Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Miyazawa Kenji: Penyair Iwate yang Menulis Dongeng dari Akar Bumi

Miyazawa Kenji (1896-1933) adalah penyair, penulis dongeng, dan agronom dari Tohoku yang menulis lewat dialek Iwate, kosmologi Buddhis-Shinto, dan kasih sayang yang mendalam pada petani. Dari Restoran dengan Banyak Permintaan sampai Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari, karyanya adalah

Pagera Editorial

Miyazawa Kenji lahir pada 27 Agustus 1896 di kota Hanamaki, Prefektur Iwate, kawasan Tohoku di Jepang utara yang dingin dan miskin. Ia meninggal pada 21 September 1933 di usia 37 tahun, hampir tidak dikenal di luar Iwate, dengan hanya dua buku yang pernah diterbitkan semasa hidupnya. Hari ini, ia dianggap salah satu penyair dan penulis dongeng paling penting dalam sastra Jepang abad ke-20.

Anak Pedagang Pegadaian yang Memberontak Lembut

Miyazawa lahir dari keluarga pedagang pegadaian yang relatif makmur di tengah masyarakat Tohoku yang sebagian besar adalah petani miskin. Ketegangan antara kemapanan keluarga dan penderitaan tetangga inilah yang mewarnai seluruh hidup dan karyanya.

Sejak kecil ia mengoleksi batu, serangga, dan tumbuhan. Ia masuk sekolah pertanian Morioka dan lulus dengan prestasi tinggi di bidang geologi tanah dan kimia agronomi. Tetapi ia menolak melanjutkan studi formal lebih jauh. Ia memilih kembali ke Hanamaki, menjadi guru sekolah pertanian, dan mulai menulis puisi tanka serta dongeng.

Buddhisme Nichiren dan Sains Tanah

Pada usia 18 tahun, Miyazawa membaca Lotus Sutra dan memeluk Buddhisme Nichiren, sebuah aliran yang sangat berbeda dari Buddhisme Jodo (Sekte Tanah Murni) yang dianut keluarganya. Pertentangan ini menjadi sumber konflik rumah tangga yang berat dengan ayahnya, dan juga sumber semua karya keagamaannya.

Tetapi yang membuat Miyazawa unik adalah bagaimana ia menggabungkan Buddhisme Nichiren dengan pengetahuan agronomi modern. Ia tidak melihat sains dan agama sebagai dua hal yang berlawanan. Bagi Miyazawa, mengerti pH tanah dan mengerti penderitaan petani adalah satu kerja yang sama. Karya-karyanya penuh dengan deskripsi yang sangat tepat tentang flora, mineral, dan astronomi, ditata dalam kerangka kosmik Buddhis.

Iwate Sebagai Ihatovo

Miyazawa menciptakan nama imajiner untuk Iwate yang ia bayangkan: Ihatovo (atau Iihatobu). Ihatovo bukan utopia. Ia adalah Iwate yang Miyazawa harapkan jika setiap petani bisa membaca puisi dan setiap pohon kashiwa bisa berbicara. Dalam karya-karyanya, padang rumput Iwate yang sebenarnya keras dan miskin diubah menjadi lanskap mitis tempat anak-anak seperti Taneri bisa berkejaran dengan burung Toki dan berbicara dengan mistletoe emas.

Restoran dengan Banyak Permintaan dan Karya-karya yang Mengintimidasi Penerbit

Pada 1924, dengan biaya sendiri, Miyazawa menerbitkan satu-satunya kumpulan dongeng yang terbit semasa hidupnya: Chumon no Oi Ryoriten atau Restoran dengan Banyak Permintaan. Kumpulan ini berisi sembilan dongeng pendek yang penuh dengan ironi gelap, sindiran sosial, dan kepekaan terhadap penderitaan binatang. Buku itu nyaris tidak laku.

Pada tahun yang sama ia menerbitkan kumpulan puisi Haru to Shura (Musim Semi dan Asura), yang juga gagal komersial. Penerbit mengembalikan tumpukan eksemplar yang tidak terjual kepadanya. Miyazawa membakar sebagian besarnya.

Tetapi ia terus menulis. Sero Hiki no Goshu (Goshu Si Pemain Cello), Otsuberu to Zo (Otsuberu dan Gajah), Nametoko Yama no Kuma (Beruang Gunung Nametoko), Indra no Ami (Jaring Indra), dan banyak lagi semua ditulis selama tahun 1920-an tetapi diterbitkan pertama kali secara anumerta setelah kematiannya.

Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari: Karya Akhir yang Tenang

Sekitar tahun 1931, ketika tuberkulosis sudah mulai melemahkan tubuhnya, Miyazawa menulis Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari. Karya ini berbeda dari dongeng-dongeng awalnya yang penuh ironi dan kritik sosial. Tidak ada restoran kucing yang berniat memakan tamunya. Tidak ada gajah yang dieksploitasi oleh tuan tanah. Hanya seorang anak laki-laki bernama Taneri, ibunya yang sedang menumbuk biji oak, dan satu hari panjang di padang rumput awal musim semi.

Penutup ceritanya, ketika ibu Taneri tidak memarahi anaknya yang lalai melainkan hanya berkata "Oh, begitu. Kalau begitu sudah baik" sambil melanjutkan menumbuk biji konara, menunjukkan sisi Miyazawa yang jarang muncul di karya-karya awalnya: rasa pasrah yang tenang, kasih sayang yang tidak menuntut, dan penerimaan bahwa setiap hari, bahkan hari yang tampak tidak berguna, sudah cukup adanya.

Dialek Tohoku Sebagai Sastra

Salah satu kontribusi Miyazawa yang paling radikal pada sastra Jepang modern adalah penggunaan dialek Tohoku dalam dialog tokoh-tokohnya. Pada zaman ketika sastra Jepang sedang diperjuangkan untuk menjadi seragam dengan dialek standar Tokyo, Miyazawa menulis ibu Taneri yang mengatakan "sondara ii" (kalau begitu sudah baik) alih-alih bentuk standar "sore nara ii."

Bagi pembaca Indonesia, dialek Tohoku ini diterjemahkan dengan menjaga sentuhan keakraban yang tidak terlalu formal: ibu Taneri tidak berbicara seperti pejabat, anaknya tidak berbicara seperti murid kelas atas. Suara mereka adalah suara pedesaan yang penuh kasih dan sedikit lelah, tetapi tidak pernah kehilangan martabatnya.

Kematian dan Pengakuan Anumerta

Miyazawa meninggal di Hanamaki pada 21 September 1933 karena pneumonia akut, komplikasi dari tuberkulosis yang sudah lama dideritanya. Di sebuah kotak yang ditemukan setelah kematiannya, ada sebuah puisi terkenal yang ditulis dalam huruf katakana, dimulai dengan baris "Ame ni mo makezu" (Tidak menyerah pada hujan). Puisi ini sekarang dikenal oleh hampir setiap anak sekolah Jepang.

Pengakuannya datang perlahan setelah kematiannya. Tahun 1940-an, sastrawan seperti Tanizaki Junichiro dan Akutagawa Hiroshi mulai menyebut Miyazawa sebagai salah satu penulis paling orisinal abad ke-20. Pada 1980-an, karya-karyanya diadopsi ke dalam kurikulum sekolah, diadaptasi menjadi anime oleh Studio Ghibli dan lainnya, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk Inggris, Korea, dan kini bahasa Indonesia.

Mengapa Miyazawa Penting Hari Ini

Bagi pembaca Indonesia tahun 2026, Miyazawa Kenji menawarkan sesuatu yang sangat langka dalam sastra dunia: seorang penulis yang mengenal tanah, hewan, dan bahasa setempat secara intim, sekaligus seorang penyair yang melihat seluruh kosmos sebagai jaring saling terkait. Ia bukan penulis kota seperti Akutagawa atau Soseki. Ia adalah penulis dari Iwate yang menulis untuk Iwate, dan justru karena itulah ia menjadi universal.

Bagi yang ingin mengenal karya Miyazawa lainnya, tersedia Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji dan Dua Pejabat karya Miyazawa Kenji di Pagera.

Pelajari lebih lanjut tentang Miyazawa Kenji di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera