Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Tema Penulis Wanita Jepang Sebelum Perang: Dari Higuchi Ichiyo Hingga Tamura Toshiko
Tema penulis wanita dalam cerpen Tokuda Shusei membuka kembali sejarah panjang sastra wanita Jepang sebelum perang. Dari Higuchi Ichiyo (Meiji) hingga Tamura Toshiko (Taisho) dan generasi Showa awal—lapisan transmisi yang sering terlupakan.
Pagera Editorial
Cerpen Penulis Wanita karya Tokuda Shusei (1927) memuat tiga generasi sastrawan wanita Jepang dalam satu obrolan malam: Nyonya I dari era Meiji, T-ko dari era Taisho, dan Eiko dari era Showa awal. Ini adalah kesempatan baik untuk meninjau sejarah panjang sastra wanita Jepang sebelum perang, yang sering kali hilang dari ringkasan kanonis.
Generasi Meiji: Higuchi Ichiyo dan Para Pendahulu
Sosok Nyonya I dalam cerpen Shusei kemungkinan didasarkan pada Higuchi Ichiyo (1872~1896), penulis wanita Jepang modern pertama yang mencapai status sastra utama. Ichiyo lahir dan tumbuh di Tokyo, belajar puisi waka tradisional, dan kemudian menulis prosa fiksi dengan gaya bahasa klasik yang sangat indah.
Tetapi Ichiyo wafat pada usia 24 tahun karena tuberkulosis, hanya empat tahun setelah memulai karier prosa serius. Karier sastranya hanya sekitar empat tahun, tetapi dalam waktu itu ia menghasilkan beberapa novel pendek yang menjadi kanon abadi: Takekurabe (Bermain Sebatas Tinggi, 1895~96), Nigorie (Air Keruh, 1895), Jusan'ya (Malam ke-13, 1895).
Setelah wafatnya, Ichiyo menjadi simbol "sastrawan wanita yang sempurna"—dipuja sebagai mahaguru, dijadikan model di buku pelajaran, dimuat di uang kertas (sejak 2004, ia adalah wanita pertama dalam uang kertas Jepang sejak Empress Jingu pada 1881). Ironi yang ada di cerpen Shusei mungkin tepat di sini: Ichiyo yang miskin dan jatuh sakit menjadi pahlawan setelah wafat, sementara penulis wanita yang sebenarnya berhasil hidup secara independen di Taisho seperti Tamura Toshiko terlupakan.
Generasi Taisho: Tamura Toshiko dan Para Sezamannya
Tamura Toshiko (1884~1945) lahir di Tokyo dan mulai menulis di majalah-majalah literer awal abad ke-20. Novel debutnya, Akirame (Pasrah, 1911)—yang disebut Shusei sebagai novel debut T-ko—memang memenangkan sayembara surat kabar Osaka Asahi Shimbun.
Karya-karya Tamura terkenal karena keberaniannya membahas seksualitas wanita, cinta sesama wanita, dan kemandirian ekonomi penulis wanita. Pada zamannya, ia menjadi salah satu penulis wanita Jepang pertama yang hidup sepenuhnya dari pena—bukan dari warisan keluarga, bukan dari pernikahan, bukan dari pekerjaan lain.
Tetapi pada 1918, Tamura pindah ke Vancouver bersama kekasihnya, kemudian ke Los Angeles dan San Francisco. Selama 18 tahun di Amerika Utara, ia hidup dalam kemiskinan ekstrem, menulis kolom kecil untuk koran Jepang-Amerika dengan oplah sangat kecil. Pada 1936 ia pindah ke Shanghai dan wafat di sana 1945. Karya-karyanya hampir sepenuhnya terlupakan di Jepang hingga gelombang penelitian feminis pasca-1960-an menemukan kembali pentingnya.
Bukan hanya Tamura. Generasi Taisho memiliki banyak sastrawan wanita lain yang produktif dan berani: Yosano Akiko (18781942, penyair tanka modernis dan feminis), Hiratsuka Raicho (18861971, editor jurnal feminis pertama Seito [Stocking Biru]), Nogami Yaeko (1885~1985, novelis besar yang hidup hingga akhir abad ke-20). Tetapi nama-nama ini sering kali kalah secara reputasi dengan tokoh-tokoh lelaki sezamannya.
Generasi Showa Awal: Miyamoto Yuriko dan Hayashi Fumiko
Sosok Eiko dalam cerpen Shusei mewakili generasi Showa awal—penulis wanita muda yang baru mulai menulis di tahun-tahun akhir 1920-an. Yang paling terkenal dari generasi ini adalah Miyamoto Yuriko (18991951) dan Hayashi Fumiko (19031951).
Miyamoto Yuriko menulis tentang kelas pekerja, sosialisme, dan kebebasan wanita. Hayashi Fumiko menulis prosa otobiografis tentang kemiskinan wanita pekerja di Tokyo (Horoki, 1928~1930). Keduanya akhirnya menjadi tokoh besar sastra Jepang abad ke-20.
Eiko sendiri tidak teridentifikasi dengan satu sosok historis tertentu. Karakteristiknya—penulis muda di kosan, menyerialkan cerita cinta sesama wanita, modan garu dengan rambut bob, kekasih kritikus paruh baya—cocok dengan beberapa sosok historis sekaligus. Mungkin ini juga keputusan sastra Shusei: Eiko adalah arsip kolektif dari generasi penulis wanita Showa awal, bukan satu individu.
Tema yang Berulang: Cinta Sesama Wanita
Yang menarik adalah cinta sesama wanita muncul sebagai tema yang melintas tiga generasi dalam cerpen ini:
Higuchi Ichiyo / Nyonya I: terkait dengan tradisi cinta sesama wanita yang halus dalam sastra Edo dan Meiji awal.
Tamura Toshiko / T-ko: novel debutnya Akirame secara eksplisit memuat tema cinta sesama wanita.
Eiko: serial yang sedang ditulisnya juga mengangkat tema yang sama.
Pertanyaan tentang bagaimana sastra wanita Jepang menangani seksualitas non-heteronormatif adalah pertanyaan yang panjang dan kompleks. Tetapi cerpen Shusei dengan ketenangan menunjukkan: tema ini telah hadir dalam sastra wanita Jepang dari Meiji hingga Showa, bukan sebagai pemberontakan pinggiran, melainkan sebagai salah satu cara berbicara tentang ikatan emosional antar wanita yang tidak terlalu cocok dengan struktur pernikahan tradisional.
Tradisi yang Terlupakan dan Penemuan Kembali
Mengapa Tamura Toshiko terlupakan sementara Higuchi Ichiyo menjadi ikon nasional? Mengapa banyak sastrawan wanita Taisho hilang dari kanon utama? Ini adalah pertanyaan yang dibuka Shusei melalui keluhan Eiko di c1-p057: "Memang zamannya berbeda, tapi melihat Nyonya I dipuja begitu hebat sebagai mahaguru, sementara T-ko nyaris terlupakan oleh semua orang—kupikir itu sangat tidak adil."
Jawaban sebagian terletak pada politik kanonisasi: kematian muda Ichiyo membuatnya menjadi simbol yang aman, sementara hidup panjang Tamura yang penuh kontroversi (cinta sesama wanita, hidup di luar nikah, eksil ke Amerika) membuatnya tidak nyaman bagi diskursus nasional. Sebagian terletak pada politik gender: penulis wanita yang "terhormat" (Ichiyo, melalui kematian dini dan gaya klasik) lebih mudah dipuja daripada penulis wanita yang "berbahaya" (Tamura, melalui hidup panjang yang melanggar norma).
Gelombang penelitian feminis pasca-1970-an membantu menemukan kembali banyak penulis wanita Taisho dan Showa awal yang sebelumnya hilang. Tetapi proses penemuan kembali ini masih berlangsung—dan cerpen Shusei dapat menjadi titik awal yang sempurna untuk pembaca Indonesia mengenal sejarah panjang ini.
Pagera dan Sastra Wanita Jepang Indonesia
Bagi yang ingin mengenal lebih banyak sastra wanita Jepang, lihat juga Cahaya Lentera karya Shimazaki Toson di Pagera yang memuat narator wanita meiji akhir.
Baca Penulis Wanita karya Tokuda Shusei di Pagera, debut Indonesia karya Tokuda Shusei, terjemahan lengkap Bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.