Vol. 3June 2026

Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Yi Sang (1910~1937): Biografi Penyair Modernisme Korea yang Mati Muda di Tokyo

Yi Sang (李箱, nama asli Kim Hae-gyeong) adalah penyair dan novelis Korea modern yang paling avant-garde di era kolonial. Lulusan Arsitektur Keijo, ia memperkenalkan teknik aliran kesadaran lewat «Sayap» (1936), ditangkap polisi Jepang di Tokyo karena «pemikiran tidak patut», dan mati di Universitas T

Pagera Editorial

Di antara para penulis Korea modern yang lahir di awal abad ke-20, tidak ada yang seberani dan setragis Yi Sang (李箱, 1910~1937). Lahir di Seoul pada tanggal 23 September 1910—hanya tujuh pekan sebelum Aneksasi Jepang-Korea resmi disahkan—dan mati di Universitas Tokyo pada tanggal 17 April 1937 dalam usia dua puluh enam tahun, hidupnya sependek karyanya seberani. Dengan hanya beberapa puluh puisi, beberapa cerpen, dan beberapa esai, ia memperkenalkan teknik aliran kesadaran ke sastra Korea, mengguncang Joseon kolonial dengan eksperimen tipografi puisi avant-garde, dan menyiapkan jalan bagi seluruh modernisme Korea setelahnya.

Kim Hae-gyeong, Putra Tukang Sablon Sederhana

Yi Sang lahir dengan nama Kim Hae-gyeong (金海卿) di distrik Tongin-dong Seoul, putra tertua keluarga pedagang kecil. Ayahnya, Kim Yeong-chang, kehilangan tiga jari di pabrik sablon. Karena keluarga miskin, ia diadopsi oleh paman kaya Kim Yeon-pil pada usia dua tahun. Di rumah paman, ia tumbuh di lingkungan kelas menengah-atas Seoul: ia belajar lukisan dan kaligrafi sebelum bahkan masuk sekolah dasar. Pada tahun 1921, ia masuk Sekolah Dasar Sinmyeong; tahun 1924 lulus dan masuk Sekolah Menengah Boseong; dan tahun 1926 masuk Sekolah Tinggi Industri Keijo (경성고등공업학교)—jurusan Arsitektur. Inilah satu-satunya jurusan teknik tinggi di Joseon kolonial.

Arsitek Pemerintah Kolonial, Penyair Diam-diam

Pada tahun 1929, di usia sembilan belas tahun, Yi Sang lulus sebagai sarjana Arsitektur dengan peringkat tertinggi di angkatannya. Ia langsung direkrut sebagai geosu (技手, juru gambar/teknisi) di Biro Konstruksi Departemen Dalam Negeri Gubernur Jenderal Joseon. Selama empat tahun berikutnya, ia menggambar denah bangunan pemerintah kolonial pada siang hari—dan menulis puisi avant-garde pada malam hari, di samping menyelidiki seni rupa. Pada tahun 1931, puisi pertamanya «Iseang-han Gareulgi» (異常한 可逆反応, «Reaksi Kekeliruan yang Anomali») dimuat di majalah teknik Jepang Chōsen to Kenchiku. Pada saat itu, ia mulai memakai nama pena Yi Sang—konon karena saat bekerja di kantor kolonial, seorang pekerja Jepang salah memanggilnya «Yi-san» (이상)—lalu ia adopsi sebagai nama tetap.

1934: Oh-gam-do dan Skandal Sastra Modern

Pada bulan Juli 1934, di harian Chosun Ilbo, Yi Sang memulai serial puisi «Oh-gam-do» (烏瞰圖, «Pandangan Burung Gagak»). Lima belas puisi—penuh angka-angka, tabel, formula matematika, dan tipografi terbalik—mengguncang pembaca Joseon. Salah satu puisi hanya berisi: «13 ina-i ga dororeul jilji-eohada» (13 anak berlari di jalan), diulang sebanyak tiga belas baris dengan variasi minim. Pembaca biasa mengirim surat marah ke redaksi: «Apakah ini puisi? Apakah ini gangguan jiwa?» Setelah lima belas dari rencana tiga puluh puisi dimuat, redaksi memutus serial karena «desakan pembaca». Tetapi sebagian kecil—termasuk Park Tae-won—mengenali Yi Sang sebagai jenius. «Oh-gam-do» kemudian dianggap sebagai puisi paling avant-garde dalam bahasa Korea.

«Chebi» (제비): Kafe yang Bangkrut, Cinta yang Tak Selesai

Pada tahun 1933, Yi Sang berhenti dari pemerintahan kolonial karena tuberkulosis paru-paru—penyakit yang akan membunuhnya. Ia pergi ke Baesokga (배천 온천), sebuah resor air panas, untuk pengobatan. Di sana ia bertemu seorang pelacur muda bernama Geum-hong (금홍). Ia membawanya pulang ke Seoul dan membuka kafe bernama Chebi (제비, «Burung Layang-Layang»). Kafe itu menjadi tempat berkumpul para penulis modernis—Park Tae-won, Kim Gi-rim, Jeong Ji-yong. Tetapi keuangan tidak terkendali; setelah dua tahun, kafe bangkrut. Geum-hong meninggalkan Yi Sang. Hubungan ini menjadi bahan dasar untuk cerpennya Bongbyeolgi (봉별기, «Pertemuan dan Perpisahan», 1936) dan, dalam bentuk yang lebih abstrak, Sayap.

1936: Tahun Puncak Karya Pendek

Tahun 1936 adalah tahun keemasan Yi Sang. Dalam dua belas bulan, ia menerbitkan: Sayap (날개, September), Bongbyeolgi (봉별기, Desember), Jijuhoesi (지주회시, «Babi Kawin Laba-laba», Juni), dan Donghae (童骸, «Tulang Anak», Februari). Empat cerpen ini—semuanya mengambil tema relasi suami-istri yang rusak, kemiskinan kolonial, alienasi urban, dan kesadaran yang terpecah—menetapkan Yi Sang sebagai puncak prosa modernisme Korea. Setiap cerpen memakai teknik berbeda: aliran kesadaran, monolog interior, sudut pandang surealis, dan permainan tipografi.

Tokyo, Polisi Jepang, dan Akhir di Universitas Tokyo

Pada bulan Oktober 1936, dengan sisa-sisa uang dari teman-teman, Yi Sang menyeberang ke Tokyo. Tujuannya: menyaksikan modernitas Barat secara langsung, dan jika mungkin, melanjutkan studi. Di Tokyo, ia tinggal di kamar sewa kecil di Kanda, menulis cerpen Sirhwa (失花, «Bunga Hilang») dan Jonghaeng (終航記, «Catatan Pelayaran Terakhir»). Tetapi pada bulan Februari 1937, polisi Jepang menangkapnya dengan tuduhan «fuyō shisō» (불온 사상, «pemikiran tidak patut»). Selama interogasi yang berlangsung lebih dari sebulan, tuberkulosisnya memburuk. Pada bulan Maret, ia dilepaskan ke rumah sakit Universitas Tokyo dalam kondisi kritis. Pada tanggal 17 April 1937, dalam usia dua puluh enam tahun, tujuh bulan, Yi Sang meninggal. Istri keduanya, Byeon Dong-rim, membawa abunya pulang ke Seoul.

Warisan: Modernisme Korea Tidak Pernah Sama Lagi

Setelah kematiannya, karya-karya Yi Sang yang tercerai-berai dikumpulkan oleh Park Tae-won, Kim Gi-rim, dan Im Hwa. Pada tahun 1949, buku Yi Sang Seonjip (이상선집, «Karya Pilihan Yi Sang») diterbitkan. Selama era pemerintahan otoriter Korea Selatan tahun 1960~1980-an, Yi Sang menjadi simbol intelektualisme kolonial yang tertindas. Setelah demokratisasi tahun 1987, ia naik menjadi salah satu nama paling penting dalam kurikulum sekolah menengah Korea. Penghargaan Yi Sang (이상문학상, didirikan tahun 1977) sampai hari ini menjadi penghargaan sastra pendek paling bergengsi di Korea—dimenangkan oleh nama-nama seperti Kim Seung-ok, Park Wan-suh, dan Han Kang (pemenang Nobel Sastra 2024).

Karya Yi Sang yang Tersedia di Pagera

Pagera saat ini menerbitkan Sayap dalam bahasa Indonesia. Karya-karya pendek Yi Sang berikut—Bongbyeolgi, Jijuhoesi, Donghae, dan koleksi puisi Oh-gam-do—akan menyusul.

Pelajari lebih lanjut tentang Yi Sang di Wikipedia Indonesia.

Baca «Sayap» karya Yi Sang di Pagera—puncak modernisme Korea, gratis dan lengkap dalam bahasa Indonesia.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera