Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Frances Hodgson Burnett: Penulis Taman Rahasia di Balik Burung Robin-ku
Frances Hodgson Burnett (1849-1924) adalah penulis Inggris-Amerika yang menulis A Little Princess, Little Lord Fauntleroy, dan The Secret Garden—tiga novel anak paling berpengaruh abad dua puluh. Burung Robin-ku adalah memoar pribadinya yang langka, jendela ke kehidupan batin sang penulis.
Pagera Editorial
Frances Hodgson Burnett (1849-1924) adalah salah satu penulis perempuan paling laris dan berpengaruh pada masa transisi dari era Victoria ke era Edwardian. Tiga novel anaknya—Little Lord Fauntleroy (1886), A Little Princess (1905), dan The Secret Garden (1911)—masih dicetak ulang dan diadaptasi sampai hari ini, lebih dari satu abad setelah diterbitkan.
Tetapi di balik popularitas itu, ada seorang perempuan yang hidupnya jauh lebih sulit dan lebih kontradiktif daripada yang ditampilkan novelnya. Burung Robin-ku (My Robin, 1912) adalah salah satu dari sedikit teks non-fiksi yang ia tulis tentang dirinya sendiri—dan di dalamnya, kita bisa melihat sekilas siapa Burnett sesungguhnya.
Dari Manchester ke Tennessee: Masa Kecil dalam Kemiskinan
Frances Eliza Hodgson lahir pada 24 November 1849 di Cheetham, Manchester, Inggris—putri seorang pedagang perangkat keras yang relatif makmur. Tetapi ayahnya meninggal ketika Frances baru berusia tiga tahun, dan keluarga itu jatuh ke dalam kemiskinan. Pada 1865, ketika Frances berusia 15 tahun, sang ibu memutuskan emigrasi ke Knoxville, Tennessee, Amerika Serikat—mencari peluang baru di tengah masa pemulihan Perang Saudara.
Kehidupan di Tennessee tidak mudah. Frances mulai menulis cerita pendek untuk majalah ketika ia berusia 18 tahun—pertama-tama hanya untuk membayar tagihan keluarga. Pada tahun 1868, ia menjual cerita pendek pertamanya kepada Godey's Lady's Book seharga 10 dolar. Tahun-tahun berikutnya ia menerbitkan puluhan cerita di majalah-majalah populer Amerika, sebagian besar masih dengan latar belakang Inggris masa kecilnya.
Sukses Besar dan Pernikahan Pertama
Pada tahun 1873, Frances menikah dengan dokter bedah Swan Burnett. Mereka memiliki dua putra, Lionel dan Vivian—dan Vivian-lah yang nantinya menjadi inspirasi tokoh Little Lord Fauntleroy.
Novel Little Lord Fauntleroy (1886) menjadikan Burnett salah satu penulis paling laris dan paling kaya di dunia berbahasa Inggris pada masanya. Buku itu terjual lebih dari satu juta eksemplar—angka yang nyaris tak terbayangkan pada abad ke-19. Setelan beludru dengan kerah renda yang dipakai tokoh Cedric memicu mode pakaian anak laki-laki yang berlangsung satu generasi.
Tetapi sukses ini juga membawa beban. Pada 1890, putra sulungnya Lionel meninggal karena tuberkulosis di usia 16. Burnett tidak pernah pulih sepenuhnya dari kehilangan itu. Pernikahannya dengan Swan Burnett kandas dan mereka bercerai pada 1898.
Maytham Hall: Sembilan Tahun Pencerahan
Tahun 1898 itu juga—saat ia berusia 49 tahun, baru saja bercerai, dan masih berkabung untuk Lionel—Burnett menyewa Maytham Hall di Rolvenden, Kent, Inggris. Inilah kembalinya ke tanah air masa kecilnya.
Di Maytham Hall, Burnett menemukan dua hal yang menyelamatkan jiwanya: kebun mawar bertembok yang lama tidak terurus, dan keheningan untuk menulis. Sembilan tahun yang ia habiskan di sana—dari 1898 sampai 1907—adalah periode paling produktif sekaligus paling damai dalam hidupnya.
Di sanalah ia bertemu Tweetie, robin yang menjadi subjek esai Burung Robin-ku. Di sanalah ia mulai membayangkan tokoh Mary Lennox, anak yatim piatu yang menemukan kebun terkunci. Di sanalah ia menulis sebagian besar naskah A Little Princess (1905) dan menyusun awal The Secret Garden.
Tiga Novel Klasik untuk Anak
Tiga novel besar Burnett—yang ditulis terutama di Kent—membentuk tema yang konsisten: anak-anak yang mengalami kehilangan, kemiskinan, atau pengabaian, dan menemukan transformasi melalui kebaikan, alam, dan imajinasi.
Little Lord Fauntleroy (1886): Anak laki-laki Amerika sederhana mewarisi bangsawan Inggris dan mengubah kakeknya yang dingin dengan kebaikan tulusnya.
A Little Princess (1905): Sara Crewe, anak perempuan kaya di sekolah asrama London, kehilangan ayahnya dan jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem, tetapi mempertahankan martabat dan imajinasinya sebagai "sang putri" dalam pikirannya.
The Secret Garden (1911): Mary Lennox, anak yatim piatu yang dingin dan manja dari India kolonial, dikirim ke rumah pamannya di Yorkshire, di mana ia menemukan kebun terkunci dan secara perlahan-lahan menyembuhkan dirinya, sepupunya Colin, dan pamannya melalui kebun itu.
Robin yang muncul dalam The Secret Garden—robin yang menuntun Mary ke pintu kebun, robin yang membantunya menemukan kunci yang terkubur—adalah Tweetie. Penulisnya sendiri membenarkan ini dalam Burung Robin-ku.
Tahun-tahun Akhir di Amerika
Setelah meninggalkan Maytham Hall pada 1907, Burnett menetap kembali di Amerika Serikat. Ia membangun rumah di Plandome, Long Island, New York—dan di sana ia melanjutkan menulis sampai akhir hidupnya.
Burnett meninggal pada 29 Oktober 1924 di Plandome, dalam usia 74 tahun. Ia dimakamkan di Roslyn Cemetery di Long Island, di samping makam putranya Vivian, dengan sebuah patung seorang anak yang membaca buku menjadi penanda makamnya.
Selama lebih dari empat puluh tahun karier penulisnya, ia menerbitkan lebih dari lima puluh novel dan ratusan cerita pendek. Tetapi di antara semua karya itu, esai pendek Burung Robin-ku—hanya empat ribu kata, ditulis pada satu musim semi 1912—mungkin adalah salah satu teks paling jujur yang pernah ia tulis tentang dirinya sendiri.
Karena dalam esai ini, Burnett tidak menyembunyikan apa pun. Ia tidak menjadi nyonya rumah atau penulis terkenal. Ia hanya seorang perempuan yang duduk diam di taman, berbicara dengan seekor burung kecil, dan percaya bahwa burung itu juga adalah Jiwa.
Bagi yang ingin membaca lebih banyak karya Burnett di Pagera, tersedia The Secret Garden dan A Little Princess.
Baca Burung Robin-ku karya Frances Hodgson Burnett di Pagera, esai memoar lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.