Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 7 mnt
Petualangan Detektif yang Sekarat: Ringkasan Kisah Sherlock Holmes Conan Doyle 1913
Bu Hudson datang ke rumah Watson dengan kabar mengerikan: Sherlock Holmes sekarat akibat penyakit kuli dari Sumatra. Selama tiga hari ia tidak makan dan tidak minum, dan tidak mengizinkan dokter mendekatinya. Watson bergegas ke 221B Baker Street dan menemukan sahabatnya itu kurus tirus, parau, dan m
Pagera Editorial
Pada tahun 1913, ketika Arthur Conan Doyle sudah lama mencoba membunuh Sherlock Holmes dan akhirnya menyerah pada permintaan pembaca untuk menghidupkannya kembali, ia menerbitkan sebuah cerita pendek di The Strand Magazine yang berani melakukan satu hal jenius: membuat Holmes sendiri seakan-akan benar-benar sekarat selama empat puluh halaman penuh, sampai pembaca yakin kali ini benar-benar akhir. Cerita itu berjudul The Adventure of the Dying Detective, dan kelak masuk dalam koleksi His Last Bow tahun 1917.
Setting waktunya beberapa tahun setelah Watson menikah dan pindah ke prakteknya sendiri, tetapi ia masih sering kembali ke 221B Baker Street. Cerita ini, yang hanya 5.780 kata namun salah satu jebakan psikologis paling rapat yang pernah ditulis Doyle, mengandung sekaligus tiga ciri khas seri Holmes yang paling pekat: akting yang sempurna, penyakit asing yang mistik, dan pemilik perkebunan kolonial yang tampak hormat tetapi membusuk dari dalam.
Pembukaan: Bu Hudson Datang ke Rumah Watson
Cerita dimulai bukan di Baker Street, melainkan di rumah Watson yang sudah menikah. Bu Hudson, induk semang yang sudah bertahun-tahun bersabar dengan keganjilan penyewanya yang paling sulit di seluruh London, datang gemetar dan menangis. "Beliau sekarat, Dr. Watson," katanya. "Sudah tiga hari beliau terus melemah, dan saya khawatir hari ini pun mungkin tak akan ia lewati."
Holmes, kata Bu Hudson, baru saja menangani perkara di Rotherhithe, gang dekat sungai Thames yang penuh pelaut Tionghoa dan tikus pelabuhan. Ia pulang dengan suatu penyakit. Sejak Rabu siang ia berbaring tidak makan, tidak minum, dan tidak mengizinkan siapa pun memanggil dokter. Sampai pagi ini, ketika Bu Hudson melihat tulang-tulang Holmes menonjol di wajahnya dan kedua matanya yang besar dan berkilau menatapnya, ia tidak tahan lagi. Holmes hanya menyetujui satu nama: Watson.
Tirus, Parau, dan Mengusir Tangan Sahabat
Yang Watson temukan di Baker Street adalah salah satu pemandangan paling mengerikan dalam seluruh seri Holmes. Dalam cahaya remang November yang berkabut, ia melihat wajah kurus dan tirus itu menatapnya dari tempat tidur, mata berkilau karena demam, semburat merah panas di kedua pipi, kerak hitam di bibir, tangan yang bergerak-gerak tanpa henti, dan suara yang parau dan tersentak-sentak.
Tetapi yang lebih mengejutkan adalah respons Holmes ketika Watson mendekat: "Mundur! Mundur sekarang juga!" Holmes menolaknya dengan ketegasan tajam yang biasanya hanya muncul di saat krisis. Ini, katanya, adalah penyakit kuli dari Sumatra, sesuatu yang menular hanya lewat sentuhan, sesuatu yang orang Belanda tahu lebih banyak tentangnya daripada orang Inggris. Watson, sebagai dokter, harus menjaga jarak.
Watson sudah hampir menjemput Dr. Ainstree, ahli penyakit tropis terkemuka di London, ketika Holmes melompat dengan kecepatan harimau dari tempat tidurnya, mengunci pintu, lalu terhuyung kembali kehabisan tenaga. "Engkau tak akan bisa merebut kunci itu dariku dengan paksa, Watson. Pukul enam engkau boleh pergi. Tapi engkau harus mencari seorang yang aku pilih, bukan seorang yang engkau usulkan."
Insiden Kotak Gading di Rak Perapian
Selama dua jam menunggu, terjadi insiden yang tampaknya hanyalah letupan emosi orang sakit. Watson, gelisah, berjalan mengitari kamar tidur Holmes. Akhirnya pandangannya jatuh ke rak perapian. Di antara pipa, tembakau, suntikan, peluru revolver, dan berbagai kekacauan, ia melihat sebuah kotak gading kecil hitam putih dengan tutup geser, benda yang rapi dan sangat menggoda untuk dipegang.
Ketika Watson mengulurkan tangan, Holmes mengeluarkan jeritan yang tampaknya dapat terdengar sampai ujung jalan. "Letakkan! Letakkan, segera, Watson!" Setelah Watson meletakkan kembali kotak itu, Holmes meledak dalam kekasaran kata-kata yang sangat tak biasa: "Aku tak suka barang-barangku disentuh, Watson... Engkau cukup untuk membuat seorang pasien gila masuk rumah sakit jiwa."
Watson, sebagai pembaca pertama, mengira insiden itu hanyalah kehancuran pikiran yang luhur, salah satu dari banyak kebrutalan sementara akibat penyakit. Pembaca yang teliti akan menyimpan kotak gading ini dalam ingatannya. Karena di akhir cerita, Holmes akan menjelaskan: kotak itulah yang dikirim Culverton Smith lewat pos pada Rabu, dengan pegas tajam seperti taring ular berbisa di dalamnya.
Watson Diutus ke Culverton Smith di Lower Burke Street
Pukul enam, Holmes meminta Watson menjemput seorang bernama Tuan Culverton Smith, dari 13 Lower Burke Street, di perbatasan samar antara Notting Hill dan Kensington. Bukan dokter, tetapi seorang pemilik perkebunan Sumatra yang sedang berkunjung ke London. Penjelasan Holmes berlapis kebenaran dan kebohongan strategis: wabah penyakit di perkebunannya, jauh dari bantuan medis, memaksa Smith mempelajari penyakit itu sendiri. Ia kini orang paling tahu di muka bumi tentang demam Sumatra.
Holmes juga memberitahu Watson satu hal aneh di antara igauannya: keponakan Smith, Victor Savage, mati dengan mengerikan empat hari setelah terjangkit penyakit yang sama. Holmes pernah mencurigai kecurangan, dan Smith tahu Holmes mencurigainya. Watson harus memohon, melunakkan, membawa Smith ke sini dengan cara apa pun.
Watson menemukan Smith persis seperti yang dijelaskan: kepala botak besar yang dihiasi topi merokok beludru genit, dagu berlipat ganda, dan tubuh kecil rapuh yang menderita rakitis di masa kanak-kanak. Wajah Smith bahkan, ketika ia kira tidak diperhatikan, memantul di cermin perapian sebagai senyum jahat yang memuakkan. Tetapi ketika Smith mendengar Holmes sangat sakit dan mengigau, sikapnya berubah tense dan alert, lalu segera berjanji datang ke Baker Street dalam setengah jam.
Pengakuan di Bawah Lampu Gas yang Dibesarkan
Holmes meminta Watson sembunyi di belakang kepala tempat tidur. Apa yang Watson dengar selanjutnya adalah satu adegan paling brutal yang pernah ditulis Doyle. Smith, sendiri di kamar bersama orang yang ia kira sekarat, melepaskan segala penyamaran kesopanan.
"Anda terlalu banyak tahu tentang nasib Victor Savage, jadi saya mengirim Anda untuk turut menerimanya," katanya dingin. Ia mengingatkan Holmes tentang kotak gading yang datang lewat pos pada Rabu. Pegas di dalamnya. Tetesan darah. Anda bodoh, Anda menginginkannya dan Anda mendapatkannya. "Saya akan duduk di sini dan saya akan menyaksikan Anda mati."
Pada titik ini, Holmes melakukan tindakan yang tampaknya tidak ada artinya: ia meminta Smith membesarkan lampu gas, lalu meminta korek api dan sebatang rokok. Tetapi suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar alami. Sedikit lemah, tapi suara Holmes yang dikenal Watson. Smith berdiri membisu dalam keterkejutan.
"Cara terbaik untuk berhasil memainkan sebuah peran," kata Holmes sambil menyalakan rokok, "adalah dengan benar-benar menjadinya." Pada saat itu, Inspektur Morton, yang ditemui Watson di kabut sebelumnya, memasuki kamar. Membesarkan lampu gas adalah sinyal yang telah disepakati. "Semua sudah beres dan inilah orang Anda."
Pengungkapan Akting: Vaselin, Beladona, dan Kerak Lilin Lebah
Setelah Smith dibawa pergi dalam borgol, Holmes menjelaskan kepada Watson semua detail. Tiga hari berpuasa total adalah dasar dari penampilan kurus tirusnya. Sisanya hanyalah vaselin di dahi, beladona di mata, perona di tulang pipi, dan kerak lilin lebah di sekitar bibir. Sedikit pembicaraan sesekali tentang koin setengah-mahkota, tiram, atau topik tak nyambung lainnya menghasilkan efek igauan yang memuaskan.
Mengapa ia tidak memberi tahu Watson? Karena di antara sekian banyak bakat Watson, kemampuan berpura-pura tidak termasuk. Kalau Watson tahu rahasianya, ia tak akan pernah bisa membuat Smith merasakan keharusan mendesak untuk hadir, yang merupakan titik vital seluruh rencana. Bu Hudson, yang harus dibuat panik secara genuine, juga tidak boleh tahu.
Mengapa Holmes tidak boleh disentuh? Karena pada jarak empat yard ia bisa menipu Watson, tetapi pada jarak yang lebih dekat seorang dokter pasti akan menyadari bahwa pria sekarat ini, betapa pun lemahnya, sama sekali tidak ada kenaikan denyut nadi maupun suhu tubuh. Penampilan dahsyat itu adalah hasil tiga hari kelaparan, kosmetik teatrikal, dan keluwesan suara seorang aktor yang terlalu siap mengorbankan tubuhnya sendiri untuk menangkap pembunuh keponakan saingannya.
Akhir: Simpson's, Steak, dan Kotak yang Akan Menjadi Bukti
Holmes menyegarkan diri dengan segelas anggur claret dan beberapa biskuit di sela-sela berpakaian. Ia mengingatkan Watson agar tidak menyentuh kotak gading di meja: "Engkau bisa melihat, jika engkau memandanginya dari samping, di mana pegas tajam seperti taring ular berbisa itu muncul saat engkau membukanya." Itulah, ia menyimpulkan, alat yang digunakan Smith untuk membunuh Victor Savage, yang berdiri di antara monster ini dan hak warisnya.
Akhir cerita ini sangat khas Doyle: Holmes, Watson, dan Inspektur Morton berjalan keluar ke kabut Baker Street, menuju kantor polisi terlebih dahulu, lalu menuju restoran Simpson's di The Strand untuk makan sesuatu yang bergizi. Karena, sebagaimana Holmes katakan, tiga hari berpuasa total bagaimanapun juga harus dihentikan dengan steak yang baik.
Bagi yang ingin menikmati lebih banyak cerita detektif klasik dan sastra dunia public domain, Pagera juga menyediakan The Disappearance of Lady Frances Carfax karya Doyle dan banyak karya Conan Doyle lainnya.
Pelajari lebih lanjut tentang Arthur Conan Doyle di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Inggris di Project Gutenberg.
Baca Petualangan Detektif yang Sekarat karya Arthur Conan Doyle di Pagera, cerita lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.