825-1837), Hawthorne tinggal di kamar lantai atas rumah ibunya di Salem, hampir sepenuhnya menyendiri, menulis cerita-cerita pendek dan membakar yang tidak ia sukai. Twice-Told Tales, koleksi pertama yang berhasil, diterbitkan pada 1837 dengan biaya sendiri. Buku ini akhirnya menarik perhatian kritikus, termasuk Henry Wadsworth Longfellow yang menulis ulasan positif yang membantu menyebarkan nama Hawthorne.
Pada 1839 Hawthorne mendapatkan pekerjaan di Custom House Boston untuk menafkahi dirinya, lalu pada 1841 bergabung dengan komunitas utopis Brook Farm di West Roxbury, Massachusetts. Pengalaman ini — bersama gerakan vegetarian dan reformasi sosial yang ramai pada 1840-an — kelak menjadi bahan untuk satire halus dalam Aula Fantasi (1843) dan novel The Blithedale Romance (1852).
Old Manse di Concord dan Mosses from an Old Manse
Pada 9 Juli 1842, Hawthorne menikah dengan Sophia Peabody, seorang transendentalis ilustrator yang berasal dari keluarga Peabody yang terkemuka. Pasangan baru ini pindah ke Old Manse di Concord, Massachusetts — rumah tua yang dahulu dimiliki keluarga Emerson. Selama tiga tahun di Old Manse (1842-1845), Hawthorne menulis serangkaian esai-cerita yang kemudian terbit sebagai Mosses from an Old Manse (1846), koleksi yang memuat Aula Fantasi, Young Goodman Brown, The Birth-mark, dan Rappaccini's Daughter.
Di Concord, Hawthorne bersahabat dengan Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, dan Margaret Fuller, meski ia tetap menjaga jarak intelektual dari transendentalisme yang optimistis. Hawthorne lebih cenderung pada visi kelam tentang sifat manusia — dosa, rasa bersalah, dan keterbatasan moral — yang berakar dari warisan Puritannya.
The Scarlet Letter dan Puncak Karier
Setelah kembali ke Salem dan kehilangan pekerjaannya di Custom House karena perubahan politik, Hawthorne menulis dengan cepat — dalam waktu kurang dari setengah tahun — novel yang akan menjadi karyanya terbesar: The Scarlet Letter (1850). Novel tentang Hester Prynne, wanita Puritan yang dipaksa mengenakan huruf 'A' merah karena perzinaan, ini menjadi karya klasik Amerika instan dan masih dibaca di sekolah-sekolah Amerika hingga hari ini.
Diikuti oleh The House of the Seven Gables (1851), The Blithedale Romance (1852), dan The Marble Faun (1860). Pada 1853, sahabat lamanya Franklin Pierce, yang kini menjadi Presiden Amerika, mengangkat Hawthorne sebagai konsul Amerika Serikat di Liverpool, Inggris. Hawthorne tinggal di Eropa selama tujuh tahun (1853-1860), mengunjungi Italia yang menjadi latar The Marble Faun.
Tema Khas: Dosa, Rasa Bersalah, dan Alegori
Karya Hawthorne dicirikan oleh beberapa tema yang berulang: dosa dan rasa bersalah Puritan, ambiguitas moral, alegori dan simbolisme, serta kontras antara kepalsuan publik dan kebenaran batiniah. Berbeda dari kontemporer transendentalisnya yang optimistis tentang potensi manusia, Hawthorne menampilkan visi yang lebih kelam: manusia adalah makhluk yang berdosa, terbatas, dan rentan terhadap fanatisme.
Dalam Aula Fantasi, kita melihat semua elemen ini dalam bentuk yang lebih lembut dan reflektif: aula sebagai alegori ruang batin universal, satire halus terhadap reformis utopis dan peramal kiamat, serta meditasi tentang ketegangan antara fantasi dan kenyataan. Ini adalah Hawthorne dalam mode esai-cerita — kurang dramatis daripada The Scarlet Letter, tetapi sama-sama mendalam dalam refleksi filosofisnya.
Akhir Hayat dan Warisan
Setelah pulang ke Amerika pada 1860, kesehatan Hawthorne menurun. Ia meninggal pada 19 Mei 1864 di Plymouth, New Hampshire, saat sedang bepergian dengan Franklin Pierce. Hawthorne dimakamkan di Sleepy Hollow Cemetery di Concord, dekat sahabat-sahabatnya Emerson dan Thoreau.
Pengaruh Hawthorne pada sastra Amerika sangat besar. Herman Melville, yang sangat mengagumi Hawthorne, mempersembahkan Moby-Dick kepadanya. Henry James menulis biografi Hawthorne pada 1879. Para penulis Amerika abad ke-20 seperti William Faulkner, Toni Morrison, dan Robert Lowell mengakui hutang mereka pada tradisi alegori moral yang Hawthorne dirikan.
Pelajari lebih lanjut tentang Hawthorne di Wikipedia Indonesia dan koleksi karyanya di Project Gutenberg.
Baca Aula Fantasi karya Nathaniel Hawthorne di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.