Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Daun Terakhir O. Henry: Ringkasan Lengkap dan Twist Greenwich Village 1907

Daun Terakhir (The Last Leaf) karya O. Henry tahun 1907 adalah salah satu cerita pendek Amerika paling dicintai di seluruh dunia. Di kawasan bohemian Greenwich Village, pelukis muda Johnsy yang terbaring sakit pneumonia menghitung daun-daun ivy yang gugur dan yakin akan mati ketika daun terakhir jat

Pagera Editorial

Daun Terakhir O. Henry cerpen Greenwich Village adalah salah satu cerita pendek Amerika paling dikenang di abad ke-20. Diterbitkan tahun 1907 dalam kumpulan The Trimmed Lamp, and Other Stories of the Four Million, cerpen sepanjang sekitar dua ribu tiga ratus kata ini menggabungkan ciri khas O. Henry (William Sydney Porter, 1862-1910): latar New York yang akrab, ironi yang tertahan, dan twist akhir yang memukul tanpa berteriak.

Latar: Greenwich Village 1907

O. Henry membuka dengan deskripsi khasnya tentang sebuah distrik kecil di sebelah barat Washington Square di Manhattan: jalan-jalan kecil yang disebut places membentuk sudut-sudut aneh dan kadang memotong diri mereka sendiri. Kawasan ini, Greenwich Village, pada awal abad ke-20 menjadi koloni seniman karena tiga hal: jendela menghadap utara (pencahayaan stabil untuk pelukis), atap pelana gaya abad ke-18, dan sewa murah.

Di puncak sebuah bangunan bata tiga lantai, dua pelukis muda berbagi studio: Sue (dari Maine, di pantai timur Amerika) dan Johnsy (panggilan akrab untuk Joanna, dari California di pantai barat). Mereka bertemu di sebuah table d'hôte kecil di Eighth Street dan menemukan selera mereka tentang seni, salad chicory, dan lengan bishop begitu cocok sehingga studio bersama pun terwujud.

Pneumonia: Personifikasi Penyakit

Pada November, narator memperkenalkan tokoh ketiga: Tuan Pneumonia, seorang asing dingin dan tak terlihat yang berkeliaran di koloni. O. Henry mempersonifikasikan penyakit sebagai "tua bangka bertinju merah dan bernapas pendek" — bukan tuan tua yang berjiwa kesatria. Johnsy, perempuan mungil berdarah encer karena angin sepoi California, jatuh sakit.

Sang dokter memberi tahu Sue: peluang sembuh satu berbanding sepuluh, dan peluang itu bergantung pada kemauan pasien untuk hidup. Tetapi Johnsy sudah memutuskan ia tidak akan sembuh.

Daun-Daun Ivy: Pegangan Akhir Johnsy

Adegan kunci pertama: Sue mendapati Johnsy menghitung mundur dari jendela. Dua belas… sebelas… sepuluh… Yang dihitung Johnsy adalah daun-daun ivy di tanaman tua yang merambat di dinding bata seberang. Tiga hari lalu masih ada hampir seratus daun, kini tinggal lima. Johnsy yakin: ketika daun terakhir jatuh, aku pun harus pergi.

Sue mencoba meyakinkan dengan ejekan riang: peluang sembuh sepuluh berbanding satu adalah peluang yang baik di New York, hampir sebagus naik trem atau berjalan melewati gedung baru. Tetapi Johnsy mengunci pandangannya ke jendela. Aku ingin melihat yang terakhir jatuh sebelum gelap. Lalu aku pun pergi.

Behrman: Pelukis Tua yang Garang

Sue turun ke lantai dasar untuk memanggil Behrman, pelukis tua yang akan jadi model untuk ilustrasi majalahnya. Behrman, usianya sudah lewat enam puluh, berjanggut bagai patung Musa karya Michelangelo, gagal dalam seni selama empat puluh tahun, selalu berbicara tentang mahakarya yang akan datang tetapi belum pernah memulainya.

Behrman menanggapi cerita Sue tentang khayalan Johnsy dengan kemarahan dan dialek Jerman-Inggrisnya yang khas. Adakah orang di dunia ini dengan kekonyolan untuk mati karena daun gugur dari sulur sialan? Tetapi mata merahnya berair, dan ia setuju untuk berpose. Mereka naik bersama. Sue menarik tirai. Di luar, hujan dingin yang gigih sedang turun, bercampur salju.

Pagi Setelah Badai: Daun yang Bertahan

Esok paginya Johnsy memerintahkan tirai dinaikkan. Setelah hujan deras dan tiupan angin keras yang bertahan sepanjang malam, masih tegak di hadapan dinding bata itu sehelai daun ivy. Yang terakhir. Masih hijau gelap di pangkalnya, tepi-tepinya kuning pembusukan.

Hari merangkak. Bahkan menembus senja daun itu masih menggantung. Lalu malam datang lagi, dan angin utara kembali dilepas. Tetapi ketika cahaya pagi cukup terang dan Johnsy memerintahkan tirai dinaikkan untuk kedua kalinya — daun ivy itu masih di sana.

Saat itulah Johnsy berkata pada Sue: Aku sudah jadi gadis nakal, Sudie. Sesuatu membuat daun terakhir itu tetap di sana untuk menunjukkan padaku betapa jahatnya aku. Berdosa rasanya ingin mati.

Twist O. Henry: Mahakarya yang Tak Pernah Ditandatangani

Dokter datang siang itu dan mengabari Sue bahwa peluang Johnsy kini seimbang. Dengan perawatan baik, ia akan menang. Tetapi dokter juga menyebutkan: ada satu pasien lagi di bawah — Behrman, pelukis tua, juga pneumonia, sakit hanya dua hari, parah, tak ada harapan, akan dibawa ke rumah sakit hari itu juga supaya lebih nyaman.

Esok harinya Behrman meninggal. Dan Sue, dengan tenang merajut, memberi tahu Johnsy:

Penjaga gedung menemukannya di pagi hari pertama dalam kamarnya di bawah, tak berdaya kesakitan. Sepatu dan pakaiannya basah kuyup dan dingin membeku. Tak ada yang bisa membayangkan ke mana ia pergi pada malam yang begitu mengerikan itu. Lalu mereka menemukan sebuah lentera, masih menyala, dan sebuah tangga yang sudah diseret dari tempatnya, dan beberapa kuas yang berserakan, dan sebuah palet dengan warna hijau dan kuning yang sudah dicampur — lihatlah ke luar jendela, sayang, ke daun ivy terakhir di dinding itu. Tak pernahkah kau heran kenapa daun itu tak pernah bergetar atau bergerak ketika angin bertiup? Ah, sayang, itu mahakarya Behrman — ia melukisnya di sana pada malam ketika daun terakhir jatuh.

Inilah twist O. Henry yang tidak berteriak: mahakarya yang Behrman tunggu selama empat puluh tahun ternyata dilukisnya dalam satu malam badai, di luar jendela, di dinding bata, di tengah hujan campur salju, untuk satu pasang mata pasien yang ia anggap putri. Lukisan itu memberinya pneumonia. Lukisan itu juga menyelamatkan Johnsy.

Mengapa Cerpen Ini Penting

Daun Terakhir bertahan satu abad lebih karena ia tidak menjelaskan moralnya. Behrman tidak pernah berkata aku menyelamatkanmu. Ia tidak pernah menandatangani lukisannya. Bahkan tidak pernah memberitahu Sue. Pengorbanan itu hanya dapat dibaca dari tangga yang diseret, lentera yang masih menyala, dan cat hijau-kuning yang tersisa. O. Henry membiarkan pembaca menyusun sendiri seluruh malam itu — itulah yang membuat akhir cerita menjadi pukulan diam-diam.

Bagi pembaca Indonesia, Daun Terakhir sering menjadi pintu masuk pertama ke sastra Amerika modern di sekolah menengah. Tetapi cerpen ini layak dibaca ulang sebagai orang dewasa: ia mengajukan pertanyaan yang dewasa — tentang apa yang kita warisi tanpa nama, tentang seni yang tidak dilihat publik tetapi tetap mahakarya, tentang persahabatan yang menyamar sebagai tetangga.

Tentang O. Henry

O. Henry (William Sydney Porter, lahir di Greensboro, North Carolina, 1862) adalah master cerita pendek Amerika. Hidupnya sendiri dramatis: ia pernah dipenjara karena dakwaan penggelapan dana bank, dan justru di penjara federal di Ohio ia mulai menulis cerita pendek dengan nama pena O. Henry. Setelah bebas, ia pindah ke New York pada 1902 dan dalam waktu kurang dari satu dekade menerbitkan ratusan cerita yang merekam suasana empat juta penduduk New York — buruh harian, gadis toko, polisi patroli, pencopet, pelukis bohemian Greenwich Village. Karyanya yang paling terkenal selain The Last Leaf meliputi The Gift of the Magi (Hadiah Para Magi, 1905) dan The Cop and the Anthem (Polisi dan Lagu Pujian, 1904). Ia meninggal pada 1910 di New York pada usia 47 tahun.

Pelajari lebih lanjut tentang O. Henry di Wikipedia Indonesia dan teks asli Inggris di Project Gutenberg.

Baca Daun Terakhir karya O. Henry di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis tanpa registrasi.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera