Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Nathaniel Hawthorne dan Paman Desa – Hidup, Karya, dan Lamunan Penyendiri
Mengenal Nathaniel Hawthorne (1804-1864), penulis Amerika dari Salem yang menciptakan Paman Desa pada 1835: alegori melankoli tentang penyendiri yang merajut keluarga khayalan di malam Thanksgiving.
Pagera Editorial
Nathaniel Hawthorne (1804-1864) adalah salah satu suara paling khas sastra Amerika abad ke-19. Lahir di Salem, Massachusetts, di kota yang sama yang dua abad sebelumnya melaksanakan pengadilan sihir terkenal, Hawthorne menghabiskan sebagian besar masa mudanya dalam keadaan setengah-pertapa — sebelum kemudian menjadi penulis yang dikagumi oleh Herman Melville, Henry James, dan bahkan T.S. Eliot.
Salem, Bowdoin, dan Tahun-Tahun Solitary Years
Hawthorne lahir di Salem pada 4 Juli 1804. Ayahnya, seorang kapten kapal, meninggal karena demam kuning di Suriname saat Nathaniel masih berusia empat tahun. Setelah itu, ibunya tinggal bersama keluarga Manning, dan Hawthorne dibesarkan dalam lingkungan yang dipengaruhi rasa kehilangan dan introvert.
Pada 1821, ia masuk Bowdoin College di Maine, tempat ia berteman dengan Henry Wadsworth Longfellow (calon penyair terkenal) dan Franklin Pierce (calon presiden Amerika ke-14). Setelah lulus pada 1825, Hawthorne kembali ke Salem dan memulai apa yang sering disebut sebagai "solitary years" — sekitar 12 tahun di mana ia tinggal di kamar atap rumah ibunya, membaca, berjalan-jalan sendiri di pantai, dan menulis tanpa pengakuan publik.
Inilah masa yang sangat menentukan untuk pemahaman The Village Uncle. Ketika narator menulis tentang "seorang pertapa di dalam lubuk pikirannya sendiri; kadang menguap di atas buku-buku yang mengantukkan, dan kadang menggoreskan sampah yang lebih melelahkan daripada yang kubaca," Hawthorne secara langsung mendeskripsikan dirinya sendiri di Salem tahun 1820-an dan 1830-an.
Twice-Told Tales (1837): Debut Resmi
Banyak cerpen Hawthorne dari masa solitary terbit di majalah literer seperti The Token dan The New-England Magazine, tetapi sering tanpa nama pengarang. Pada 1837, Horatio Bridge — teman dari Bowdoin — menanggung biaya percetakan buku pertama Hawthorne tanpa memberi tahu sang pengarang. Demikianlah Twice-Told Tales terbit, kumpulan 18 cerpen termasuk The Minister's Black Veil, Wakefield, dan The Village Uncle.
Buku ini segera dikenali sebagai sesuatu yang baru di sastra Amerika. Edgar Allan Poe menulis ulasan panjang yang memuji penguasaan Hawthorne atas bentuk cerpen pendek. Henry Wadsworth Longfellow, kini profesor sastra di Harvard, juga memberi pujian publik. Edisi diperluas Twice-Told Tales terbit pada 1842, kemudian disusul Mosses from an Old Manse (1846) dan kumpulan-kumpulan lain.
Dalam konteks ini, The Village Uncle berdiri sebagai cerpen unik. Sementara banyak karya Hawthorne lain berfokus pada warisan dosa Puritan New England, The Village Uncle adalah lamunan personal yang lembut — bisa dibaca sebagai semacam fantasi pribadi sang penulis tentang "hidup yang seharusnya" jika ia memilih kerja kasar dan kebersamaan keluarga ketimbang isolasi sastrawan.
Pernikahan, Brook Farm, dan Karya-Karya Besar
Pada 1842, Hawthorne menikahi Sophia Peabody — pelukis dan intelektual transendental dari Salem. Mereka pindah ke Old Manse di Concord, Massachusetts, rumah yang sebelumnya ditempati keluarga Ralph Waldo Emerson. Di sana lahirlah cerpen-cerpen Mosses from an Old Manse.
Hawthorne sempat hidup di komune utopia Brook Farm pada 1841 — pengalaman yang kelak menjadi dasar The Blithedale Romance (1852). Karyanya yang paling terkenal, The Scarlet Letter (1850), terbit ketika Hawthorne berusia 46 tahun, dan disusul The House of the Seven Gables (1851) — yang berlatar di Salem masa kanak-kanaknya — serta The Marble Faun (1860).
Pada 1853, ketika Franklin Pierce terpilih sebagai presiden, Hawthorne ditunjuk sebagai konsul Amerika di Liverpool, Inggris. Tahun-tahun di Eropa (1853-1860) sangat memengaruhi The Marble Faun yang berlatar Roma. Hawthorne meninggal pada 19 Mei 1864 dalam tidur, saat sedang bepergian dengan Pierce di New Hampshire.
Tema Berulang: Dosa, Khayalan, dan Wajah di Cermin
Setelah lebih dari satu setengah abad, kritikus sastra masih memetakan tema-tema yang muncul berulang kali di karya Hawthorne. Pertama, warisan dosa — bukan dosa pribadi, melainkan dosa yang diwariskan dari generasi ke generasi (paling jelas dalam The Scarlet Letter dan The House of the Seven Gables).
Kedua, khayalan vs kenyataan, sebuah ketegangan yang menjadi tulang punggung The Village Uncle. Hawthorne selalu sadar bahwa imajinasi seorang penulis dapat menciptakan dunia yang lebih kaya daripada dunia nyata, tetapi ia juga selalu memperingatkan bahaya kehilangan diri dalam khayalan tersebut. Pada akhir The Village Uncle, narator menyamakan dirinya dengan "seorang tukang sihir [yang] akan duduk dalam kemuraman dan ketakutan, setelah memulangkan bayang-bayang yang menyamar sebagai orang mati atau orang jauh." Pengarang adalah penyihir yang harus menanggung kesepiannya sendiri.
Ketiga, wajah di cermin sebagai simbol identitas yang rapuh. Di hampir setiap cerpen Hawthorne, ada momen ketika tokoh melihat dirinya sendiri di cermin dan tidak sepenuhnya mengenali. Dalam The Village Uncle, motif ini muncul empat kali, dan setiap kali menjadi pengingat bahwa khayalan yang manis sedang mulai memudar.
Mengapa Membaca Hawthorne di Era Sekarang?
Pada era ketika hiburan digital sangat berlimpah, Hawthorne kembali terasa segar karena alasan yang tidak terduga: ia adalah salah satu penulis pertama yang memahami sepenuhnya bagaimana khayalan bisa menjadi pengganti hidup yang berbahaya. Saat narator Paman Desa menarik moralnya dari lamunan satu malam — bahwa khayalan tidak bisa melindungi kita dari kenyataan, dan bahwa hanya kerja jujur yang membawa damai — kita mendengar Hawthorne berbicara langsung kepada pembaca abad ke-21 yang menghabiskan jam-jam di layar.
Selain The Village Uncle, kami merekomendasikan tiga karya Hawthorne lain yang tersedia di Pagera dalam bahasa Indonesia: Pencarian Bunga Lili (alegori 1837), Pedagang Apel Tua (sketsa karakter 1842), dan Aliran dari Pompa Kota (monolog satirikal 1835).
Mulai baca Paman Desa karya Nathaniel Hawthorne di Pagera — gratis, dalam bahasa Indonesia, sastra dunia public domain.
Referensi lanjutan: Nathaniel Hawthorne (Wikipedia) · Karya Hawthorne di Project Gutenberg
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.