Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 6 mnt

An Jung-geun (1879-1910): Penembak Ito Hirobumi yang Menjadi Filsuf Perdamaian Asia Timur

Profil lengkap An Jung-geun (안중근), aktivis kemerdekaan Korea dan filsuf perdamaian Asia Timur. Insiden Harbin 26 Oktober 1909, Penjara Lushun, eksekusi 26 Maret 1910.

Pagera Editorial

An Jung-geun (안중근, 1879~1910): Penembak Ito Hirobumi yang Menjadi Filsuf Perdamaian Asia Timur

Nama: An Jung-geun (안중근, 安重根) Nama Baptis Katolik: Thomas (토마스) Lahir: 2 September 1879, Provinsi Hwanghae, Kerajaan Joseon, Korea Wafat: 26 Maret 1910 (dieksekusi gantung), Penjara Lushun, Manchuria Usia saat wafat: 30 tahun Profesi: Aktivis kemerdekaan Korea, kepala milisi independen, filsuf politik, kaligrafer

Mengapa An Jung-geun Penting?

Pada tanggal 26 Oktober 1909, di peron Stasiun Harbin (Manchuria, kini Tiongkok), seorang pria Korea berusia 30 tahun mengeluarkan pistol Browning M1900 dari sakunya dan menembak Ito Hirobumi — Residen-Jenderal Jepang pertama di Korea, mantan Perdana Menteri Jepang empat kali, dan arsitek utama penjajahan Jepang atas Korea. Ito Hirobumi tewas di tempat. Pria Korea itu adalah An Jung-geun.

Apa yang membedakan An Jung-geun dari sekadar "pembunuh politik" atau "teroris nasionalis" adalah: ia menulis sebuah risalah filsafat perdamaian Asia Timur (동양평화론, Dongyang Pyeonghwa Ron) di penjara Lushun, dalam menghadapi eksekusi, untuk menjelaskan secara filosofis mengapa ia menembak Ito Hirobumi. Risalah ini, meskipun belum selesai, menjadi salah satu dokumen pemikiran politik Asia Timur paling penting di awal abad ke-20.

Tujuh Tahap Kehidupan

1. 1879-1894: Masa Kecil Bangsawan di Hwanghae

An Jung-geun lahir di Haeju, Provinsi Hwanghae (sekarang Korea Utara), dari keluarga yangban (bangsawan) yang sudah mulai turun status. Ayahnya An Tae-hun adalah seorang sarjana Konfusianisme. An Jung-geun belajar klasik Tionghoa, anak panah, dan menunggang kuda sejak kecil. Ia dikenal sebagai pemuda yang gagah dan cerdas.

2. 1894-1905: Konversi ke Katolik dan Aktivisme Awal

Pada usia 16, An Jung-geun dibaptis sebagai Katolik dengan nama Thomas — keluarganya bergabung dengan misi Katolik Prancis di Haeju. Ia menjadi seorang kateket (pengajar awam Katolik) dan mendirikan dua sekolah modern di Korea: Donui Hakgyo (1906) dan Samheung Hakgyo (1907).

Pada 1905, Perjanjian Eulsa menjadikan Korea protektorat Jepang. An Jung-geun, yang awalnya berharap Jepang akan membantu reformasi Korea (seperti yang dijanjikan Kaisar Jepang dalam deklarasi Perang Rusia-Jepang 1904), kecewa total.

3. 1907-1909: Eksil ke Manchuria dan Pembentukan Milisi

Setelah penindasan Jepang di Korea semakin intens, An Jung-geun eksil ke Vladivostok (Rusia) dan kemudian Manchuria. Di sana ia membentuk milisi kemerdekaan Korea dan menjadi komandan tingkat menengah. Pada Maret 1909, di desa Yanchikha (Manchuria), An Jung-geun dan 11 rekannya membentuk Donguihoe (동의회, 同義會) — "Perkumpulan Sehati untuk Kebenaran" — dan memotong jari manis kiri masing-masing sebagai sumpah darah untuk membunuh Ito Hirobumi atau melakukan tindakan kemerdekaan ekstrem lainnya.

4. 26 Oktober 1909: Insiden Harbin

An Jung-geun mengetahui bahwa Ito Hirobumi akan mengunjungi Harbin untuk berunding dengan Menteri Keuangan Rusia, Vladimir Kokovtsov. Ia memutuskan ini adalah kesempatan terakhirnya. Pada pagi tanggal 26 Oktober 1909, di peron Stasiun Harbin, Ito Hirobumi turun dari kereta sekitar pukul 09:00. An Jung-geun, menyamar sebagai penumpang biasa, menembak Ito Hirobumi tiga kali dengan pistol Browning M1900. Ito Hirobumi tewas 20 menit kemudian.

An Jung-geun tidak melarikan diri. Ia berdiri tegak, melambaikan bendera Korea, dan berteriak dalam bahasa Rusia: "Korea, Hura!" (대한 만세, Daehan Manse) sebanyak tiga kali. Ia kemudian menyerahkan diri tanpa perlawanan.

5. November 1909 - Februari 1910: Penjara Lushun dan Pengadilan

An Jung-geun dipindahkan ke Penjara Lushun (旅順) — sebuah pelabuhan militer yang dikuasai Jepang di Manchuria selatan. Selama lima bulan persidangan dan pemenjaraan, ia mengejutkan dunia dengan:

  • Menolak pengacara Jepang yang ditawarkan, hanya mau didampingi pengacara Korea (Ahn Byeong-chan).
  • Memberikan kesaksian filosofis-politik yang luar biasa terstruktur. Ia mendaftar 15 kejahatan Ito Hirobumi dengan rinci.
  • Menulis kaligrafi-kaligrafi indah di sel — banyak di antaranya menjadi Harta Karun Nasional Korea Selatan hari ini ("일일부독서 구중생형극" — "Sehari tidak membaca buku, durinya tumbuh di mulut").

6. Februari-Maret 1910: Penulisan Dongyang Pyeonghwa Ron

Mengetahui ia akan dieksekusi, An Jung-geun mulai menulis Dongyang Pyeonghwa Ron (동양평화론) dalam bahasa Tionghoa Klasik. Ia merencanakan lima bab tetapi hanya berhasil menyelesaikan dua bab pertama (Seomun dan Jeongam) sebelum eksekusi tiba.

7. 26 Maret 1910: Eksekusi

Pada pagi 26 Maret 1910 pukul 10:00, An Jung-geun dieksekusi gantung di Penjara Lushun. Ia mengenakan hanbok putih (pakaian tradisional Korea) yang dijahit ibunya, dan rosario Katolik kayu di lehernya. Permintaan terakhirnya: jenazahnya dimakamkan di Korea merdeka. Permintaan ini belum dipenuhi — makamnya hingga hari ini tidak diketahui pasti (kemungkinan besar dibuang massal oleh Jepang).

Ibunya, Jo Maria, mengirim hanbok putih untuk eksekusi dengan pesan terkenal: "Tegaklah seperti seorang Korea, mati seperti seorang Katolik" — sebuah pesan yang menjadi salah satu kalimat ibu paling terkenal dalam sejarah Korea modern.

Lima Inti Pemikiran An Jung-geun

1. Pan-Asianisme Setara (Tongseo Hapdong, 東西合同)

An Jung-geun bukan anti-Jepang. Ia adalah pro-Asia. Ia membayangkan aliansi setara Korea-Tiongkok-Jepang untuk melawan imperialisme Eropa.

2. Diagnosis Pengkhianatan Jepang

Jepang mengkhianati janjinya pada Perang Rusia-Jepang 1904 ("mempertahankan kemerdekaan Korea"). Karena itu Jepang bukan lagi sekutu, melainkan pengkhianat Asia Timur.

3. Imperialisme Eropa sebagai Musuh Bersama

"Bangsa Eropa selama beberapa ratus tahun melupakan moral, dan setiap hari menjadikan kekuatan militer sebagai pekerjaan mereka, mengembangkan persaingan tanpa rasa hormat." (c1-p005)

4. Aksi Bersenjata sebagai "Perang Suci" (Uijun, 義戰)

Penembakan Ito Hirobumi bukan teror. Itu adalah uijun (perang yang adil) untuk menyelamatkan perdamaian Asia Timur dari pengkhianat.

5. Katolik Universal dengan Identitas Korea

An Jung-geun adalah Katolik taat, tetapi visi politiknya bukan Eropa-sentris. Ia memformulasikan Katolisisme Asia Timur — iman universal yang bersamaan dengan pembebasan kolonial Asia.

Posisi An Jung-geun dalam Pemikiran Kemerdekaan Korea

Tiga Garis Pemikiran Kemerdekaan Korea (Definisi Pagera Baru):

  1. An Chang-ho (안창호, 1878-1938) — Reformasi karakter bangsa (Minjok Gaejo, 민족개조)
  2. Park Eun-sik (박은식, 1859-1925) — Reformasi Konfusianisme (Yugyo Gusin, 유교구신)
  3. Shin Chae-ho (신채호, 1880-1936) — Revolusi nasional (Joseon Hyeokmyeong Seoneon, 조선혁명선언)

Di antara tiga garis ini, An Jung-geun berada di garis ke-4 yang lebih awal: Pan-Asianisme militan-filosofis. Ia adalah akar awal dari pemikiran perdamaian Asia Timur, sebelum garis 1-3 mengkristal.

Karya An Jung-geun yang Dikenal

  1. Dongyang Pyeonghwa Ron (동양평화론) — Risalah perdamaian Asia Timur, 1910, belum selesai
  2. An Eung-chil Ryeokssa (안응칠 역사) — Otobiografi, 1910 (ditulis di Lushun)
  3. 15 Kejahatan Ito Hirobumi — Daftar sistematis dalam kesaksian persidangan
  4. Kaligrafi Lushun — Sekitar 200 lembar kaligrafi Hanja, 26 di antaranya adalah Harta Karun Nasional Korea

Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia

An Jung-geun adalah seorang Katolik yang berjuang melawan penjajahan dengan tindakan bersenjata. Pembaca Muslim perlu mencatat:

  • Tindakan An Jung-geun terjadi dalam konteks penjajahan kolonial ekstrem. Korea pada 1909 adalah negara yang kehilangan kedaulatan dan rakyatnya dibantai. Islam mengakui hak melawan ketidakadilan ekstrem (QS An-Nisa 4:75: "Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang lemah?").
  • Namun Islam juga mengajarkan adab perlawanan (QS Al-Maidah 5:32, QS Al-Baqarah 2:190 "Janganlah kamu melampaui batas"). Pembaca dianjurkan menilai tindakan An Jung-geun dalam konteks historisnya — tidak meniru begitu saja.
  • Yang paling penting dari An Jung-geun adalah visi perdamaian Asia Timur, bukan tindakan kekerasannya. Visi ini selaras dengan konsep Islam tentang shulh (perdamaian) dan ummah (komunitas universal).

An Jung-geun meninggal dengan rosario Katolik di leher dan hanbok putih yang dijahit ibunya. Bagi pembaca Muslim, ini mengingatkan pada konsep husnul khatimah (akhir yang baik) — meskipun teologi kita berbeda, sikap tenang menghadapi kematian dan tetap teguh pada keyakinan adalah hal yang dihormati dalam semua tradisi.


Baca karya lengkap: Dongyang Pyeonghwa Ron — An Jung-geun (Pagera)

Karya Pagera Korea sejaman:

  • Shin Chae-ho — Yong-gwa Yong-ui Daegyeokjeon (1928)
  • Park Eun-sik — (dijadwalkan)
  • An Chang-ho — (dijadwalkan)

Tema: Aktivis kemerdekaan Korea · Pan-Asianisme · Katolik Asia · Filsuf perdamaian Era: Korea kolonial akhir Joseon (1879-1910)

Kembali ke Pagera