Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Arthur Conan Doyle: Dokter Skotlandia yang Menciptakan Sherlock Holmes
Sebelum menjadi penulis paling terkenal di dunia, Arthur Conan Doyle (1859-1930) adalah seorang dokter umum yang miskin di Southsea, menghabiskan jam-jam kosong di praktiknya untuk menulis cerita pendek. Inspirasi Sherlock Holmes datang langsung dari guru kedokterannya di Edinburgh, Dr. Joseph Bell,
Pagera Editorial
Pada musim dingin 1881, seorang pemuda berusia 22 tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Edinburgh dengan gelar Bachelor of Medicine dan Master in Surgery. Ia berasal dari keluarga Skotlandia-Irlandia Katolik yang miskin, ayahnya seorang seniman yang alkoholik dan menderita epilepsi, dan biaya kuliahnya hanya bisa ditanggung berkat beasiswa dan keras kepala ibunya yang menyewakan kamar untuk membayar tagihan. Nama pemuda itu adalah Arthur Conan Doyle, dan dalam waktu enam tahun ia akan menciptakan tokoh detektif paling terkenal dalam sejarah sastra.
Dr. Joseph Bell: Sherlock Holmes Sebelum Sherlock Holmes
Sebagai mahasiswa kedokteran, Doyle ditunjuk sebagai sekretaris klinik untuk Dr. Joseph Bell, seorang ahli bedah di Royal Infirmary Edinburgh. Bell memiliki kebiasaan yang menggemparkan mahasiswanya: ia dapat menebak pekerjaan, asal daerah, bahkan riwayat perjalanan pasien hanya dari pengamatan beberapa detik. Seorang lelaki masuk, Bell akan berkata: "Anda baru saja kembali dari Bermuda, ya? Bekas pelaut. Anda sudah berhenti merokok pipa di tangan kanan beberapa bulan lalu karena masalah lutut." Dan ia benar.
Bell mengajarkan satu prinsip kepada mahasiswa kedokteran: amati, lalu deduksikan. Bedakan apa yang Anda lihat dari apa yang Anda asumsikan. Setiap fakta kecil, ujung lengan baju yang sedikit terbakar, kekerasan di telapak tangan yang spesifik, kuku jari yang dipotong dengan cara tertentu, semua adalah bukti yang bisa membentuk satu kesimpulan logis. Bertahun-tahun kemudian, Doyle mengakui dalam autobiografinya: "Sherlock Holmes adalah Dr. Joseph Bell, dimuliakan dan diintensifkan."
Southsea, Kantor Sepi, dan Kelahiran Sherlock
Setelah lulus, Doyle membuka praktik di Southsea, dekat Portsmouth, pada 1882. Praktik itu sepi. Pada bulan-bulan pertama, ia mencatat penghasilan hanya sekitar £10 sebulan, di bawah upah pelayan keluarga kaya. Untuk mengisi jam-jam kosong di antara pasien yang langka, ia mulai menulis cerita pendek.
Pada 1886, ia menulis novella berjudul A Study in Scarlet, memperkenalkan seorang detektif yang awalnya hendak ia namakan Sherrinford Holmes. Naskah itu ditolak oleh beberapa penerbit sampai akhirnya diterima oleh Beeton's Christmas Annual tahun 1887 dengan bayaran flat £25, tanpa royalti. Doyle tidak memiliki hak cipta selama bertahun-tahun. Tetapi tokoh Holmes, dengan asistennya Dr. Watson, sudah lahir.
The Strand Magazine dan Ledakan Popularitas
Yang mengubah segalanya adalah The Strand Magazine, majalah bulanan yang baru saja didirikan pada 1891 oleh George Newnes. Editornya, H. Greenhough Smith, segera mengenali bahwa cerita pendek detektif Doyle akan menjadi format ideal untuk pembaca kelas menengah Inggris yang naik kereta ke kantor setiap pagi.
Doyle menulis enam cerita Holmes pertama, dimuat di Strand antara Juli 1891 hingga Juli 1892. Setiap edisi habis dalam beberapa hari, dan pembaca antri di kios koran London. Doyle, untuk pertama kalinya, kaya. Tetapi ia juga, mulai sejak tahun ke-2, mulai merasa terjebak.
"Aku Akan Membunuhnya": Reichenbach 1893
Pada Desember 1893, Doyle menulis cerita berjudul The Final Problem, di mana Sherlock Holmes dan Profesor Moriarty bergulat di tepi Air Terjun Reichenbach, Swiss, dan keduanya jatuh ke jurang. Holmes "mati". Pembaca Inggris bereaksi seakan kematian itu adalah kematian sahabat sungguhan. Jaman itu, 20.000 pelanggan The Strand membatalkan langganan dalam protes. Pemuda di City of London memakai pita hitam di lengan baju.
Doyle tidak peduli. "Saya tidak perlu Sherlock Holmes," tulisnya kepada ibunya. "Saya bisa menulis novel sejarah yang jauh lebih penting." Dan memang ia menulis: The White Company, Sir Nigel, novel-novel sejarah yang ia anggap karya nyata sastranya. Tetapi pembaca Inggris dan Amerika terus menulis kepadanya, terkadang dengan kemarahan yang lucu, terkadang dengan kesedihan tulus, sepanjang sepuluh tahun berikutnya.
Kebangkitan: The Hound of the Baskervilles dan The Empty House
Pada 1901, sepuluh tahun setelah cerita Holmes pertama, Doyle akhirnya menyerah sebagian. Ia menerbitkan The Hound of the Baskervilles, sebuah novel Holmes panjang yang setting waktunya sebelum Reichenbach. Tidak menghidupkan Holmes, hanya memberinya petualangan terlewat. Penjualan menggila.
Lalu pada Oktober 1903, di cerita berjudul The Empty House, Doyle menyerah total. Holmes tidak benar-benar mati di Reichenbach. Ia, menggunakan teknik bela diri Jepang yang disebut baritsu, berhasil melepaskan diri dari pegangan Moriarty di tepi jurang, dan menghabiskan tiga tahun terakhir berkeliling Tibet, Mecca, dan Khartoum di bawah samaran. Pembaca senang. Doyle menyerah pada faktanya bahwa Holmes akan selalu lebih besar daripada penciptanya.
The Adventure of the Dying Detective (1913) dan His Last Bow
Pada masa The Adventure of the Dying Detective ditulis pada 1913, Doyle sudah berdamai dengan Sherlock Holmes. Ia menulis cerita-cerita Holmes seperti orang yang menulis tentang sahabat lama yang sesekali datang berkunjung. Kualitas cerita dari koleksi His Last Bow (1917) sering dianggap lebih matang, lebih psikologis, daripada Adventures atau Memoirs awal. Doyle sudah tidak terburu-buru memberi kejutan, ia kini menikmati menggali karakter.
The Adventure of the Dying Detective, dalam pandangan kritikus, adalah salah satu cerita Holmes yang paling teknis berani: Doyle membiarkan pembaca selama empat puluh halaman penuh percaya bahwa Holmes benar-benar sekarat. Tidak ada hint, tidak ada wink. Hanya pada halaman terakhir, ketika Holmes meminta korek api dan rokok dengan suara alami, pembaca menyadari bahwa seluruh penyakit, kerak hitam di bibir, kekurusan, igauan tentang tiram, dan ketidakpercayaan terhadap Watson, adalah sandiwara teatrikal yang dipertahankan selama tiga hari penuh, dengan pengorbanan tubuh yang nyata: kelaparan tiga hari.
Spiritualisme, Perang Dunia I, dan Akhir Hidup
Sepuluh tahun terakhir hidup Doyle bukan lagi tentang Sherlock Holmes. Setelah putranya Kingsley meninggal akibat pneumonia tahun 1918 (komplikasi luka Perang Somme) dan saudaranya Innes meninggal di tahun yang sama, Doyle mendalami spiritualisme. Ia menjadi salah satu juru bicara paling vokal gerakan tersebut, menulis buku-buku tentang medium, foto roh, dan komunikasi dengan yang sudah meninggal. Sahabatnya, ilusionis Harry Houdini, justru menjadi pengkritik keras klaim-klaim spiritualis Doyle. Persahabatan keduanya akhirnya retak.
Doyle meninggal di rumahnya di Crowborough, East Sussex, pada 7 Juli 1930, di usia 71 tahun, akibat serangan jantung. Kata-kata terakhirnya, menurut keluarga, ditujukan kepada istrinya: "You are wonderful."
Bagi yang ingin menyelami lebih jauh karya Doyle, Pagera menyediakan beberapa karya lain Conan Doyle dalam berbagai bahasa.
Pelajari lebih lanjut tentang Arthur Conan Doyle di Wikipedia Indonesia dan baca tulisan-tulisannya yang lain di Project Gutenberg.
Baca Petualangan Detektif yang Sekarat karya Arthur Conan Doyle di Pagera, cerita lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.