Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Miyazawa Kenji: Penyair Iwate yang Menulis Restoran Kucing Liar 1924

Miyazawa Kenji (1896-1933) adalah penyair, guru pertanian, dan penulis dongeng dari Iwate yang semasa hidupnya tidak terkenal, tetapi setelah wafat menjadi salah satu suara paling orisinal dalam sastra Jepang modern. Pelajari biografi penulis Chumon no Oi Ryoriten ini.

Pagera Editorial

Miyazawa Kenji (宮沢賢治, 1896-1933) lahir di kota kecil Hanamaki di prefektur Iwate, sebuah daerah pegunungan utara Honshu yang dikenal dengan musim dinginnya yang panjang, ladangnya yang sulit, dan dialeknya yang kuat. Ia adalah salah satu dari tujuh orang dalam sejarah sastra Jepang modern yang tidak pernah melihat karyanya populer semasa hidup, tetapi setelah wafat namanya menjadi setara dengan Natsume Soseki dan Akutagawa Ryunosuke.

Anak Pedagang Pakaian Bekas Beragama Buddha

Miyazawa Kenji lahir pada 27 Agustus 1896 sebagai anak sulung dari Miyazawa Masajiro, seorang pedagang pakaian bekas di Hanamaki. Keluarga Miyazawa adalah keluarga kaya menurut ukuran kota kecil di Iwate utara, dan sangat religius dalam tradisi Buddha Jodo Shinshu. Sang ayah berharap putranya akan mewarisi bisnis pakaian bekas itu.

Tetapi Kenji muda, sejak masa SMA-nya di Morioka, sudah menunjukkan kecenderungan yang sangat berbeda. Ia mengoleksi mineral. Ia mempelajari geologi. Ia mulai membaca Saddharma Pundarika Sutra, teks utama tradisi Buddha Nichiren, dan terpaku oleh ajaran tentang kesatuan semua makhluk. Pertentangan dengan sang ayah, yang tetap setia pada Jodo Shinshu, mewarnai sebagian besar masa mudanya.

Guru Sekolah Pertanian dan Penyair Sunyi

Setelah lulus dari Akademi Pertanian dan Kehutanan Morioka (sekarang Universitas Iwate) pada 1918, Miyazawa Kenji bekerja sebentar di rumahnya, lalu pindah ke Tokyo untuk merintis karier menulis. Tetapi adiknya yang tercinta, Toshiko, jatuh sakit parah karena tuberkulosis. Kenji segera pulang ke Hanamaki dan mengabdikan diri merawatnya hingga Toshiko wafat pada November 1922 di usia 24 tahun.

Kehilangan adiknya menjadi peristiwa paling traumatis dalam hidupnya. Banyak puisi terbaiknya, termasuk siklus Eien no Mihatori-zu (Pemandangan Tanah Suci yang Kekal), ditulis untuk Toshiko. Setelah pemakaman, Kenji mulai mengajar di Sekolah Pertanian Hanamaki, di mana ia akan bekerja selama empat tahun penuh sambil terus menulis puisi, dongeng, dan refleksi pribadi yang tidak pernah dipublikasikan semasa hidup.

Dua Buku yang Diterbitkan Semasa Hidup

Sepanjang 37 tahun usianya, Miyazawa Kenji hanya menerbitkan dua buku. Yang pertama adalah kumpulan puisi Haru to Shura (Musim Semi dan Iblis Asura, 1924), yang ia cetak sendiri dengan biaya pribadi setelah penerbit di Tokyo menolaknya. Buku itu nyaris tidak terjual sama sekali, dan banyak salinannya berakhir sebagai pembungkus di toko-toko Hanamaki.

Yang kedua adalah Chumon no Oi Ryoriten (Restoran dengan Banyak Permintaan, 1924), kumpulan sembilan dongeng. Lagi-lagi diterbitkan dengan biaya sendiri, dengan ilustrasi karya kakak iparnya Kenkichi Kondo, dan lagi-lagi tidak terjual. Cerita yang menjadi judul kumpulan ini, tentang dua pemburu yang tersesat di restoran kucing liar, hari ini diakui sebagai salah satu dongeng paling cerdas yang pernah ditulis dalam bahasa apa pun.

Sisanya, ratusan dongeng yang ia tulis di buku catatan, tetap menjadi naskah tangan sampai setelah kematiannya: Ginga Tetsudo no Yoru (Malam di Kereta Api Galaksi), Kaze no Matasaburo (Matasaburo Sang Angin), Yodaka no Hoshi (Bintang Yodaka), dan banyak lagi.

Petani, Aktivis, dan Insinyur Pertanian

Pada 1926, Miyazawa Kenji mengundurkan diri dari Sekolah Pertanian Hanamaki dan memutuskan untuk hidup sebagai petani sendiri, mendirikan apa yang disebut Rasu Chijin Kyokai (Asosiasi Pekerja Tanah Rasu) untuk membantu petani miskin Iwate. Ia mengajar para petani tentang pupuk, rotasi tanaman, dan akustik musik klasik Eropa yang ia mainkan dengan gramofon di gubuknya yang kecil.

Ia memberi nasihat ilmiah gratis kepada petani yang datang ke pintunya. Ia berkebun. Ia berjalan kaki berkilometer-kilometer membawa pupuk untuk petani yang tidak bisa membelinya. Pada akhirnya, tubuh yang sebenarnya lemah sejak kecil itu tidak tahan. Pada 1928 ia jatuh sakit dengan pneumonia akut dan harus pulang ke rumah orang tuanya.

Akhir di Hanamaki, Penemuan Setelah Wafat

Lima tahun terakhir hidupnya dihabiskan terbaring sakit di rumah keluarganya, masih menulis, masih merevisi puisi-puisinya, masih berkomunikasi dengan petani melalui surat. Pada 21 September 1933, Miyazawa Kenji wafat karena tuberkulosis di usia 37 tahun.

Setelah pemakamannya, adiknya Seiroku menemukan koper kayu berisi naskah tangan ratusan dongeng, puisi, dan refleksi yang tidak pernah dipublikasikan. Penerbitan bertahap karya-karya ini sepanjang akhir 1930-an dan 1940-an perlahan-lahan mengubah Miyazawa Kenji dari penulis lokal Iwate yang tidak dikenal menjadi salah satu tokoh sastra terpenting Jepang modern.

Visi Miyazawa Kenji: Ihatovo dan Kesatuan Makhluk

Yang membuat Miyazawa Kenji unik adalah caranya menggabungkan empat hal yang tampaknya tidak mungkin disatukan: kosmologi Buddha Nichiren, ilmu pengetahuan alam modern, dialek pedesaan Iwate, dan keberpihakan kepada petani miskin.

Dongeng-dongengnya berlangsung di dunia imajiner yang ia sebut Ihatovo, sebuah Iwate yang dirombak menjadi semesta penuh kucing liar yang berbicara, kereta api yang melintasi galaksi, beruang yang lebih bermoral daripada manusia, dan bintang-bintang yang hidup dalam kesedihan. Tetapi Ihatovo bukan pelarian dari realitas. Justru sebaliknya, Ihatovo adalah cara Miyazawa Kenji menunjukkan bahwa setiap binatang, setiap pohon, setiap petani di Iwate adalah bagian dari satu kesatuan kosmis yang tak terpisahkan.

Mengapa Restoran dengan Banyak Permintaan Masih Hidup Hari Ini

Dalam Chumon no Oi Ryoriten, dua pemuda bangsawan dari Tokyo memasuki hutan Iwate dengan senapan dan anjing pemburu, mengira mereka berhak atas tanah dan hewan-hewannya. Mereka menyebut anjing yang mati dengan harga yen, bukan nama. Mereka tidak melihat hutan. Mereka melihat targe untuk ditembak.

Hutan itu, dalam bentuk restoran kucing liar yang halus dan sopan, mengajari mereka pelajaran yang tidak pernah mereka lupakan: di tempat lain, mereka bukan pemburu. Mereka adalah pesanan. Mereka adalah menu. Dan ketika mereka kembali ke Tokyo, wajah mereka yang sudah dipenuhi krim tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Inilah Miyazawa Kenji yang sebenarnya: penulis yang dengan kelembutan dongeng menyampaikan kritik tajam terhadap arogansi manusia kota terhadap alam, jauh sebelum krisis ekologis modern menjadi tema umum dalam sastra dunia.

Bagi yang ingin membaca penulis Jepang lain seangkatan Miyazawa Kenji, tersedia Sennin karya Akutagawa Ryunosuke dan karya Natsume Soseki di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Miyazawa Kenji di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng klasik 1924 lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera