Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Na Do-hyang (1902~1926): Penulis Cerpen Korea Modern yang Meninggal di Usia 24
Na Do-hyang (羅稻香, nama asli Na Gyeong-son), penulis cerpen Korea modern penting yang meninggal karena tuberkulosis di usia 24 tahun. Anggota majalah sastra Baekjo (1921), penulis Si Bisu Samryong (1925), Tukang Penggilingan (1925), dan Murbei. Mewakili gerakan neo-naturalisme Korea modern di tengah
Pagera Editorial
Dalam panteon sastra Korea modern abad ke-20, sedikit penulis yang meninggalkan jejak begitu mendalam dengan masa hidup yang begitu singkat seperti Na Do-hyang (羅稻香). Lahir pada tahun 1902 di Seoul, meninggal karena tuberkulosis pada 26 Agustus 1926 di usia 24 tahun, ia hanya memiliki sekitar lima tahun produktif sebagai penulis profesional. Tetapi dalam kurun itu ia menghasilkan beberapa cerpen yang menjadi tonggak sastra Korea modern: Si Bisu Samryong, Tukang Penggilingan, Murbei, dan banyak lagi.
Lahir dalam Bayang Kolonialisme
Nama asli Na Do-hyang adalah Na Gyeong-son (羅慶孫). Ia lahir di Seoul pada tanggal 30 Maret 1902, di tengah masa-masa terakhir Kekaisaran Joseon, beberapa tahun sebelum aneksasi resmi Jepang atas Korea pada 1910. Ayahnya seorang dokter; ibunya berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia menunjukkan kecintaan pada literatur, sekaligus tubuh yang lemah—suatu kombinasi yang akan menjadi karakteristik hidupnya.
Ia mengenyam pendidikan di sekolah Hwimun (Hwimun Gobo), salah satu sekolah menengah modern terkemuka di Seoul. Setelah lulus, ia masuk ke Sekolah Kedokteran Tinggi Gyeongseong (Gyeongseong Uihak Jeonmun Hakgyo), tetapi keluar di tengah jalan karena ketertarikannya pada sastra dan kesulitan finansial keluarga.
Lingkaran Sastra Baekjo (1921)
Pada tahun 1921, Na Do-hyang bergabung dengan majalah sastra Baekjo ("Burung Kuntul Putih", 白潮) sebagai salah satu anggota pendiri, bersama dengan Hyon Jin-gon (현진건), Yi Sang-hwa (이상화), dan Park Yeong-hui (박영희). Baekjo adalah majalah sastra dekaden-romantik yang dipengaruhi oleh simbolisme Prancis dan estetika dekadensi Eropa. Para anggotanya dikenal sebagai "Aliran Romantik Korea" (조선 낭만파).
Pada periode awal ini, karya Na Do-hyang masih sangat romantik—penuh ekstase emosional, kerinduan absolut, dan kepedihan eksistensial. Cerpen-cerpen awalnya seperti Anak yang Mengalir Hilang dalam Hujan Muda (1922) dan Tujuh Belas Tahun (1922) bercirikan suasana lirik yang lembap.
Peralihan ke Neo-Naturalisme
Sekitar 1924~1925, gaya Na Do-hyang mengalami pergeseran dramatis. Dipengaruhi oleh naturalisme Jepang (terutama Tayama Katai dan Tokuda Shusei) dan realisme Rusia (terutama Anton Chekhov), ia mulai meninggalkan ekstase romantik untuk menempa apa yang oleh kritikus Korea kemudian disebut sebagai neo-naturalisme—realisme keras yang menyelidiki ketidakadilan sosial, kelas, dan determinisme lingkungan, tetapi diam-diam masih membawa benih-benih puisi romantik di intinya.
Cerpen-cerpen utamanya dari periode ini meliputi:
Tukang Penggilingan (물레방아, Mullebanga, 1925) — tragedi seorang istri petani miskin yang dijual ke pemilik tanah.
Murbei (뽕, Bbong, 1925) — naturalisme tentang seorang istri petani yang menggadaikan tubuhnya untuk daun murbei.
Si Bisu Samryong (벙어리 삼룡이, Beongeori Samryongi, 1925) — tragedi pelayan bisu yang cinta diam-diamnya pada nyonya muda yang dianiaya berujung pada kebakaran dan pengorbanan diri.
Si Bisu Samryong: Mahakarya yang Terakhir
Di antara karya-karya 1925-nya, Si Bisu Samryong—diterbitkan pada edisi perdana majalah Yeomyeong (黎明, "Fajar") bulan Juli 1925—dipandang oleh banyak kritikus Korea sebagai puncak pencapaiannya. Cerpen ini menggabungkan kekerasan naturalisme dengan ketinggian puisi romantik dalam sebuah keseimbangan yang langka. Tokoh utamanya, Samryong, seorang pelayan bisu dengan tubuh kerdil dan wajah buruk, mengalami cinta diam-diam terhadap nyonya muda yang dianiaya oleh suami-tuannya. Adegan terakhirnya—Samryong yang tertelan api saat menyelamatkan sang nyonya, dan tersenyum damai di akhir hayat—telah menjadi salah satu pemandangan paling terkenal dalam sastra Korea modern.
Tuberkulosis dan Akhir di Usia 24
Sepanjang tahun 1925~1926, kesehatan Na Do-hyang memburuk dengan cepat akibat tuberkulosis paru. Pada 26 Agustus 1926, ia meninggal di rumah keluarganya di Seoul. Ia berusia 24 tahun. Pada saat kematiannya, ia masih dalam perjalanan untuk menjadi salah satu suara terbesar generasinya. Yang ia tinggalkan tidaklah banyak—sekitar dua puluh cerpen dan sejumlah esai—tetapi kekuatan dan kematangan karyanya melebihi kebanyakan penulis yang berkarya jauh lebih lama.
Warisan: Aliran "Romantik-Naturalis"
Sastrawan Korea kontemporer menempatkan Na Do-hyang sebagai jembatan antara romantisme (Aliran Baekjo 1921) dan naturalisme keras (Aliran Joseon Mundan 1925 — generasi Kim Dong-in, Yi Hyo-seok). Ia adalah penulis yang tahu bagaimana memadukan ketidakadilan sosial dengan pesona puitis—suatu sintesis yang sangat sulit dicapai.
Beberapa cerpen Na Do-hyang—termasuk Tukang Penggilingan, Murbei, dan Si Bisu Samryong—diadaptasi menjadi film Korea pada tahun 1960-an dan 1980-an, menjadikan namanya tetap hidup dalam imajinasi pembaca dan penonton Korea sepanjang abad ke-20. Cerpen Si Bisu Samryong sendiri telah difilmkan dua kali (1929 dan 1964), dijadikan drama panggung berkali-kali, dan termasuk dalam kurikulum sekolah menengah Korea hingga sekarang.
Pelajari lebih lanjut tentang Na Do-hyang dan sastranya di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Korea karya-karyanya di Wikisource Korea.
Baca Si Bisu Samryong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.