Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 4 mnt
Buah Ceri: Ringkasan Cerpen Otobiografis Dazai Osamu 1948
Mei 1948, beberapa bulan sebelum bunuh dirinya, Dazai Osamu menerbitkan Buah Ceri (Outou): cerpen otobiografis tentang seorang ayah pascaperang yang minum karena putus asa, anak laki-laki empat tahun yang tidak bisa bicara, dan piring buah ceri yang dimakan ayah sendirian.
Pagera Editorial
Bulan Mei 1948, hanya beberapa bulan sebelum ia menenggelamkan diri di sungai Tamagawa, Dazai Osamu menerbitkan satu cerpen pendek di majalah Sekai. Judulnya cuma satu kata: Outou, atau Buah Ceri.
Karya ini berukuran kecil, tidak sampai 5.000 kata, dan plotnya bahkan lebih kecil lagi. Sebuah keluarga miskin di Tokyo pascaperang. Tiga anak. Suatu pertengkaran rumah tangga yang lembut. Dan piring buah ceri di akhir cerita. Tapi di dalam ruang kecil itu, Dazai memadatkan seluruh kontradiksi seorang lelaki Jepang pascaperang menjelang ujung hidupnya.
Tiga Anak, Satu Ruang Tiga Tatami
Cerita dibuka dengan epigraf dari Mazmur 121: "Aku menatap ke pegunungan, mengangkat mataku." Lalu langsung kalimat pertama yang menusuk: "Orang tua lebih berharga daripada anak, begitulah aku ingin berpikir."
Dazai langsung memberi peringatan bahwa kalimat itu adalah kontradiksi diri. Ia ingin berpikir begitu, tapi tidak benar-benar berpikir begitu. Yang sebenarnya: orang tua justru lebih rapuh daripada anak.
Lalu kita masuk ke satu ruang tiga tatami di rumah seorang novelis Tokyo. Musim panas. Keringat. Tiga anak: putri sulung tujuh tahun, putra empat tahun, putri bungsu satu tahun. Sang ibu menyusui bayi sambil melayani makan malam, mengelap tumpahan, mengusap hidung, "bekerja seperti memiliki delapan tangan dan enam lengan". Sang ayah mengusap keringat dari hidungnya sambil mengeluh.
Lembah Air Mata
Lalu sang ibu berkata satu kalimat yang menjadi sumbu api seluruh cerita: "Di antara payudara ini dan payudara itu... lembah air mata..."
Sang ayah membisu. Karena ia tahu artinya. Karena lembah air mata bukan hanya bagian tubuh ibu yang lelah menyusui. Itu adalah tempat di mana semua duka rumah tangga ini berkumpul: kemiskinan, putra yang tidak tumbuh, suami yang terus minum.
Putra Empat Tahun yang Tidak Bicara
Di tengah cerita, Dazai menuliskan paragraf yang paling sulit dibaca. Putra empat tahun di keluarga ini kurus kering, belum bisa berdiri, hanya bisa mengucapkan "Aa" atau "Daa", tidak bisa memahami kata-kata orang. Suami-istri ini menghindari membicarakannya secara mendalam. Karena begitu kata idiot atau bisu diucapkan dan saling dibenarkan, terlalu menyedihkan.
Sang ibu kadang-kadang memeluk anak itu erat-erat. Sang ayah kadang-kadang secara impulsif memikirkan untuk memeluk anak itu dan terjun ke sungai. Lalu Dazai menyisipkan satu paragraf koran sebagai bingkai: berita pembunuhan ayah terhadap putra bisu dengan kapak pembelah kayu. "Berita koran semacam ini juga membuatku minum karena putus asa."
Yake-zake dan Kontradiksi Suami-Istri
Dazai memperkenalkan satu kata Jepang yang menjadi inti cerpen ini: yake-zake. Miras yang diminum bukan karena gembira, tapi karena kekesalan, perasaan tak nyaman, karena tak bisa menyuarakan apa yang dipikirkan. "Orang yang kapan saja bisa menyatakan dengan jelas apa yang dipikirkannya, tidak akan minum yake-zake."
Lalu pertengkaran yang sangat tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Hanya kalimat-kalimat singkat: "Pekerjakan saja seseorang." "Susah sekali mencari orang yang mau datang." "Apa Ayah menganggap aku tidak pandai mempekerjakan orang?" "Bukan begitu..."
Lalu sang suami berdiri, mengeluarkan amplop honor naskah dari laci, membungkus naskah dan kamus dengan kain hitam, dan keluar "dengan ringan seperti bukan benda". "Sudah tidak lagi soal bekerja. Aku hanya memikirkan bunuh diri. Lalu aku berjalan lurus ke tempat minum miras."
Piring Buah Ceri
Di bar, ayah menemukan sebuah hidangan yang langka di tahun 1948 Jepang pascaperang: sepiring buah ceri (sakuranbo). Anak-anaknya di rumah belum pernah melihat buah ceri seperti ini. Kalau tangkainya dirangkai dengan benang dan dikalungkan, akan tampak seperti kalung dari karang merah.
Tapi sang ayah tidak membawanya pulang. Ia memakan buah ceri itu sendirian, "dengan amat enggan, dimakan dan biji diludahkan, dimakan dan biji diludahkan, dimakan dan biji diludahkan." Tiga kali pengulangan, satu untuk setiap anak yang ditinggalkan di rumah. Lalu kalimat penutup, dikatakan dalam hati seperti gertakan kosong: orang tua lebih berharga daripada anak.
Kenapa Dazai Memilih Buah Ceri
Sakuranbo, atau buah ceri Jepang, di tahun 1948 Tokyo pascaperang adalah barang mewah. Sistem ransum masih berlaku, banyak orang tak bisa membeli buah segar. Bahwa sang ayah memakannya sendirian di bar, sementara tiga anaknya "mungkin belum pernah melihat buah ceri", adalah pengakuan paling tajam yang pernah ditulis Dazai tentang kerentanan dan keegoisan seorang ayah yang sudah hampir habis.
Tujuh minggu setelah Buah Ceri diterbitkan, pada 13 Juni 1948, Dazai Osamu menenggelamkan diri di sungai Tamagawa bersama kekasihnya. Hari kematiannya, 19 Juni, kemudian diperingati sebagai Outou-ki atau Hari Buah Ceri.
Bagi yang ingin mengenal karya Dazai lainnya, tersedia Untuk Kawabata Yasunari karya Dazai Osamu di Pagera.
Pelajari lebih lanjut tentang Dazai Osamu di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.
Konteks: Buah Ceri ditulis di akhir hidup Dazai pascaperang, gambaran minum-minum dan kontradiksi diri di sini bersifat refleksi sastra atas trauma zaman Showa pasca-1945, bukan glorifikasi gaya hidup.
Baca Buah Ceri karya Dazai Osamu di Pagera, cerpen lengkap 67 paragraf dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.