Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

Dazai Osamu: Penulis yang Hidup Seperti yang Ia Tulis

Dazai Osamu (1909-1948) menulis tentang kekalahan, kemiskinan, dan ketidakmampuan berdiri tegak di dunia. Bukan karena ia memilih tema yang dramatis, melainkan karena itulah hidupnya. Pengarang Ningen Shikkaku ini adalah salah satu suara paling jujur dalam sastra Jepang.

Pagera Editorial

Ada penulis yang menulis tentang penderitaan dari jarak aman. Dan ada Dazai Osamu, yang menulis sambil tenggelam di dalamnya.

Lahir pada 19 Juni 1909 di Kanagi, Prefektur Aomori, sebagai putra kesepuluh dari dua belas anak keluarga tuan tanah kaya, Tsushima Shuji, yang kemudian memakai nama pena Dazai Osamu, tumbuh di antara kemewahan dan kesepian yang tidak biasa. Ayahnya jarang di rumah. Ibunya sakit-sakitan. Ia diasuh oleh pembantu dan bibi. Uang ada, tapi kedekatan manusiawi yang sederhana, hampir tidak ada.

Dari situlah semua bermula.

Dazai Osamu: Masa Muda yang Berat

Dazai mulai serius menulis sejak di sekolah menengah. Ia mengagumi Akutagawa Ryunosuke dan bermimpi menjadi penulis besar. Pada 1930, ia masuk Universitas Tokyo jurusan Sastra Prancis, namun lebih banyak menghabiskan waktu di kafe, tempat minum, dan lingkaran sastrawan muda Tokyo daripada di kelas.

Pada tahun yang sama, ia mencoba bunuh diri untuk pertama kalinya bersama seorang geisha. Ia selamat. Geisha itu meninggal. Dazai tidak pernah bebas dari rasa bersalah itu.

Rentetan krisis menyusul: ketergantungan obat penenang yang ia konsumsi untuk sakit usus buntu, utang yang menumpuk, dikeluarkan dari universitas karena tidak menyelesaikan skripsi, tekanan dari keluarga yang malu dengan nama buruknya di koran. Pada 1935, ia mencoba bunuh diri lagi dan gagal lagi. Tahun itu juga ia melamar Hadiah Akutagawa dengan Bunga Pelawak, dan kalah. Lalu menulis surat terbuka yang pedas kepada Kawabata Yasunari, salah satu jurinya.

Dua Dunia Dazai: Kekacauan dan Kejernihan

Yang membingungkan banyak pembaca adalah ini: Dazai yang hidupnya kacau menghasilkan prosa yang sangat jernih. Kalimat-kalimatnya tidak bertele-tele. Pilihan katanya tepat. Ritmenya terasa seperti seseorang yang berbicara langsung ke telinga, bukan ke kerumunan.

Ibuse Masuji, mentor Dazai, pernah menulis bahwa Dazai adalah "penulis yang terlalu cerdas untuk hidupnya sendiri." Kecerdasan itu terlihat jelas dalam cara Dazai menganalisis dirinya sendiri dalam karya-karyanya: bukan dengan meratap, melainkan dengan ironi yang sangat dingin terhadap dirinya sendiri.

Karya-Karya Penting Dazai Osamu

Bunga Pelawak (Doke no Hana, 1935) adalah karya yang memicu pertengkaran dengan Kawabata. Novelet semi-autobiografis yang menampilkan tokoh "aku" yang tidak bisa berdiri tegak di antara realitas dan cita-cita seninya.

Shayo (Matahari Terbenam, 1947): novel yang mengikuti keluarga bangsawan yang jatuh setelah Perang Dunia II. Banyak dianggap sebagai alegori keruntuhan kelas atas Jepang pasca-perang.

Ningen Shikkaku (Tidak Layak Menjadi Manusia, 1948): novel terakhirnya, ditulis bersamaan dengan rencana bunuh dirinya yang terakhir. Kisah seorang pria yang tidak pernah merasa mampu hidup di antara manusia lain. Ini adalah karya Dazai yang paling banyak dibaca di seluruh dunia hingga hari ini.

Untuk Kawabata Yasunari (1935): surat terbuka yang mengadu kecerdasan, mengurai penyakit, dan menuntut kejujuran dari dunia sastra yang menurutnya terlalu suka berpura-pura.

Pengaruh Dostoevsky

Tidak bisa membicarakan Dazai tanpa Dostoevsky. Pada 1935, Dazai membaca esai Andre Gide tentang Dostoevsky dan mengubah Bunga Pelawak secara mendasar setelah itu. Bagi Dazai, Dostoevsky adalah bukti bahwa penderitaan manusia bukan tema yang harus diperhalus. Justru sebaliknya: semakin langsung, semakin teliti, semakin jujur, semakin sastra itu berharga.

Gaya pengakuan diri Dazai, yang tampak jelas dalam Untuk Kawabata Yasunari, adalah versi Dostoevsky dalam konteks Jepang era Showa: seorang pria yang mengurai dirinya di depan publik bukan untuk mendapat simpati, melainkan untuk menemukan sesuatu yang benar di balik semua kebohongan yang sopan.

Tahun-Tahun Terakhir dan Kematian

Setelah Perang Dunia II, Dazai mengalami kebangkitan produktivitas yang luar biasa. Dalam tiga tahun, 1945 hingga 1948, ia menulis sejumlah karya terbaiknya. Namun kondisi fisik dan mentalnya terus memburuk.

Pada 13 Juni 1948, enam hari sebelum ulang tahunnya yang ke-39, Dazai ditemukan tenggelam bersama seorang wanita di Sungai Tamagawa di Tokyo. Ini adalah percobaan bunuh diri keempatnya, dan yang terakhir.

Ia meninggalkan di mejanya manuskrip Ningen Shikkaku yang hampir selesai.

Warisan Dazai

Dazai bukan penulis yang dihormati semasa hidupnya dengan cara yang tenang. Ia terlalu kontroversial, terlalu suka menabrak norma, terlalu jujur tentang hal-hal yang lebih nyaman disembunyikan. Namun setelah kematiannya, karya-karyanya, terutama Ningen Shikkaku, menjadi salah satu yang paling banyak dibaca di Jepang, generasi demi generasi.

Di Indonesia, Dazai mulai bisa dibaca dalam bahasa Indonesia melalui Pagera. Untuk Kawabata Yasunari adalah pintu masuk yang baik: pendek, langsung, dan memperlihatkan Dazai dalam momen yang paling telanjang dan paling marah.

Untuk lebih memahami konteks sastra Jepang era yang sama, tersedia juga Senja di Kyoto karya Natsume Soseki dan Kisah Air Mancur karya Okamoto Kanoko di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Dazai Osamu di Wikipedia Indonesia dan tentang karya-karyanya di Wikipedia Inggris.

Baca Untuk Kawabata Yasunari di Pagera, gratis, teks lengkap dalam bahasa Indonesia.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera