Penulis · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 2 mnt
Raden Adjeng Kartini (1879-1904) — Penulis "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Profil Kartini: putri Bupati Jepara, pendiri feminisme Indonesia, penulis surat-surat 1899-1904 yang menjadi dasar kebangkitan nasional.
Pagera Editorial
Raden Adjeng Kartini (1879-1904)
Putri Bupati Jepara, pelopor pendidikan perempuan Bumiputera, dan salah satu pendiri kebangkitan nasional Indonesia.
Tujuh Tahap Hidup
1. Kelahiran dan Keluarga (1879)
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah Bupati Jepara dari trah Mataram. Ibunya, Mas Ajeng Ngasirah, adalah putri seorang guru agama di Telukawur. Kartini adalah anak kelima dari sebelas bersaudara.
2. Pendidikan Awal (1885-1891)
Pada usia enam tahun, Kartini masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Eropa di Jepara — kesempatan langka bagi anak Bumiputera. Di sana ia belajar bahasa Belanda dan terbuka pada dunia di luar kraton Jepara.
3. Pingitan (1891-1896)
Setelah lulus ELS, Kartini "dipingit" sesuai adat — dilarang keluar rumah hingga menikah. Lima tahun pingitan ini paradoksnya membuat Kartini menjadi pembaca rakus: ia melahap De Locomotief, De Hollandsche Lelie, novel Multatuli, dan tulisan-tulisan feminisme awal Eropa.
4. Korespondensi (1899-1904)
Pada 25 Mei 1899, Kartini menulis surat pertamanya kepada Stella Zeehandelaar, sahabat pena Belanda. Dari sini lahir korespondensi yang akan diabadikan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Penerima lain: J. H. Abendanon (Direktur Pendidikan) dan istrinya Rosa Manuela, E. C. Abendanon, H. H. van Kol, Nyonya Ovink-Soer, Profesor Anton, dan banyak lagi.
5. Sekolah Putri (1903)
Bersama saudara-saudaranya Kardinah dan Roekmini, Kartini membuka sekolah untuk anak-anak perempuan Bumiputera di paviliun rumah Bupati Jepara. Kurikulumnya: bahasa Belanda, jahit-menjahit, kerajinan, ilmu rumah tangga, dan etika.
6. Pernikahan (8 November 1903)
Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang, yang sudah memiliki tiga istri dan tujuh anak. Pernikahan ini ironi dari hidup Kartini, namun ia tetap mendirikan sekolah perempuan di Rembang dengan dukungan suaminya.
7. Wafat (17 September 1904)
Empat hari setelah melahirkan putra tunggalnya, R. M. Soesalit, Kartini wafat secara tiba-tiba pada usia 25 tahun. Penyebab kematian masih diperdebatkan — kemungkinan pre-eklampsia, infeksi nifas, atau "diracun" menurut spekulasi sebagian sejarawan.
Lima Tempat Diri Kartini
- Pendiri feminisme Indonesia — surat-suratnya menetapkan agenda pendidikan perempuan Bumiputera.
- Penulis kanonik Indonesia — Habis Gelap Terbitlah Terang adalah teks wajib pengantar sastra Indonesia modern.
- Pahlawan Nasional Indonesia — ditetapkan oleh Presiden Sukarno pada 2 Mei 1964.
- Inspirasi Hari Kartini — diperingati setiap 21 April, dengan kebaya dan pembacaan surat.
- Pengkritik adat dari dalam adat — Kartini menolak poligami dan pingitan, namun tetap berakar pada Jawa dan Islam.
Bacaan di Pagera
Pagera menerbitkan dua edisi paralel Habis Gelap Terbitlah Terang (1922):
— Pagera Editorial