Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Siapa Edogawa Ranpo? Bapak Fiksi Misteri Jepang Modern

Edogawa Ranpo (江戸川乱歩, 1894-1965, nama asli Hirai Taro) adalah bapak fiksi misteri, detektif, dan grotesk Jepang modern. Nama pena adalah transliterasi fonetik Edgar Allan Poe. Karya-karya seperti 'Detektif Akechi Kogoro', 'Manusia Berkaca Dua Puluh Wajah', dan eksperimen ero-guro seperti 'Kanal di M

Pagera Editorial

Edogawa Ranpo penulis misteri Jepang Taisho Showa adalah salah satu nama paling ikonik dalam sejarah sastra populer Jepang. Sebelum ia, fiksi misteri Jepang hanyalah terjemahan dari Barat. Setelah ia, Jepang memiliki genre detektif domestik yang khas, dengan tokoh ikonik Detektif Akechi Kogoro dan musuh bebuyutannya Manusia Berkaca Dua Puluh Wajah. Tetapi sisi yang jarang dibahas adalah eksperimennya di luar detektif: cerpen-cerpen grotesk-fantastik seperti 'Kanal di Mars' (1926) yang membentuk dasar genre ero-guro-nansensu.

Asal-Usul: Mie, Waseda, dan Nama Pena

Hirai Taro lahir pada 21 Oktober 1894 di Nabari, Prefektur Mie. Ayahnya adalah pegawai pemerintah daerah. Ia menempuh berbagai pekerjaan setelah lulus dari Waseda University jurusan ekonomi politik pada 1916 — termasuk penjual majalah, juru tulis di perusahaan dagang, dan reporter koran kecil — sebelum debut sebagai penulis pada 1923 di usia 28 tahun.

Nama pena Edogawa Ranpo (江戸川乱歩) adalah salah satu permainan kata paling cerdas dalam sastra Jepang: jika dibaca dengan irama Jepang, ia menjadi transliterasi fonetik dari nama Edgar Allan Poe, penulis Amerika yang menjadi idolanya. Edo-gawa Ran-poEdgar Allan Poe. Ini bukan kebetulan: Ranpo dengan terbuka menyatakan utang intelektualnya kepada Poe yang dianggap bapak fiksi detektif modern.

Debut 1923: Koin Tembaga Dua Sen

Cerpen debut Ranpo 'Ni-sen Doka' (Koin Tembaga Dua Sen), diterbitkan di majalah Shin Seinen pada April 1923, adalah cerpen detektif kode Braille pertama dalam sastra Jepang. Pembaca dan kritikus segera mengenali bahwa Jepang akhirnya memiliki penulis misteri domestik yang setara dengan Barat. Tahun-tahun berikutnya ia memproduksi serangkaian cerpen pendek brilian: D-zaka no Satsujin Jiken (Pembunuhan di Lereng D, 1925), Shinri Shiken (Tes Psikologis, 1925), Akai Heya (Kamar Merah, 1925).

1925-1929: Era Eksperimen Ero-Guro

Periode 1925-1929 adalah masa paling eksperimental Ranpo. Sambil terus menulis detektif, ia menerbitkan serangkaian cerpen fantastik-grotesk yang akan mendefinisikan estetika ero-guro-nansensu (erotic-grotesque-nonsense) Jepang awal Showa:

  • 'Ningen Isu' (Kursi Manusia, 1925) — pengrajin furniture yang bersembunyi di dalam kursi mewah untuk merasakan tubuh pengguna

  • 'Imomushi' (Ulat Sutra, 1929) — veteran perang tanpa kaki dan tangan yang menjadi obyek erotik istrinya, akhirnya dilarang sensor militer

  • 'Yaneura no Sanposha' (Pejalan Loteng, 1925) — pemuda neurotik yang mengintip tetangga melalui lubang di langit-langit dan akhirnya melakukan pembunuhan

  • 'Kasei no Unga' (Kanal di Mars, 1926) — cerpen yang Anda baca sekarang — eksplorasi mimpi onirik transformasi gender dan citraan astronomi

1930-an: Detektif Anak-Anak dan Boy Detective Club

Pada tahun 1930-an, di tengah meningkatnya militarisme Jepang, fiksi grotesk-erotik mulai dilarang sensor. Ranpo beralih menulis serial 'Shonen Tantei Dan' (Boy Detective Club) — petualangan detektif anak-anak yang dipimpin oleh Akechi Kogoro dan asistennya Kobayashi. Karya seperti 'Kaijin Niju Menso' (Manusia Berkaca Dua Puluh Wajah, 1936) menjadi fenomena budaya yang masih dibaca anak-anak Jepang hingga hari ini.

Selama Perang Pasifik (1941-1945), banyak karya Ranpo dilarang karena dianggap 'tidak sehat' (futo-kenzen) oleh militer. Ranpo tidak menulis karya baru selama perang, tetapi setelah 1945 ia kembali aktif sebagai kritikus dan editor.

1947 dan Setelahnya: Pemimpin Sastra Misteri Jepang

Pada 1947 Ranpo mendirikan Mystery Writers of Japan (日本推理作家協会), organisasi penulis misteri Jepang yang masih beroperasi hingga kini. Pada 1955 ia menyumbangkan satu juta yen kepada organisasi tersebut untuk mendirikan Edogawa Ranpo Award — penghargaan tahunan untuk novel misteri Jepang terbaik yang belum diterbitkan. Pemenang Edogawa Ranpo Award seperti Higashino Keigo (1985) dan Onda Riku menjadi raksasa sastra populer Jepang kontemporer.

Ranpo meninggal pada 28 Juli 1965 di Tokyo, usia 70 tahun, akibat hemorrhage otak. Ia dimakamkan di pemakaman Tama Reien, Tokyo. Rumah masa hidupnya di Toshima-ku, dengan perpustakaan pribadi 25.000 buku, kini diabadikan sebagai Edogawa Ranpo Memorial Center for Popular Culture Studies di Rikkyo University.

Mengapa Ranpo Tetap Relevan

Bagi pembaca Indonesia, Edogawa Ranpo adalah pintu masuk ideal ke dua dunia sastra Jepang sekaligus: fiksi misteri populer (yang membentuk industri novel populer Jepang modern) dan avant-garde grotesk-fantastik (yang mempengaruhi seniman seperti Tsukioka Yoshitoshi modern, Yumeji Takehisa, dan kemudian Suehiro Maruo dan Junji Ito). 'Kanal di Mars' (1926) yang Anda baca di Pagera adalah contoh sempurna sisi avant-garde Ranpo — pendek, padat, dan penuh kejutan estetik.

Pelajari lebih lanjut tentang Edogawa Ranpo di Wikipedia Indonesia dan koleksi karyanya di Aozora Bunko.

Baca Kanal di Mars karya Edogawa Ranpo di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera