Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

Penulis Dia: Ryūnosuke Akutagawa, Bapak Cerpen Modern Jepang

Ryūnosuke Akutagawa (1892~1927), sastrawan Periode Taishō, pencipta Rashōmon dan Sennin. Cerpen Dia tahun 1927 adalah salah satu karya otobiografis terakhirnya sebelum bunuh diri pada usia 35 tahun.

Pagera Editorial

Ryūnosuke Akutagawa lahir di Tokyo pada 1 Maret 1892. Nama lengkapnya — yang penuh teka-teki bahkan bagi orang Jepang sendiri — diberikan oleh ibunya yang mengalami gangguan jiwa tak lama setelah melahirkan. Sang ayah, seorang pedagang susu di distrik Tsukiji, menyerahkan bayi itu kepada saudara perempuan istrinya. Sejak itu Akutagawa kecil dibesarkan oleh keluarga Akutagawa di Honjō, sebuah keluarga samurai tua yang gemar literatur klasik. Detail inilah yang muncul kembali dalam cerpen Dia Akutagawa cerpen: tokoh Dia juga tinggal di rumah Paman karena tidak memiliki orang tua, sebuah bayangan langsung dari masa kecil sang penulis sendiri.

Masa Muda di Honjō dan Ikkō

Akutagawa bersekolah di SMP Ketiga di Honjō, kemudian masuk Sekolah Tinggi Pertama Tokyo (Ikkō) — sekolah elit yang sama yang muncul dalam Dia. Di Ikkō, ia berteman akrab dengan beberapa pemuda yang kelak menjadi tokoh sastra dan akademik, termasuk Tsuneto Kyō, Hisaichi Naoto, dan Yamamoto Kiyoshi. Persahabatan-persahabatan inilah yang menjadi bahan baku banyak karya otobiografisnya, termasuk Dia.

Pada 1913, Akutagawa masuk Universitas Kekaisaran Tokyo, jurusan sastra Inggris. Ia membaca dengan rakus: Yeats, Poe, Anatole France, Strindberg, Dostoevsky, dan tentu saja Verlaine, Rimbaud, Baudelaire yang muncul sebagai "berhala melampaui berhala" dalam cerpen Dia.

Debut yang Gemilang: Rashōmon dan Hidung

Cerpen pertama Akutagawa yang diterbitkan di majalah komersial adalah Rashōmon pada 1915 — sebuah cerpen pendek yang mengambil bahan dari kumpulan kisah klasik Konjaku Monogatari abad ke-12. Setahun kemudian, ia menulis Hidung (Hana), yang langsung dipuji oleh Natsume Sōseki, sastrawan terbesar Periode Meiji. Pujian dari Sōseki itu membuat nama Akutagawa muda terkenal seketika di dunia sastra Jepang.

Selama dekade berikutnya, Akutagawa menerbitkan puluhan cerpen pendek yang menjadi tonggak cerpen modern Jepang: Yam Gruel, Hell Screen, Spider's Thread, Sennin, In a Grove. Karya-karya ini menampilkan ciri khasnya: presisi psikologis yang dingin, ironi yang tajam, dan struktur naratif yang inovatif. In a Grove (Yabu no Naka) kelak diadaptasi oleh Akira Kurosawa menjadi film Rashōmon tahun 1950 yang memenangkan Singa Emas di Venesia.

Era Otobiografis: Saat Sastra Bertemu Hidup

Pada pertengahan 1920-an, gaya Akutagawa mulai berubah. Karya-karya awalnya yang berdasarkan kisah klasik atau dongeng (kategori yang ia sebut sendiri sebagai "ōchō-mono" — cerita era istana) digantikan oleh cerpen-cerpen otobiografis yang lebih jujur dan suram. Periode ini menghasilkan karya seperti Daidōji Shinsuke no Hansei, Aru Ahō no Isshō (Seumur Hidup Seorang Tolol), dan tentu saja Dia.

Cerpen Dia ditulis pada 13 November 1926, sebagaimana tercantum di akhir cerita itu sendiri: "(13 November Taishō 15 / 1926)." Akutagawa menyelesaikannya hanya sembilan bulan sebelum kematiannya. Karya ini ditulis dalam gaya monolog batin yang tenang — narator "aku" mengenang sahabat lamanya yang telah meninggal karena tuberkulosis ginjal, sebuah penyakit yang menjadi simbol kerapuhan generasi muda Taishō.

Akhir yang Diramalkan: Juli 1927

Pada subuh 24 Juli 1927, Akutagawa Ryūnosuke menelan veronal dosis besar di rumahnya di Tokyo. Ia meninggal dunia pada usia tiga puluh lima tahun. Catatan bunuh dirinya, yang ditujukan kepada sahabatnya Kume Masao, berisi kalimat yang menjadi terkenal: "rasa cemas yang samar-samar tentang masa depan" (bonyari shita fuan).

Kematian Akutagawa mengguncang dunia sastra Jepang. Pada 1935, sahabatnya Kikuchi Kan mendirikan Hadiah Akutagawa (Akutagawa Shō) untuk menghormati ingatannya. Hadiah ini hingga hari ini adalah salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang — diberikan dua kali setahun kepada penulis cerpen muda yang menjanjikan. Dazai Osamu pernah dinominasikan untuk hadiah perdana 1935, sebuah peristiwa yang dicatat secara dramatis dalam cerpen Untuk Kawabata Yasunari.

Tema dan Gaya: Apa yang Membuat Akutagawa Unik

Akutagawa terkenal akan tiga kualitas utama: presisi psikologis, kepekaan terhadap detail material, dan teknik naratif inovatif. Dalam Dia, ketiga kualitas ini hadir dalam bentuk yang sangat tenang. Tidak ada ironi tajam seperti dalam Rashōmon, tidak ada permainan sudut pandang seperti dalam In a Grove. Hanya kenangan yang sangat presisi: lampu minyak gantung yang melemparkan satu lingkaran bayangan, kencing berdarah yang berkilauan di tempayan, pasir pantai yang masih hangat di antara rumput Kōbō-mugi.

Akutagawa juga dikenal dengan kemampuannya menampilkan dialog yang realistis. Dalam Dia, percakapan antara aku, Dia, K, dan adik perempuan Dia masing-masing punya register bahasa yang berbeda — sesuatu yang sulit ditangkap dalam terjemahan tetapi dipertahankan dengan teliti oleh tim penerjemah Pagera melalui pilihan akhiran "-ya", "-deh", dan "-Kak".

Karya Akutagawa Lainnya di Pagera

Pembaca yang ingin mengeksplorasi lebih jauh dunia Akutagawa dapat membaca beberapa karya pendek lainnya yang sudah tersedia di Pagera dalam bahasa Indonesia. Sennin adalah cerpen dongeng pendek yang menampilkan ironi khas Akutagawa, dan menjadi pintu masuk yang menyenangkan ke karyanya yang awal sebelum era otobiografis dimulai.

Pelajari lebih lanjut tentang Akutagawa di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di halaman Aozora Bunko Akutagawa.

Baca Dia karya Ryūnosuke Akutagawa di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera