Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Profil Penulis Ryūnosuke Akutagawa – Bapak Cerpen Modern Jepang yang Menulis Gerbang Rashō

Profil lengkap Ryūnosuke Akutagawa (1892~1927) — bapak cerpen modern Jepang yang menulis sekitar 150 cerpen dalam karir singkat 12 tahun, termasuk Gerbang Rashō (1915), Di Hutan (1922), Kappa (1927). Penghargaan sastra Akutagawa-shō dinamai sesuai namanya.

Pagera Editorial

Profil Ryūnosuke Akutagawa (芥川龍之介, 1892~1927) — bapak cerpen modern Jepang yang dalam karir singkat 12 tahun menulis sekitar 150 cerpen yang membentuk fondasi sastra Jepang Taishō. Penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang, Akutagawa-shō, dinamai sesuai namanya pada 1935 oleh sahabatnya Kan Kikuchi. Cerpen debutnya, Gerbang Rashō (1915), ditulis ketika ia masih mahasiswa Universitas Tokyo yang berusia 23 tahun.

Masa Kecil dan Trauma Awal

Akutagawa lahir pada 1 Maret 1892 di distrik Tsukiji, Tokyo. Tepat tujuh bulan dan tujuh hari setelah kelahirannya, ibunya — Fuku — mengalami gangguan jiwa berat dan tak pernah pulih hingga kematiannya pada 1902. Trauma ini akan menghantui Akutagawa seumur hidupnya dan akhirnya muncul sebagai motif obsesif dalam karya-karya autobiografisnya yang terakhir, terutama «Aku» (Aru Ahō no Isshō) dan «Roda Gigi» (Haguruma).

Karena ibunya sakit, bayi Akutagawa segera diadopsi oleh paman dari pihak ibu — Akutagawa Dōshō — kepala keluarga aristokrat lama di Honjō, Tokyo. Dari keluarga adopsi inilah ia mengambil nama keluarga Akutagawa dan masuk ke dalam tradisi budaya literasi klasik Edo yang akan mewarnai semua karyanya.

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Tokyo

Pada 1913, Akutagawa masuk Universitas Imperial Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) jurusan Sastra Inggris. Pada masa mahasiswa inilah ia mulai menulis cerpen secara serius bersama teman-teman sekolahnya seperti Kume Masao dan Kan Kikuchi — yang nantinya menjadi penulis besar tersendiri. Mereka berkolaborasi dalam majalah Shin-shichō (Arus Pemikiran Baru), generasi keempat (edisi 1914).

Di majalah inilah Akutagawa pertama kali menerbitkan terjemahan W.B. Yeats dan Anatole France, juga cerpen-cerpen awal seperti «Rōnen» (Usia Tua). Tetapi terobosan terjadi pada November 1915, ketika ia menerbitkan «Rashōmon» (Gerbang Rashō) di majalah Teikoku Bungaku.

Debut yang Mendapat Pujian Sōseki

Reaksi sastra terhadap «Gerbang Rashō» pada awalnya tidak istimewa. Tetapi enam bulan kemudian (1916), Akutagawa menerbitkan «Hidung» (Hana) — cerpen pendek dari Konjaku Monogatari tentang seorang biksu dengan hidung yang sangat panjang. Cerpen ini sampai ke tangan Natsume Sōseki — tokoh sastra paling dihormati Jepang Meiji.

Sōseki menulis surat pribadi kepada Akutagawa muda yang sederhana namun mengubah hidupnya:

«Tulisan Anda berbeda. Ini bukan tiruan dari siapa pun. Teruskan, Anda akan menjadi penulis besar dalam dua atau tiga tahun.»

Dengan dukungan Sōseki, Akutagawa langsung melesat menjadi bintang sastra Taishō dan masuk ke lingkaran Mokuyōkai (Klub Kamis) — kelompok murid Sōseki paling dekat.

Periode Emas: 1916-1922

Dalam tujuh tahun antara 1916 dan 1922, Akutagawa menulis cerpen-cerpen yang sekarang membentuk kanon Akutagawa. Periode ini disebut periode Ōchō-mono — «karya periode istana» — karena banyak yang mengambil bahan dari teks klasik Heian seperti Konjaku Monogatari, Uji Shūi Monogatari, dan Hikayat Genji. Karya-karya kunci:

  • «Imogayu» (1916) — Bubur Ubi, satire psikologis pegawai bawahan
  • «Tabako to Akuma» (1916) — Tembakau dan Setan, fantasi misionaris
  • «Jigokuhen» (1918) — Lukisan Neraka, novelet tentang seniman dan kekejaman
  • «Yabu no Naka» (1922) — Di Hutan, kisah pembunuhan multi-perspektif (yang nantinya menjadi sumber utama film Kurosawa)
  • «Toshishun» (1920) — Tu Tzu-chun, dongeng Taoist Tiongkok

Pergeseran ke Autobiografi: 1923-1927

Sekitar 1923, gaya Akutagawa berubah secara drastis. Dari narator-omniscient yang dingin dan terkontrol, ia bergerak ke arah konfesi pribadi yang gelisah. Dua peristiwa menjadi katalisnya: gempa besar Kantō 1923 yang menghancurkan Tokyo dan membunuh ratusan ribu orang, dan kecenderungan halusinasi visual yang mulai menyerang Akutagawa sendiri — ia mulai melihat «roda gigi» yang berputar di sudut mata kirinya.

Karya-karya akhirnya — «Kappa» (1927) satire utopis, «Haguruma» (1927) Roda Gigi yang autobiografis, «Aru Ahō no Isshō» (1927) Hidup Seorang Bodoh, dan cerpen yang dipublikasikan oleh Pagera dalam bahasa Indonesia «Dia» (Kare, 1927) — semuanya menampilkan obsesi tentang kegilaan ibu, ketidakmampuan menulis lebih lama, kelelahan saraf, dan kematian sebagai pembebasan tunggal.

Bunuh Diri: 24 Juli 1927

Pada dini hari 24 Juli 1927, Akutagawa menelan sejumlah besar veronal (barbiturat penenang) di kediamannya di Tabata, Tokyo. Ia berusia 35 tahun. Catatan bunuh dirinya yang terkenal — «Aru Kyūyū e Okuru Shuki» (Catatan untuk Seorang Sahabat Lama) — menyebutkan «kegelisahan samar terhadap masa depan» sebagai motif tunggalnya.

Kematiannya dianggap sebagai akhir simbolis era Taishō dan fajar suram era Shōwa yang akan dijatuhi oleh nasionalisme militer dan Perang Dunia II. Sahabatnya Kan Kikuchi sangat tergetar oleh kehilangan ini sehingga delapan tahun kemudian (1935), ia membentuk Akutagawa-shō — penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang untuk penulis pemula — sebagai monumen abadi bagi temannya.

Mengapa Akutagawa Penting bagi Pembaca Indonesia?

Ada tiga alasan. Pertama, gaya cerpen Akutagawa — padat, terkontrol, psikologis — adalah model yang banyak dipelajari penulis modern di Asia, termasuk penulis cerpen Indonesia awal seperti Idrus dan Pramoedya Ananta Toer yang membaca terjemahan Belanda atau Inggris. Kedua, banyak karyanya mengambil bahan dari sumber klasik Asia (Heian, Tiongkok, Buddhis) dan memodernkannya dengan psikologi — pendekatan yang juga relevan untuk penulis Indonesia yang mengangkat folklor Nusantara. Ketiga, kegelisahan eksistensial Akutagawa periode akhir adalah salah satu suara modern Asia pertama yang merefleksikan secara terbuka penderitaan jiwa di tengah modernisasi yang cepat.

Karya Akutagawa di Pagera Indonesia

Pagera saat ini menyajikan tiga cerpen Akutagawa dalam bahasa Indonesia secara gratis:

  • Gerbang Rashō — debut 1915, gehin dan perempuan tua di bawah hujan Heian (cerpen yang sedang dibahas blog ini).
  • Dia (Kare) — 1927, monolog batin retrospektif tentang sahabat yang meninggal karena tuberkulosis ginjal.
  • Cangkang Kerang — 1926, kumpulan 15 vignet pendek periode akhir.

Ketiganya dapat dibaca tanpa biaya, lengkap dengan navigasi anchor paragraf untuk membantu studi sastra.

Referensi Lanjutan

Baca Gerbang Rashō dan jelajahi katalog Akutagawa di Pagera secara gratis — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Ryūnosuke Akutagawa (Wikipedia Indonesia) · Akutagawa Prize (Wikipedia) · Aozora Bunko #879 (Akutagawa)

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera