Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Arishima Takeo: Aristokrat Shirakaba yang Membebaskan Tanahnya Sendiri

Arishima Takeo (1878-1923) adalah salah satu dari trio inti gerakan sastra Shirakaba yang humanistik. Tetapi ia bukan sekadar penulis. Pada tahun 1922 ia menyerahkan sepenuh tanah perkebunannya secara cuma-cuma kepada para petani penggarap, lalu pada 1923 mengakhiri hidupnya bersama jurnalis perempu

Pagera Editorial

Saat membaca Setangkai Anggur, sulit untuk tidak bertanya: siapa orang yang menulis cerpen anak yang begitu lembut tentang pengampunan? Jawabannya membongkar salah satu biografi paling penuh paradoks dalam sastra Jepang modern: Arishima Takeo (1878-1923), aristokrat humanis yang membebaskan tanahnya sendiri, lalu pergi.

Anak Aristokrat Meiji

Lahir 4 Maret 1878 di Koishikawa Tokyo, Arishima Takeo adalah putra sulung Arishima Takeshi, seorang pejabat tinggi pemerintahan Meiji yang kelak menjabat Direktur Eksekutif Yokohama Specie Bank. Adik-adiknya juga tokoh sastra: Arishima Ikuma (pelukis dan penulis) dan Satomi Ton (penulis fiksi). Keluarga ini termasuk lapisan elit ekonomi Meiji yang fasih berbahasa Inggris dan terbiasa dengan budaya Eropa-Amerika.

Itulah mengapa, ketika kita membaca Setangkai Anggur dan menemukan latar sekolah orang Barat di Yamate Yokohama, kita harus memahami: ini bukan fantasi eksotis. Ini adalah dunia Arishima sendiri. Ia masuk Gakushuin (sekolah elit untuk anak bangsawan), lalu di usia muda dikirim ke pendidikan asrama bergaya Barat, lalu ke Sekolah Pertanian Sapporo (kelak Universitas Hokkaido).

Amerika, Whitman, dan Tolstoy

Pada 1903, Arishima berangkat ke Amerika Serikat. Ia belajar di Haverford College dan Harvard University, mendalami sosiologi dan ekonomi. Di sana ia membaca Walt Whitman, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, dan terutama tertarik pada gagasan-gagasan sosialisme demokratik dan kemanusiaan universal. Saat kembali ke Jepang pada 1907, ia membawa serta perpustakaan pemikiran yang akan membentuk sisa hidupnya.

Shirakaba dan Trio Inti

Pada 1910, sebuah kelompok sastra terbentuk dengan majalah Shirakaba (Birch Putih). Tiga tokoh inti adalah Mushanokoji Saneatsu, Shiga Naoya, dan Arishima Takeo. Berbeda dengan gerakan Naturalisme Jepang yang gelap dan deterministik, kelompok Shirakaba membawa optimisme humanistik. Mereka percaya pada keagungan individu, pengembangan diri lewat seni, dan kasih sayang universal.

Karya-karya besar Arishima dari periode ini termasuk Aru Onna (Seorang Wanita Tertentu, 1919), Kain no Matsuei (Keturunan Kain, 1917), dan Umareizuru Nayami (Penderitaan Lahir, 1918). Setangkai Anggur sendiri terbit pada 1920 di majalah anak-anak Akai Tori (Burung Merah), bagian dari gerakan literatur anak progresif yang memperkenalkan estetika Shirakaba kepada pembaca muda.

Karifuto: Membebaskan Tanahnya Sendiri

Lalu pada 17 Juli 1922, Arishima melakukan sesuatu yang amat jarang dilakukan oleh seorang aristokrat manapun: ia menyerahkan secara cuma-cuma sekitar 450 hektar tanah peternakan keluarganya di Karifuto, Hokkaido, kepada sekitar tujuh puluh keluarga petani penggarap. Tanpa kompensasi. Tanpa cicilan. Tanpa syarat. Pidato pelepasannya, Kosakunin e no Kokubetsu (Perpisahan kepada Para Petani Penggarap), kini menjadi salah satu dokumen sosial paling penting dalam sejarah Jepang modern.

Mengapa? Jawabannya, dalam pidato itu sendiri, adalah pertanyaan moral yang ia tak bisa elakkan: jika seseorang percaya pada keagungan setiap individu manusia, bagaimana mungkin ia memiliki tanah yang digarap oleh orang lain?

9 Juni 1923: Karuizawa

Setahun kemudian, pada 9 Juni 1923, Arishima Takeo, berusia 45 tahun, ditemukan tewas di vila musim panasnya di Karuizawa. Ia bunuh diri bersama Hatano Akiko, seorang jurnalis perempuan menikah dari majalah Fujin Koron. Catatan bunuh dirinya disusun dengan tenang. Tubuh keduanya baru ditemukan beberapa pekan kemudian karena pembusukan yang dalam.

Tragedi itu mengejutkan seluruh Jepang. Banyak yang mencoba membaca tindakan ini sebagai kelemahan, sebagai romansa terlarang yang mengalahkan idealisme. Tetapi yang lain melihat keterkaitan: lelaki yang menyerahkan tanahnya satu tahun sebelumnya adalah lelaki yang sudah mempersiapkan diri untuk pergi dari segala kepemilikan, termasuk hidupnya sendiri.

Warisan dalam Setangkai Anggur

Membaca Setangkai Anggur dengan latar biografi ini, kita memahami sesuatu yang dalam. Cerpen pendek ini bukan sekadar cerita anak. Ini adalah perumusan teologis sekuler Arishima: bahwa kebajikan tertinggi adalah pengampunan tanpa syarat, dan bahwa orang yang sudah diampuni mengubah dirinya bukan karena takut hukuman, tetapi karena rasa malu hangat dari kasih yang tak layak ia dapatkan.

Si bocah dalam cerpen itu adalah Arishima sendiri sebagai anak. Bu guru Barat dengan tangan putih seperti marmer adalah figur yang menggabungkan ibu, guru, dan Tuhan Kristen-humanis yang ia pelajari di Amerika. Setangkai anggur adalah ekaristi sekuler.

Bagi yang ingin membaca lebih banyak karya Arishima, tersedia Perpisahan kepada Para Petani Penggarap (Kosakunin e no Kokubetsu) dan Kabut Laut (Shiogiri) di Pagera.

Pelajari lebih lanjut di Wikipedia Indonesia atau Wikipedia Inggris.

Baca Setangkai Anggur karya Arishima Takeo di Pagera, cerpen anak lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera