Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-14 · Waktu baca ~ 2 mnt

Charles Dickens: Novelis Inggris yang Menulis untuk Semua Orang

Charles Dickens (1812–1870) menulis tentang anak-anak miskin, penjara debitor, dan London yang kotor — bukan karena ia ingin menulis sastra serius, tapi karena ia pernah hidup di dalamnya. Kenalan singkat dengan salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah sastra Inggris.

Pagera Editorial

Ketika Charles Dickens lahir pada 7 Februari 1812 di Portsmouth, Inggris, tidak ada yang menyangka ia akan menjadi penulis yang karyanya masih dibaca dua abad kemudian. Ayahnya seorang pegawai angkatan laut yang gemar berhutang. Saat Dickens berusia 12 tahun, seluruh keluarganya masuk penjara debitor — kecuali Dickens sendiri, yang dikirim bekerja di pabrik semir sepatu selama 10 jam sehari.

Dari Pabrik Semir ke Halaman Koran

Pengalaman itu tidak pernah ia lupakan. Dua tahun kemudian keluarganya bebas, Dickens kembali bersekolah, kemudian bekerja sebagai juru tulis pengacara, lalu wartawan. Di usia awal dua puluhan, ia sudah menulis laporan parlemen dan sketsa-sketsa kehidupan kota untuk koran-koran London.

Karir novelnya dimulai pada 1836 dengan The Pickwick Papers, yang terbit berseri di majalah. Ia menulis cepat, untuk tenggat ketat, dengan pembaca yang menunggu setiap episode. Model penerbitan berseri ini membentuk cara Dickens bercerita: setiap bagian harus membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya.

Tema yang Berulang: Kemiskinan, Keadilan, Anak-Anak

Dickens menulis tentang apa yang ia kenal. Dalam Oliver Twist (1837) ia memperlihatkan bagaimana sistem kemiskinan menghancurkan anak-anak. Dalam David Copperfield (1850) ia mengolah kembali sebagian besar pengalaman hidupnya sendiri. Dalam A Tale of Two Cities (1859) ia menghadapkan pembacanya dengan pertanyaan tentang keadilan dan pengorbanan di tengah revolusi.

Yang membuat tulisan Dickens bertahan bukan hanya pesan sosialnya. Ia memiliki kemampuan menciptakan karakter yang terasa hidup: Mr. Micawber yang selalu optimis meski selalu melarat, Miss Havisham yang berhenti memajukan waktu, Ebenezer Scrooge yang pelit lalu berubah. Nama-nama itu masuk ke dalam bahasa sehari-hari Inggris sebagai kata benda umum.

Dickens dan Fiksi Supernatural

Di luar novel-novel tebalnya, Dickens juga menulis cerita-cerita pendek dengan nuansa lebih gelap. Tradisi cerita hantu Natal yang masih kita kenal sampai sekarang sebagian besar ia yang mempopulerkan, dimulai dari A Christmas Carol (1843).

Untuk Dibaca Saat Senja (1852) adalah contoh lain dari sisi Dickens yang lebih halus dan eksperimental. Tidak ada hantu yang muncul langsung. Yang ada adalah firasat, doppelganger, dan rasa tidak nyaman yang menyelinap perlahan — jauh lebih menakutkan dari hantu yang terlihat jelas.

Cara Kerja dan Warisan

Dickens menulis sambil berjalan. Ia dikenal sering berjalan kaki 15 hingga 20 mil dalam semalam melewati jalanan London, mengamati, menyerap suasana, lalu menuangkan semuanya ke dalam halaman keesokan harinya. Ia juga seorang pembaca karya kerasnya sendiri yang sangat dramatis, dan tur membaca publiknya menarik ribuan penonton.

Ia meninggal pada 9 Juni 1870 di usia 58, saat sedang mengerjakan The Mystery of Edwin Drood yang tidak pernah selesai. Sesuai wasiatnya, pemakamannya berlangsung sederhana dan tanpa pengumuman. Tiga hari kemudian, peti matinya diam-diam dikubur di Westminster Abbey — tempat pemakaman para raja dan penyair terbesar Inggris.

Karya Dickens di Pagera

Pagera menghadirkan karya Dickens dalam terjemahan bahasa Indonesia yang mengutamakan kelancaran membaca, bukan kekakuan terjemahan. Untuk Dibaca Saat Senja adalah karya pertama Dickens yang hadir di Pagera dalam bahasa Indonesia.

Baca Untuk Dibaca Saat Senja di Pagera

Pagera Editorial Team | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera