Penulis · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Natsume Soseki sebagai Penulis Esai — Kejujuran yang Membentuk Hasegawa-kun dan Aku
Natsume Soseki (1867-1916) lebih dikenal sebagai novelis, tetapi esai-esai pendeknya sering kali lebih jujur dan lebih getir dari novel-novelnya. Hasegawa-kun dan Aku (1909) adalah salah satu esai pendek terbaiknya — sebuah potret persahabatan yang ditolak menjadi sentimental.
Pagera Editorial
Natsume Soseki (夏目漱石, 1867-1916) adalah salah satu nama terbesar dalam sastra Jepang modern. Novel-novelnya — Wagahai wa Neko de Aru ("Aku adalah Kucing"), Botchan, Kokoro, Sanshirō — membentuk dasar kanon sastra Meiji. Namun di balik novel-novel besar itu, Soseki juga seorang penulis esai pendek yang menakutkan jujurnya. Hasegawa-kun dan Aku (長谷川君と余, 1909) adalah salah satu contoh terbaik kejujuran itu.
Biografi Singkat: Dari London ke Asahi Shimbun
Natsume Kinnosuke (nama lahir) lahir di Edo (sekarang Tokyo) pada 9 Februari 1867 — tahun sebelum Restorasi Meiji. Ia adalah anak bungsu yang tidak diinginkan, diadopsi oleh keluarga lain, lalu dikembalikan ke keluarga asal pada usia 9 tahun. Pengalaman ini meninggalkan luka mendalam yang kelak akan muncul di novel-novelnya.
Setelah lulus dari Universitas Kekaisaran Tokyo dengan gelar sastra Inggris (1893), ia mengajar di beberapa sekolah, termasuk Sekolah Tinggi Kelima (五高) di Kumamoto. Pada 1900, ia dikirim oleh pemerintah Jepang ke London untuk belajar sastra Inggris selama dua tahun. Pengalaman London adalah salah satu masa paling pedih dalam hidupnya — ia merasa terasing, mengalami depresi, dan sempat dilaporkan "gila" ke pemerintah Jepang. Pengalaman ini juga membentuk dasar sebagian besar pemikirannya tentang modernitas Jepang.
Sekembalinya ke Jepang pada 1903, ia menjadi dosen sastra Inggris di Universitas Kekaisaran Tokyo, menggantikan Lafcadio Hearn (Koizumi Yakumo). Pada 1907, ia membuat keputusan yang mengejutkan: meninggalkan posisi akademik bergengsi itu dan bergabung dengan Asahi Shimbun sebagai novelis profesional. Sejak saat itu sampai kematiannya pada 1916, ia menulis novel-novel besarnya sebagai serial di surat kabar Asahi.
Rumah Tetangga di Nishikatamachi: Persimpangan dengan Futabatei
Pada 1907, ketika baru bergabung dengan Asahi, Soseki tinggal di Nishikatamachi (lingkungan Bunkyō, Tokyo), di dalam kompleks rumah Marga Abe. Yang tidak ia ketahui pada awalnya: tetangganya di kompleks yang sama adalah Hasegawa Tatsunosuke — atau, dengan nama yang sudah terkenal di dunia sastra, Futabatei Shimei, penulis Ukigumo ("Awan Mengambang", 1887), novel pertama Jepang yang ditulis dalam bahasa modern.
Soseki kelak akan menulis dengan getir di esai ini: "Kalau bicara aturan, sebenarnya akulah yang seharusnya mendahului datang berkunjung sambil membawa kartu nama, sebagaimana kelaziman pergaulan. Tapi aku malas mengurus itu, bahkan tak pernah pula bertanya kepada siapa pun letak persis rumah Hasegawa-kun." Inilah kejujuran Soseki: ia mengakui kelalaian sosialnya sendiri, dan tidak mencoba membenarkannya.
Tiga Karakter Soseki sebagai Penulis Esai
1. Kejujuran yang Nyaris Menyakitkan
Tidak banyak penulis esai yang berani menggambarkan teman yang baru meninggal sebagai sosok dengan "kerangka tubuh yang kekar, lebar bahu yang kaku tanpa lekuk, dagu yang kotak." Bahkan kepala Hasegawa pun digambarkan "terasa kotak — lucu rasanya." Ini bukan deskripsi yang dirancang untuk membuat pembaca terharu. Ini adalah deskripsi yang benar. Dan Soseki memilih kebenaran daripada keharuan.
2. Humor Halus di Tengah Duka
Salah satu kekuatan Soseki sebagai penulis esai adalah kemampuannya menyelipkan humor halus bahkan di tengah cerita duka. Adegan di pemandian umum, dengan dua sastrawan terhormat duduk telanjang sambil mengipasi diri — "Cara bicara Hasegawa-kun sedikit pun tak berbeda dari saat pertama kali ia membahas partai-partai Rusia, sehingga sama sekali tak sebanding dengan keadaan tubuh telanjang itu" — adalah humor yang khas Soseki: ringan, sedikit absurd, tetapi tidak pernah mengurangi rasa hormat.
3. Penolakan terhadap Sentimentalitas
Soseki secara sadar menolak bentuk esai pemakaman yang lazim pada zamannya. Banyak esai kenangan Meiji penuh dengan ratapan, pujian berlebihan, dan klaim persahabatan yang lebih dalam dari kenyataan. Soseki memilih jalan sebaliknya: ia mengakui dengan terang-terangan bahwa persahabatan ini sebenarnya tidak pernah benar-benar dalam. "Hasegawa-kun tak memahami diriku, dan aku tak memahami Hasegawa-kun, lalu ia mati." Inilah pernyataan yang menjadi salah satu kalimat paling dikenal dari prosa esai Meiji.
Hubungan dengan Karya Lain
Esai ini ditulis pada masa yang sama dengan novel Mon ("Gerbang", 1910) — periode tengah karya Soseki di mana ia sedang menggali tema isolasi dan persahabatan yang tak sempurna. Tema kesepian intelektual dan ketidakmampuan untuk benar-benar memahami orang lain — yang menjadi tema utama Kokoro (1914) — sudah terlihat dalam embrio di esai pendek ini. Kalimat "Hasegawa-kun tak memahami diriku, dan aku tak memahami Hasegawa-kun" bisa dibaca sebagai versi miniatur dari seluruh proyek sastra Kokoro.
Apa yang Tersisa: Catatan tentang Putri Mozume
Salah satu detail yang sering terlewat dari esai ini adalah catatan Soseki bahwa setelah kematian Hasegawa, Putri Mozume (Mozume Kazuko, putri ilmuwan klasik Mozume Takami) — yang dititipkan Hasegawa kepadanya sebagai murid — "sesekali datang berkunjung." Sedangkan "orang dari Hokkoku" — sang murid kedua — "sampai sekarang pun tak ada kabar berita." Detail kecil ini menutup esai dengan rasa kehilangan ganda: bukan hanya teman yang hilang, tetapi juga jaringan murid yang ia titipkan, yang sebagian pun ikut menghilang.
Mengapa Membaca Soseki Hari Ini
Bagi pembaca Indonesia abad ke-21, Soseki adalah penulis yang sangat dekat dengan pengalaman hidup modern. Kesibukan urban, hubungan sosial yang dangkal, kemalasan dalam memelihara persahabatan, kehilangan kesempatan yang tak kembali — semua tema ini tetap segar seabad kemudian. Soseki tidak menulis dari masa lalu yang asing; ia menulis dari masalah yang sama yang kita hadapi hari ini, hanya dengan latar Meiji Tokyo alih-alih Jakarta modern.
Baca Karyanya di Pagera
Hasegawa-kun dan Aku tersedia gratis di Pagera dalam terjemahan bahasa Indonesia. Untuk merasakan lebih dalam kekuatan prosa Soseki, baca juga Senja di Kyoto — esai panjang Soseki tentang kunjungannya ke Kyoto pada 1907, yang juga berisi kenangan tentang Masaoka Shiki.
Referensi eksternal: Wikipedia Natsume Soseki.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.