Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Kunikida Doppo (1871-1908) – Penyair Naturalisme Meiji yang Mengangkat Anak Tunagrahita

Profil Kunikida Doppo (1871-1908) — penyair, esais, dan novelis pilar naturalisme Meiji yang dipengaruhi William Wordsworth dan Thomas Carlyle. Penulis Burung Musim Semi, Musashino, dan Wasureenu Hitobito, yang meninggal di usia 36 tahun karena tuberkulosis.

Pagera Editorial

Kunikida Doppo (国木田独歩, 1871-1908) adalah salah satu pilar naturalisme Jepang Meiji akhir, di samping Tayama Katai, Shimazaki Tōson, dan Tokuda Shūsei. Walaupun meninggal pada usia 36 tahun karena tuberkulosis paru, ia meninggalkan kanon cerpen, esai, dan puisi yang membentuk salah satu suara paling lembut dan paling kontemplatif dalam sastra Meiji.

Riwayat Hidup Singkat

Doppo lahir pada 15 Agustus 1871 di Chōshi, Chiba (sekarang Prefektur Chiba), dengan nama asli Tetsuo. Ayahnya seorang samurai dari klan Kawaragoe yang kehilangan posisinya setelah Restorasi Meiji 1868. Masa kanak-kanak Doppo dihabiskan berpindah-pindah dari satu kota kecil ke kota kecil yang lain — sebuah pengalaman yang kemudian membentuk afinitasnya yang tajam terhadap kota benteng kecil dan bukit-bukit pinggir kota, latar yang sering muncul dalam karyanya.

Pada 1888, ia masuk ke Tōkyō Senmon Gakkō (sekarang Universitas Waseda) jurusan sastra Inggris. Di sini ia mulai membaca William Wordsworth, Thomas Carlyle, dan Robert Browning — tiga pengaruh terbesar yang akan terus muncul dalam karyanya. Ia bertobat menjadi Kristen pada 1891 di bawah pengaruh Uemura Masahisa, walaupun keimanannya kemudian melonggar pada periode akhir hidupnya.

Setelah lulus, Doppo bekerja sebagai wartawan perang untuk surat kabar Kokumin Shimbun dalam Perang Sino-Jepang 1894-1895. Surat-suratnya dari front depan, dikumpulkan dalam Aitei Tsūshin (Surat untuk Adik Tercinta), menjadi karya populer pertamanya. Kemudian ia mengajar bahasa Inggris dan matematika di Saiki (Prefektur Ōita, Kyūshū) pada 1893-1894 — pengalaman yang menjadi sumber langsung Burung Musim Semi (春の鳥, 1904), tempat kota benteng kecil di Kyūshū, bukit Shiroyama, dan keponakan tuan rumah-nya yang tunagrahita menjadi pondasi naratif.

Pengaruh Wordsworth dan Carlyle

Yang membedakan Doppo dari naturalisme determinis Émile Zola dan rekan-rekan sezamannya Katai dan Tōson adalah lapisan Romantisisme Inggris yang ia bawa dari sastra Inggris. Wordsworth-nya "There Was a Boy" — yang dalam terjemahan Jepang dikenal sebagai Warabe narikeri — langsung disebut dalam Babak 4 Burung Musim Semi:

"Anak itu menikmatinya dengan gembira; tetapi akhirnya ia meninggal, dimakamkan di pusara yang tenang, dan rohnya kembali ke pelukan alam."

Ini bukan kebetulan. Doppo sengaja meletakkan Wordsworth sebagai latar belakang Rokuzō. Anak tunagrahita yang melompat dari tembok batu setinggi sembilan meter dengan niat terbang seperti burung adalah versi Jepang dari boy Wordsworth yang menirukan burung hantu di tepi danau Inggris. Naturalisme Doppo bukanlah pengamatan dingin Zola — ia adalah kontemplasi spiritual yang mengakui anak sebagai anak alam.

Karya-Karya Penting

1898 — Wasureenu Hitobito (Orang-Orang yang Tak Dapat Dilupakan). Cerpen debut yang menetapkan teknik khasnya: narator menceritakan kembali kepada teman, berbagai sosok yang ia temui di perjalanan, yang berkesan namun bukan kerabat dekat.

1898 — Musashino. Esai memori tentang dataran Musashino di pinggir Tōkyō. Karya yang menjadikan Doppo sebagai bapak pemerhati alam pinggir kota dalam sastra Jepang modern.

1901 — Gyūniku to Bareisho (Daging Sapi dan Kentang). Cerpen filosofis tentang dua jenis cita-cita.

1904 — Haru no Tori (Burung Musim Semi). Cerpen yang Anda baca sekarang. Diterbitkan di majalah anak-anak Shōnen-en, tetapi dengan kedalaman yang membuatnya menjadi salah satu karya paling sering diajarkan dalam pendidikan menengah Jepang.

1907 — Kyūshi (Mati Kelaparan). Cerpen pendek brutal tentang kemiskinan urban — Doppo periode akhir yang lebih sosial.

1908 — Take no Kido (Pintu Bambu). Karya terakhir yang ditulis di sanatorium sebelum meninggal.

Tubercolosis dan Kematian Dini

Doppo terdiagnosis tuberkulosis paru pada 1906. Ia masuk sanatorium di Chigasaki pada 1907, lalu pindah ke Saiseikai Sanatorium di Kanagawa, lalu Hayama. Ia meninggal pada 23 Juni 1908 pada usia 36 tahun, dirawat oleh istri keduanya Haruko (asli Sasaki) dan dengan Tayama Katai — sahabat naturalis-nya — di sampingnya sampai akhir.

Kematian Doppo pada usia 36 menjadikan Pagera memiliki pertanda khusus — ia adalah salah satu "penulis yang meninggal sebelum waktunya" dalam kanon naturalisme Meiji, sebagaimana Akutagawa (35), Ishikawa Takuboku (26), dan Kajii Motojirō (31).

Pengaruh terhadap Sastra Jepang Berikutnya

Doppo membentuk dua arus pengaruh dalam sastra Jepang modern. Pertama, ia adalah pendahulu langsung shaseibun — gaya "melukiskan dengan kalimat" yang Masaoka Shiki dan Natsume Sōseki kemudian kembangkan. Kedua, kontemplasi anak sebagai anak alam dalam Burung Musim Semi langsung mempengaruhi Akutagawa Ryūnosuke yang menulis tentang anak-anak Jepang pinggir kota dalam Kappa dan Aru Ahō no Isshō — dua karya yang sama-sama mengaitkan kebebasan dengan kematian.

Doppo juga dibaca oleh Kawabata Yasunari, peraih Nobel Sastra 1968, yang dalam esai Nihon no Bi no Mikata (Cara Memandang Keindahan Jepang) menyebut Doppo sebagai "penyair yang paling banyak mengajar saya tentang keheningan dalam sastra Jepang."

Lima Besar Naturalisme Meiji di Pagera

Dengan terbitnya Burung Musim Semi, Pagera kini menyajikan lima pilar naturalisme Meiji dalam bahasa Indonesia:

  • Tayama Katai (1872-1930) — Futon (1907) yang menggemparkan dengan otokritik seksual.
  • Shimazaki Tōson (1872-1943) — Cahaya Lentera dan novel Hakai (1906) yang mengangkat diskriminasi burakumin.
  • Tokuda Shūsei (1872-1943) — Penulis Wanita dan pengamat realisme urban Tōkyō.
  • Futabatei Shimei (1864-1909) — perintis bahasa novel modern genbun itchi dalam Ukigumo (1887).
  • Kunikida Doppo (1871-1908) — Burung Musim Semi yang Anda baca sekarang.

Baca Burung Musim Semi karya Kunikida Doppo secara gratis di Pagera — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Kunikida Doppo (Wikipedia bahasa Indonesia) · Kunikida Doppo (Wikipedia bahasa Inggris) · Daftar karya Doppo di Aozora Bunko

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera