Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Kim Yu-jeong (1908-1937): Sastrawan Humor Korea Modern dari Gangwon

Kim Yu-jeong (김유정, 金裕貞) adalah sastrawan Korea modern yang lahir di Chuncheon, Gangwon pada 1908 dan wafat karena tuberkulosis pada usia 29 tahun di 1937. Dalam waktu singkat empat tahun karier produktifnya, ia menulis sekitar tiga puluh cerpen humor pedesaan, termasuk Bom-bom (1935), Bunga Dongbaek

Pagera Editorial

Kim Yu-jeong (김유정, 金裕貞, 1908-1937) adalah sastrawan Korea modern paling lucu dari era kolonial Jepang, seorang penulis cerpen humor pedesaan yang dalam waktu singkat empat tahun karier produktifnya (1933-1937) menulis sekitar tiga puluh cerpen dan meninggalkan jejak abadi di sastra Korea modern. Ia wafat pada usia 29 tahun karena tuberkulosis, namun cerpennya tentang Gangwon, mareum, dan cinta pertama yang lucu, sampai sekarang dibaca oleh generasi demi generasi.

Latar Belakang: Chuncheon, Gangwon

Kim Yu-jeong lahir pada 12 Januari 1908 di Sile-mal, Chuncheon, provinsi Gangwon (kawasan pegunungan timur Korea). Ia anak ketujuh dalam keluarga petani tuan tanah kecil yang kaya. Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih kecil — ibu pada usia tujuh tahun, ayah pada usia sembilan tahun — sehingga ia tumbuh dalam kesepian. Ia pindah ke Seoul pada usia 13 tahun untuk bersekolah, namun kerinduan akan kampung halamannya Gangwon dan kenangan masa kecilnya bersama gadis-gadis kampung yang lucu, terus menjadi sumber cerpen-cerpennya.

Karier Pendek dan Produktif

Karier sastra Kim Yu-jeong baru dimulai pada 1933, ketika cerpennya Sangol Nageune (Pengembara Kampung) memenangkan penghargaan harian Joseon Ilbo. Dari sana, ia menulis tanpa henti, bahkan saat tubuhnya sudah dimakan tuberkulosis. Antara 1933 dan 1937, ia menerbitkan sekitar tiga puluh cerpen, termasuk:

  • Sangol Nageune (산골나그네, 1933) — pengembara kampung Gangwon

  • Sonakbi (소낙비, 1935) — hujan deras dan ironi kemiskinan

  • Bom-bom (봄·봄, 1935) — cerpen humor mertua-menantu yang paling terkenal

  • Bunga Dongbaek (동백꽃, 1936) — cinta pertama lucu di pegunungan

  • Anhae (안해, 1935) — istri petani

  • Mansaebung (만무방, 1935) — pengangguran kolonial

Gaya: Humor Pedesaan Gangwon

Gaya khas Kim Yu-jeong adalah humor pedesaan yang berakar dalam dialek Gangwon. Berbeda dengan generasi naturalis sebelumnya (Kim Dong-in, Yeom Sang-seop), Kim Yu-jeong tidak menulis tentang kemerosotan moral atau kemiskinan tragis. Ia menulis tentang petani kecil yang lucu, mertua serakah, pubertas yang lugu, dan cinta pertama yang konyol — semua dengan nada humor yang ringan dan tender, tanpa sinisme.

Ciri-ciri gayanya:

  • Dialek Gangwon — bahasa kampung yang hidup, dengan akhiran "-디?", "-니?", "-구!" yang khas

  • Narrator orang pertama lugu — narrator sering menjadi bahan tertawaan tanpa sadar (ironi dramatis)

  • Tokoh perempuan adventif — gadis-gadis Kim Yu-jeong biasanya lebih cerdas, lebih berani, lebih dewasa daripada lelaki di sekitarnya

  • Latar pedesaan Gangwon — gunung, hutan pinus, kebun kentang, mareum dan petani penyewa

  • Humor tanpa sinisme — ironi yang lembut, bukan menghakimi

Bom-bom dan Bunga Dongbaek: Dua Mahakarya

Bom-bom (1935) dan Bunga Dongbaek (1936) adalah dua cerpen Kim Yu-jeong yang paling terkenal dan paling banyak diajarkan di sekolah-sekolah Korea sampai sekarang. Keduanya menceritakan cinta antara remaja petani yang lugu dan gadis muda yang adventif, dengan narrator orang pertama yang sampai akhir tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Bom-bom tentang menantu yang menunggu lima tahun untuk menikahi anak mertuanya yang "belum tumbuh"; Bunga Dongbaek tentang remaja yang bingung dengan sinyal cinta Jeomsun lewat ayam dan kentang.

Yang luar biasa: dalam dialek Gangwon, dongbaek tidak berarti bunga camellia merah (seperti dalam standar Korea), melainkan bunga lindera kuning (생강나무, Lindera obtusiloba), kembang generjang yang mekar di pegunungan Gangwon pada musim semi awal. Kim Yu-jeong, sebagai sastrawan Gangwon sejati, menggunakan kata dongbaek dalam arti dialek kampung halamannya, bukan standar Korea — sebuah detail yang menambah lapisan otentisitas lokal ke akhir cerpennya.

Tuberkulosis dan Wafat Muda

Kim Yu-jeong didiagnosis tuberkulosis pada awal 1930-an, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Pada usia 29 tahun, pada 29 Maret 1937, ia wafat di Seoul setelah karier sastra hanya empat tahun. Surat terakhirnya kepada sahabatnya Ahn Hoe-nam adalah permohonan uang untuk membeli ayam serta vitamin agar bisa hidup setahun lagi untuk menulis lebih banyak. Permohonan itu tidak terpenuhi.

Warisan dan Pengaruh

Warisan Kim Yu-jeong dalam sastra Korea modern luar biasa. Bersama Lee Sang dan Lee Hyo-seok, ia adalah salah satu suara paling khas dari era 1930-an. Ia membuktikan bahwa cerpen Korea modern tidak harus tragis atau patriotik — bisa juga lucu, tender, dan akrab. Bom-bom dan Bunga Dongbaek menjadi inspirasi untuk berbagai adaptasi film, drama, dan komik di Korea hingga abad ke-21.

Pelajari lebih lanjut tentang Kim Yu-jeong di Wikipedia Indonesia.

Baca Bunga Dongbaek karya Kim Yu-jeong di Pagera, cerpen humor Korea modern dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera