Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt
Si Bisu Samryong: Ringkasan Cerpen Na Do-hyang 1925 Yangban Seoul
Pada Juli 1925, Na Do-hyang menerbitkan Si Bisu Samryong di majalah Yeomyeong edisi perdana. Cerpen tragis tentang pelayan bisu di rumah yangban di lereng Yeonhwabong Seoul kolonial, yang cinta diam-diamnya terhadap nyonya muda yang dianiaya berujung pada kebakaran dan pengorbanan terakhir. Mahakary
Pagera Editorial
Pada Juli 1925, di tengah masa kolonial Jepang yang mencengkeram setiap sendi kehidupan rakyat Korea, seorang penulis muda berusia 23 tahun yang sudah tergerogoti tuberkulosis menerbitkan sebuah cerpen yang segera dikenang sebagai salah satu mahakarya neo-naturalisme Korea modern. Namanya Na Do-hyang (羅稻香, 1902~1926). Judul cerpennya: Si Bisu Samryong (벙어리 삼룡이, Beongeori Samryong-i). Setahun kemudian, sang penulis meninggal di usia 24. Karya yang ia tinggalkan ini tetap berdiri sebagai salah satu cerpen tragis paling utuh dalam kanon sastra Korea modern.
Lereng Yeonhwabong, Kini Cheongyeopjeong
Latar ceritanya adalah Yeonhwabong—Bukit Teratai—sebuah punggungan kecil di Seoul yang kini dikenal sebagai Cheongyeopjeong. Pada 1925, tempat itu masih dihuni keluarga-keluarga yang mengaku berkedudukan, walau hanya sepuluh rumah. Salah satunya adalah rumah Tuan O Saengwon, seorang bangsawan rendah berkulit tampan dan suara bergetar bagai dengung tonggeret musim panas. Ia rajin, murah hati, dan dihormati warga. Tetapi anak tunggalnya, pewaris tiga generasi turun-temurun, sungguh sebaliknya: berumur tujuh belas tahun tetapi tampak empat belas, kejam terhadap manusia dan binatang.
Pelayan Bisu yang Setia
Di rumah itu juga tinggal Samryong, pelayan bisu berusia dua puluh tiga tahun. Tubuhnya pendek tambun, lehernya tak menjulur, wajahnya buruk, rambutnya berdiri tegak macam bulu landak. Warga kampung tak pernah memanggilnya Samryong; mereka memanggilnya, "Si Bisu, Si Bisu." Tetapi Samryong, yang tak pernah mendengar pun panggilan itu, adalah perlambang kesetiaan yang murni: rajin, jujur, kuat, sabar terhadap segala siksaan tuan mudanya.
Setiap kali tuan muda menyumpalkan tinja ke mulutnya saat ia tertidur siang, atau mengikat erat tangan dan kakinya lalu menyelipkan sumbu api yang menyala di sela jarinya—Samryong menahan segalanya. Dalam hatinya ia hanya berkata, "Tidak, ia adalah anak tuanku. Ia adalah tuan mudaku." Ia tahu nasibnya hanyalah hidup di sini dan mati di sini.
Pengantin Muda dari Keluarga Yangban yang Jatuh
Musim gugur tahun itu, anak Tuan O menikah. Pengantinnya seorang gadis berusia sembilan belas tahun—dua tahun lebih tua dari mempelai lelaki—keturunan keluarga yangban yang telah jatuh. Tuan O membeli pengantin perempuan dari seorang janda di Namchon dengan biaya tiga puluh ribu ryang, dan terus mengirim dua ribu lima ratus ryang setiap bulan ke keluarga mempelai sebagai biaya jahit dan cucian.
Sang Nyonya Muda jelita, anggun, dan terdidik di rumah tangga Konfusian lama. Tetapi sejak hari pernikahan, mempelai lelaki menolak masuk ke kamar pengantin, menghempaskan rambut istrinya ke lantai, melemparkan nampan makan ke halaman, melemparkan pakaian ke tempat sampah. Sang Nyonya Muda menjadi orang yang menangis siang dan malam.
Bidadari yang Tak Boleh Disentuh
Di antara orang-orang yang menyaksikan ini setiap hari, ada satu hati yang menyimpan kebingungan tak terbahasakan: Samryong. Bahwa seorang perempuan begitu cantik, begitu lembut, begitu mulia—yang bagi pandangannya seperti bidadari yang berani-beraninya disentuh pun tidak—dapat dipukuli seperti dirinya, baginya adalah teka-teki yang sama sekali tak bisa dipecahkan.
Suatu malam berbulan, Samryong berbaring miring di tikar di halaman belakang, mengelus punggung anjing hitam, memandang langit. "Saat aku memikirkan Sang Nyonya Muda, ia lebih indah daripada bulan di langit, lebih bersih daripada bintang-bintang." Demikianlah, secara naluriah, tumbuh perasaan iba yang membara—rasa siap mengorbankan nyawa demi sang nyonya yang dianiaya.
Pundi Sumbu Api dan Tongkat Pohon Abu
Suatu hari, anak tuannya pulang mabuk dan dihajar di jalan. Samryong menggendongnya pulang. Sang Nyonya Muda, terharu pada kesetiaan si bisu, membuatkan sebuah pundi sumbu api dari potongan kain sutra bekas pakai dan memberikannya kepadanya. Pundi inilah yang tertangkap mata mempelai lelaki. Malamnya, Sang Nyonya Muda diseret ke halaman dengan rambut terurai, dipukuli sampai berdarah. Samryong, melihat ini, menyerbu masuk bagai singa mengamuk, mendorong tuan muda, mengangkat pengantin perempuan di pundaknya, lalu membawanya ke hadapan Tuan O.
Esok paginya, Samryong dihantam wajahnya dengan tongkat pohon abu Korea sampai pipinya menggembung sebesar kepalan tangan. "Si bisu jahanam ini, berani-berani menyentuh istriku!"—begitu kata mempelai lelaki. Pundi sumbu api dirobek dan dibuang ke jamban. Samryong tak boleh lagi masuk ke ruang dalam. Dadanya membara. Kerinduan akan Sang Nyonya Muda mengalahkan rasa lapar dan kantuk.
Malam Pengusiran dan Kobaran Api
Lalu terjadilah malam fatal itu. Mendengar berita bahwa Sang Nyonya Muda tampaknya hendak bunuh diri, Samryong memanjati tembok belakang kamar seberang dan menerobos masuk. Ia menggenggam tangannya yang sedang menggenggam sehelai handuk sutra panjang—bersiap untuk gantung diri. Seisi rumah jadi gempar. Esoknya, Samryong dihajar dengan tongkat berinti besi dan sabit. Tuan muda melempar pakaian dan sepatunya, menendangnya keluar.
"Pergi! Sekarang kau tak boleh tinggal di rumah kami lagi!"
Malam itu, malam sudah larut. Dari kejauhan hanya terdengar suara ayam berkokok dan anjing menggonggong. Kobaran api yang entah dari mana mengepung rumah Tuan O—seakan-akan sudah disiapkan jauh sebelumnya. Di sekeliling tepian rumah, jerami yang sengaja ditebarkan berkobar serempak.
Pengorbanan Terakhir, Senyum Damai
Di tengah kobaran api, satu orang menerjang masuk—Samryong yang siang hari diusir. Ia menggendong Tuan O keluar. Ia menerjang ke kamar seberang, ke kamar utama, ke dapur, ke gudang—mencari Sang Nyonya Muda di tengah kasau atap yang runtuh dan tiang pintu yang patah. Wajahnya melepuh, lengan kirinya patah, rambutnya terbakar gundul. Akhirnya, di kamar seberang, ia menemukan Sang Nyonya Muda berbaring di bawah selimut, menerima kematian dalam api.
Ia mendekap Sang Nyonya Muda. Tak ada jalan keluar—ia naik ke atap. Saat itulah ia tahu bahwa di dada ia merasakan kegembiraan dan kelegaan yang tak pernah ia kecap sebelumnya. Ia mendekap Sang Nyonya Muda kuat-kuat di dadanya, menerobos kobaran api, dan keluar ke pekarangan. Saat ia menurunkan Sang Nyonya Muda di sana, ia sendiri telah putus napas.
Rumah pun terbakar habis. Si bisu berbaring di pangkuan Sang Nyonya Muda. Apakah amarah dan duka batinnya ikut padam bersama api itu? Hanya senyum damai nan bahagia yang tipis menyingkap di sudut bibirnya.
Tragedi Sosial dalam Bingkai Realisme Romantik
Inilah Na Do-hyang di puncak kemampuannya. Tidak seperti naturalisme Émile Zola yang menggiring tokoh ke kemerosotan total, atau naturalisme Kim Dong-in di Kentang yang mengakhiri dengan korupsi yang membungkam—Na Do-hyang mengubah tragedi sosial menjadi puisi pengorbanan. Cinta bisu yang murni menebus segala ketidakadilan kelas. Senyum di sudut bibir Samryong setelah ia putus napas adalah jawaban diam yang lebih tajam daripada seribu protes sosial.
Pelajari lebih lanjut tentang Na Do-hyang di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Korea di Wikisource Korea.
Baca Si Bisu Samryong karya Na Do-hyang di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.