Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Cahaya Lentera Tōson: Tiga Hari di Ambang Sanatorium Pantai Sagami 1910

Cahaya Lentera (灯火) karya Shimazaki Tōson sekitar 1909-1910 adalah cerpen realis naturalis yang mengisahkan tiga hari Nyonya Iijima Eiko di losmen pantai Sagami sebelum akhirnya, dipapah pemilik losmen yang gemuk, ia menyeret diri menuju Sanatorium Kaihin-in yang setiap malam menyala lentera-lentera

Pagera Editorial

Cahaya Lentera Tōson cerpen Meiji adalah salah satu cerpen naturalis paling cermat dari Shimazaki Tōson (1872-1943), salah satu dari empat tokoh utama gerakan naturalisme Jepang. Cerpen sekitar enam ribu sembilan ratus kata ini, ditulis pada masa peralihan Tōson dari novel besar Hakai (1906) menuju Ie (1910-1911), merekam tiga hari penuh keraguan seorang ibu kelas menengah yang harus meninggalkan tiga anaknya untuk masuk sanatorium tuberkulosis pantai.

Latar: Stasiun Kecil di Pesisir Sagami

Tōson membuka cerpen dengan sebuah gerak meninggalkan dunia: Nyonya Iijima ― Eiko, setelah memutuskan untuk melepaskan segala urusan, meninggalkan anak-anaknya di rumah di Tokyo. Dengan hanya ditemani Otsuru, pelayan tua yang sudah berumur, ia turun dari kereta api di stasiun kecil di pantai Sagami (pesisir Prefektur Kanagawa selatan) — tempat yang dulu sering ia lalui begitu saja saat berlibur ke Hakone atau Atami bersama suami dan anak-anak.

Tujuannya: Sanatorium Kaihin-in (海浜院, lit. ‘Pondok Tepi Laut’) — rumah sakit tuberkulosis pantai bergaya Barat yang tersembunyi di balik hutan pinus yang gelap. Tukang kereta tangan (jinrikisha) menunjukkan jalannya. Eiko dan Otsuru pertama-tama menginap di Losmen Tsutaya, penginapan tradisional dekat sanatorium, di lantai dua yang bisa memandang langsung ke jendela-jendela rumah sakit.

Hari Pertama: Lentera yang Memanggil

Malam pertama, Eiko memandang dari pagar koridor lantai dua losmen. Dari jendela-jendela bangunan sanatorium yang gelap, cahaya lentera bocor keluar. Eiko berbicara pelan, seolah anak-anak ada di sampingnya: Itu sanatorium. Itu sanatorium ibu. Sebentar lagi ibu juga akan pergi ke tempat yang cahaya lenteranya menyala itu.

Nyonya pemilik Losmen Tsutaya — perempuan besar dan gemuk yang terbiasa menerima tamu pasien — menceritakan kisah-kisah pasien yang sembuh: ada yang seumur Eiko, suami juga masih muda, sudah punya anak, dan diharapkan pulang setelah satu musim dingin lagi dengan surat kesembuhan penuh. Eiko tertawa feminin dan menulis surat untuk suaminya. Otsuru, pelayan setia dengan tubuh kekar tetapi suara lembut, membentang futon dan mendorong Nyonya untuk segera berbaring. Dalam mulutnya sebelum tidur, Eiko memanggil nama satu per satu anak-anaknya.

Hari Kedua: Otsuru Pulang ke Tokyo

Pagi keesokan harinya, Sanatorium Kaihin-in terlihat dengan jelas dari lantai dua losmen: bangunan tinggi bergaya Barat, ada perawat berseragam putih, ada yang membuka jendela untuk menjemur. Eiko berjalan sendirian ke pantai, menghirup udara ozon (oksigen tiga atom, kala itu dianggap menyembuhkan tuberkulosis), memandang Gunung Fuji, memungut batu-batu kecil untuk anak-anaknya.

Di pantai, ia juga melihat seorang perempuan pasien yang berjalan layu — perempuan yang penyakitnya jelas sudah parah. Bagi Nyonya, cepat saja ia bisa membedakan apakah seseorang berpenyakit paru atau tidak. Kemampuan ini Eiko peroleh dari pengalaman langsung menyaksikan kakak perempuannya — perempuan berkulit putih dan rapuh yang mewarisi rumah induk Iijima, juga menikah dengan suami adopsi, juga punya anak, dan akhirnya mati di kamar tatami sambil terus memainkan shamisen nagauta sampai napas terakhir.

Pulang ke losmen, Eiko menyuruh Otsuru pulang ke Tokyo untuk menjaga anak-anak: Tak usah, soal saya tidak perlu kau khawatirkan begitu. Lebih baik kau jaga anak-anak. Otsuru bingung, lalu menuruti. Sebelum berangkat, Otsuru berkata dengan suara yang ditahan: Soal rumah, sebaiknya untuk sementara dilupakan dulu. Nyonya itu, terlalu memikirkan segala-galanya.

Hari Ketiga: Kaki yang Tak Bisa Maju

Sore hari Eiko memutuskan untuk pergi ke sanatorium. Ibu pergi. Ibu pergi menyembuhkan peyut-peyutnya, ya — demikian ia bergumam, menggunakan kata kiiki (peyut-peyut, bahasa anak-anak untuk penyakit paru) yang juga ia pakai pada putri sulungnya. Tetapi anehnya, kakinya tak bisa maju. Saat ia tiba di sisi hutan pinus, sosok perempuan pasien yang layu di pantai pagi tadi berkelap-kelip di matanya. Berbaur dengan orang-orang seperti itu, berbaring di atas tempat tidur tak dikenal — hal itu tak bisa ia tanggung. Ia berbalik kembali ke losmen.

Malam itu, terdengar suara fonograf (mesin pemutar piringan hitam awal abad ke-20) dari lantai bawah, tetapi Eiko hanya bersandar di pagar koridor. Di luar, lentera-lentera Sanatorium Kaihin-in kembali menyala. Di dalam kepalanya terdengar suara putri sulungnya: Ibu, kenapa ibu tidak segera pergi ke tempat yang cahaya lenteranya menyala itu? Eiko menjawab dalam mulutnya: Ibu pergi. Ibu pergi.

Penutup: Dipapah Menuju Cahaya

Hari ketiga, demam mulai keluar di tubuhnya. Lewat pukul sembilan pagi Eiko bertekad keras untuk masuk hari itu juga, tetapi tekad itu pun tumpul tepat saat hendak berangkat — dua kali, tiga kali, ia berdiri ragu-ragu. Nyonya pemilik losmen yang besar dan gemuk datang dan menarik tangannya: Tak apa-apa, kalau sudah datang dan terbiasa, tak ada apa-apa. Saya sering antar semua orang ke sanatorium.

Pada sore hari ketiga, Eiko meninggalkan Losmen Tsutaya — itu pun bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dipapah oleh Nyonya pemilik losmen yang besar dan gemuk, seperti diseret paksa. Dari sela hutan pinus yang gelap, cahaya lentera Sanatorium Kaihin-in berkelap-kelip. Menginjak jalan berpasir yang berbunyi kresek-kresek, Eiko bergantung di bahu pemilik losmen, mendekati cahaya itu selangkah demi selangkah.

Mengapa Kisah Ini Penting

Cahaya Lentera adalah salah satu cerpen Tōson yang paling cermat mengamati ambivalensi penyembuhan: keinginan sembuh untuk anak-anak vs ketakutan menjadi sosok kakak yang mati di tempat tidur, kebebasan vs kesepian, sehat vs sakit yang sudah mulai. Bagi pembaca Indonesia, cerpen ini adalah pintu masuk untuk memahami sastra naturalis Jepang Meiji bukan sebagai eksotisme oriental, tetapi sebagai sastra manusiawi yang mengamati psikologi seorang ibu dengan logika perasaan yang dapat dipahami secara universal.

Tōson lahir di Magome (kini Prefektur Nagano), memulai karier sebagai penyair romantik dengan kumpulan Wakanashū (1897), lalu beralih ke prosa naturalis dengan Hakai (Pelanggaran, 1906) yang mengangkat diskriminasi kasta burakumin, dilanjutkan Haru (1908), Ie (1910-1911), dan masterpiece Yoake-mae (Sebelum Fajar, 1929-1935).

Pelajari lebih lanjut tentang Tōson di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Cahaya Lentera karya Shimazaki Tōson di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera