Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt

Lafcadio Hearn (Koizumi Yakumo): Pengembara Yang Memilih Jepang

Lafcadio Hearn (1850-1904) lahir di Yunani dari ayah Irlandia, berkelana di Amerika dan Hindia Barat, lalu menetap di Jepang pada 1890. Ia menikah dengan Koizumi Setsu, dinaturalisasi sebagai Koizumi Yakumo, dan menulis Kwaidan yang memperkenalkan kaidan Jepang kepada dunia.

Pagera Editorial

Lafcadio Hearn Koizumi Yakumo adalah salah satu penulis paling unik dalam sastra Jepang modern. Lahir pada 27 Juni 1850 di Pulau Lefkada, Yunani, dari ayah Irlandia (seorang dokter militer Inggris) dan ibu Yunani, ia tumbuh sebagai pengembara budaya yang akhirnya menemukan tanah airnya yang sejati di Jepang Meiji.

Masa Kecil yang Tidak Stabil

Hearn dibesarkan di Dublin oleh saudara perempuan ayahnya setelah orang tuanya berpisah. Pada usia muda ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kebutaan permanen pada mata kirinya — pukulan yang membentuk kepekaan visualnya yang khas dalam menulis. Setelah keluarganya bangkrut, pada 1869 Hearn beremigrasi ke Amerika Serikat dengan tiket kelas tiga.

Di Cincinnati ia bekerja sebagai jurnalis surat kabar, menulis tentang kehidupan kelas bawah, kriminalitas, dan komunitas Afro-Amerika. Pada 1877 ia pindah ke New Orleans selama satu dekade, di mana ia mempelajari budaya Kreol, voodoo, dan masakan Louisiana. Tulisan-tulisannya tentang New Orleans dianggap sebagai sumber primer berharga tentang kota itu pada abad ke-19.

Hindia Barat dan Persiapan ke Timur

Pada 1887 Hearn pergi ke Martinique dan tinggal di sana hampir dua tahun, menulis Two Years in the French West Indies dan Youma, novel tentang seorang budak. Pengalaman tropisnya mempertajam minatnya pada budaya pra-modern, mitos rakyat, dan apa yang ia sebut "kebenaran emosional" yang hilang di Amerika industri.

Pada 1890 Harper's Magazine mengirimnya ke Jepang sebagai koresponden. Setibanya di Yokohama, Hearn melepaskan kontrak dengan Harper's karena merasa terjepit, dan memutuskan tinggal di Jepang. Ia mengajar bahasa Inggris di Sekolah Menengah Matsue, sebuah kota provinsi di pesisir Laut Jepang yang kaya dengan tradisi Shinto dan cerita hantu.

Pernikahan dan Naturalisasi: Menjadi Koizumi Yakumo

Di Matsue, Hearn menikah dengan Koizumi Setsu (1868-1932), putri seorang samurai dari klan Inagaki yang telah jatuh miskin pasca Restorasi Meiji. Pernikahan mereka diatur secara tradisional, dan Setsu menjadi sumber utama cerita rakyat yang kemudian Hearn olah menjadi karya sastra. Setsu juga merawat Hearn yang kesehatannya rapuh dan tidak fasih berbahasa Jepang sepenuhnya — meskipun ia bisa berbicara Hearn-san kotoba (bahasa Hearn), dialek sederhana yang mereka ciptakan bersama.

Pada 1896 Hearn mengambil naturalisasi Jepang dengan nama Koizumi Yakumo — Koizumi adalah marga istrinya, Yakumo (delapan awan) diambil dari syair pertama dalam mitologi Shinto. Sejak itu ia secara resmi adalah warga Kekaisaran Jepang. Tahun yang sama ia diangkat menjadi profesor Sastra Inggris di Universitas Kekaisaran Tokyo.

Karya Utama: Kwaidan dan Etnografi Sastra

Selama 14 tahun di Jepang, Hearn menulis 14 buku tentang Jepang, termasuk:

  • Glimpses of Unfamiliar Japan (1894) — esai etnografis pertamanya

  • Out of the East (1895)

  • Kokoro (1896) — bukan novel Sōseki, tetapi koleksi esai tentang jiwa Jepang

  • In Ghostly Japan (1899)

  • Shadowings (1900)

  • Kotto (1902)

  • Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things (1904) — koleksi kaidan paling terkenal, termasuk Yuki-Onna, Mujina, Hoichi yang Tak Bertelinga, dan Kisah Chūgorō

  • Japan: An Attempt at Interpretation (1904, anumerta) — magnum opus etnografi-sastra

Metode Hearn unik. Ia menanyakan cerita kepada istrinya, pembantunya, mahasiswanya, dan tetangganya. Setsu menceritakan kaidan kepadanya dalam bahasa Jepang sederhana, dan Hearn menulisnya dalam bahasa Inggris dengan kualitas prosa puitis yang membuatnya seperti karya orisinal. Ironi paling indah dalam karyanya: cerita rakyat Jepang menjadi terkenal di seluruh dunia justru melalui penulis asing yang baru menetap di sana.

Filsafat Kesedihan Halus

Estetika Hearn ditandai oleh apa yang ia sebut melancholic beauty — kecantikan melankolis. Berbeda dengan horor barat yang menjual ketakutan visual, Hearn menulis kaidan sebagai folk theology — teologi rakyat. Hantu dalam ceritanya bukanlah monster, tetapi kesedihan yang tak terselesaikan, cinta yang terhenti, dendam yang berakar dalam siklus reinkarnasi.

Dalam Kisah Chūgorō, misalnya, akhirnya bukan kejutan ketakutan tetapi ironi pahit: yang dicintai dengan sumpah tujuh kehidupan ternyata kodok besar di bawah jembatan. Inilah signature Hearn: realitas yang lebih menyedihkan daripada menakutkan.

Kematian dan Warisan

Hearn meninggal pada 26 September 1904 di Tokyo akibat gagal jantung, pada usia 54 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Zōshigaya dengan upacara Buddha. Empat anaknya bersama Setsu — Kazuo (1893), Iwao (1897), Kiyoshi (1899), Suzuko (1903) — meneruskan nama Koizumi.

Cucunya, Koizumi Bon, mendirikan Museum Memorial Lafcadio Hearn di Matsue (Shimane) yang masih beroperasi hingga kini. Di Lefkada, Yunani, juga ada Museum Hearn yang dibuka oleh keluarga kerajaan Yunani-Jepang. Karyanya berada di domain publik dan tersedia gratis di Aozora Bunko dan Project Gutenberg.

Bagi pembaca Indonesia, Hearn adalah jendela paling lembut menuju Jepang Meiji dan tradisi kaidan. Ia menulis bagi dunia dari posisi orang dalam yang baru — naturalisasi pendatang asing yang akhirnya lebih Jepang daripada Jepang sendiri dalam hal kesetiaan pada cerita rakyat.

Pelajari lebih lanjut tentang Hearn di Wikipedia Indonesia.

Baca Kisah Chūgorō karya Lafcadio Hearn di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera