Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 3 mnt

Tan Malaka (1897-1949), Penulis "Menuju Republik Indonesia"

Profil Tan Malaka (Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka): pemikir Marxis Minangkabau, Wakil Komintern Asia Tenggara, penulis Madilog dan Menuju Republik Indonesia, pahlawan nasional Indonesia.

Pagera Editorial

Tan Malaka (1897-1949)

Pemikir politik Minangkabau, Wakil Komintern untuk Asia Tenggara, penulis Madilog dan Menuju Republik Indonesia, salah satu pendiri Republik Indonesia. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keppres No. 53 Tahun 1963.

Tujuh Tahap Hidup

1. Kelahiran dan Pendidikan Awal di Pandan Gadang (1897-1908)

Tan Malaka lahir 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Nama lahir: Ibrahim. Ia mendapat gelar adat Datuk Sutan Malaka dari kaum Minangkabau-nya. Ayahnya, Rasad gelar Caniago Sutan Ibrahim, adalah petani Minang.

2. Kweekschool Bukittinggi dan Beasiswa ke Belanda (1908-1913)

Kecerdasannya membawanya ke Kweekschool (sekolah guru) di Bukittinggi 1908. Setelah lulus 1913, ia mendapat beasiswa dari komite "Engku Sutan Malaka", patungan kaum Minangkabau di kampung halamannya untuk menyekolahkan pemuda berbakat ke Belanda.

3. Studi di Belanda dan Pertemuan dengan Marxisme (1913-1919)

Tan Malaka studi di Rijkskweekschool Haarlem untuk gelar guru. Di Belanda, ia membaca Marx, Engels, Lenin, dan bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), embrio Partai Komunis Hindia Belanda. Tuberkulosis menyerangnya berkali-kali, namun ia bertahan dengan kerja paruh waktu sebagai tutor.

4. Kembali ke Hindia Belanda dan Sekolah Sarekat Islam (1919-1922)

Pulang 1919. Ia mengajar di perkebunan teh Sanembah Maatschappij, Deli, Sumatera Timur, mengalami langsung sistem poenale sanctie yang ia kecam dalam "Menuju Republik Indonesia". Pindah ke Semarang 1921, mendirikan Sekolah Sarekat Islam dengan kurikulum sosial-ekonomi. Diangkat sebagai Ketua PKI ke-2 menggantikan Semaun pada Desember 1921.

5. Pengasingan dan Wakil Komintern Asia Tenggara (1922-1942)

Maret 1922, pemerintah kolonial Belanda mengasingkannya. Selama dua puluh tahun berikutnya, Tan Malaka hidup berpindah-pindah: Moskwa-Berlin-Den Haag-Canton-Manila-Bangkok-Singapura-Rangoon. Pada 1923, Komintern menunjuknya sebagai Wakil untuk Asia Tenggara dan Australia, posisi yang ia pegang sampai berkonflik dengan Komintern atas pemberontakan PKI 1926 yang ia tolak. Karya-karya penting ditulis selama pengasingan: Menuju Republik Indonesia (Canton, 1925), Massa Actie (Singapura, 1926), Madilog (Rajawali, Banten, 1943).

6. Kembali ke Indonesia dan Persatuan Perjuangan (1942-1948)

Tan Malaka kembali ke Jawa pada masa pendudukan Jepang dengan identitas samaran. Pada Januari 1946 ia mendirikan Persatuan Perjuangan di Solo, koalisi 142 organisasi yang menuntut kemerdekaan 100%, menentang diplomasi Sjahrir-Hatta dengan Belanda. Ia ditahan Maret 1946 oleh pemerintah Sjahrir, dibebaskan September 1948 setelah Peristiwa Madiun.

7. Pembunuhan di Selopanggung (1949)

Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, oleh prajurit TNI di tengah Agresi Militer Belanda II. Usianya 51 tahun. Lokasi makamnya baru ditemukan pada 2008. Pada 28 Maret 1963, Presiden Soekarno menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Lima Posisi Penting

1. Pemikir Marxis non-ortodoks. Tan Malaka mengembangkan Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika) sebagai metode berpikir Indonesia, bukan sekadar terjemahan Marxisme Eropa.

2. Penolak pemberontakan PKI 1926. Berbeda dengan kepemimpinan PKI di Hindia, Tan Malaka menilai pemberontakan 1926-1927 prematur, penilaian yang terbukti benar.

3. Penggagas "Republik Federasi". Dalam karya 1925 ini, ia menyebut bentuk Indonesia merdeka sebagai republik federasi, gagasan yang baru terealisasi sebagian dalam RIS 1949-1950.

4. Pendiri Persatuan Perjuangan 1946. Koalisi terbesar pasca-Proklamasi yang menuntut kemerdekaan tanpa kompromi dengan Belanda.

5. Penulis Madilog (1943). Buku 700 halaman yang ditulis sembunyi-sembunyi selama pendudukan Jepang, salah satu karya filsafat paling penting yang lahir di Indonesia.

Karya Utama

  • Parlemen atau Soviet? (1920), Semarang
  • Naar de Republiek Indonesia / Menuju Republik Indonesia (1925), Canton
  • Massa Actie (1926), Singapura
  • Pari Manifesto (1927), Bangkok
  • Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) (1943), Rajawali, Banten
  • Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi) (1948), Mojokerto
  • Dari Pendjara ke Pendjara (otobiografi 3 jilid, 1947-1948), Yogyakarta, -

Baca "Menuju Republik Indonesia" di Pagera, 7 bab, 223 paragraf, 13.400 kata.

Kembali ke Pagera