Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Dia Akutagawa: Ringkasan Cerpen Otobiografis 1927

Dia Akutagawa cerpen otobiografis terakhir tahun 1927 — monolog batin seorang narator yang mengenang sahabat lama yang gemar Marx dan Baudelaire, jatuh cinta pada sepupunya, dan meninggal di pesisir karena tuberkulosis ginjal.

Pagera Editorial

Dia Akutagawa cerpen berjudul Kare (彼) yang ditulis pada 13 November 1926 dan diterbitkan tahun 1927 adalah salah satu karya otobiografis terakhir Ryūnosuke Akutagawa. Cerpen pendek ini, hanya sekitar empat ribu sembilan ratus kata dalam bahasa Jepang asli, menyimpan sebuah dunia kenangan yang lembut dan tajam: kenangan tentang seorang sahabat lama yang tak pernah disebut namanya, hanya dipanggil "Dia" sepanjang cerita.

Pembukaan: Kamar di Atas Mesin Cetak

Narator, yang menyebut dirinya "aku", membuka cerita dengan mengingat kamar enam tatami di lantai dua sebuah percetakan di Hongō. Setiap kali mesin cetak rotari di bawah mulai berputar, kamar itu berguncang seperti kabin kapal uap kecil. Di sanalah Dia, sahabat lamanya, tinggal setelah keluar dari rumah Paman yang membesarkannya.

Aku, yang waktu itu masih murid Ikkō (Sekolah Tinggi Pertama Tokyo), sering datang ke kamar itu selepas makan malam di asrama. Dia selalu duduk di bawah jendela kaca, menundukkan leher yang ramping, dan menguji nasibnya dengan kartu remi. Di atas kepalanya, sebuah lampu gantung berisi minyak melemparkan satu lingkaran bayangan bundar. Gambaran ini menjadi inti seluruh cerita: dua sahabat muda, satu lampu, satu kamar yang berguncang.

Adik Perempuan dan Pinggiran Kameido

Bagian kedua membawa pembaca ke kawasan pinggiran dekat Kameido, tempat adik perempuan Dia tinggal setelah menikah. Rumah deret muratsuwari yang sempit, seorang istri muda yang menyusui bayinya, pertanyaan canggung tentang buku-buku kōdan yang dibaca suaminya. Dia berbicara dengan sungguh-sungguh, hampir membenturkan dirinya pada percakapan yang tidak nyambung.

Setelah keluar dari rumah itu, dalam perjalanan pulang menyusuri pagar bambu gaya Kennin-ji, Dia mengucapkan satu kalimat yang tidak akan dilupakan oleh aku: "Kalau berjalan terus seperti ini, jariku jadi gemetar dengan aneh. Seperti sedang dialiri listrik." Kalimat itu menangkap seluruh sensitivitas dan kerapuhan Dia dalam satu gambar.

Marx, Baudelaire, dan Golden Bat

Bagian ketiga adalah potret intelektual muda Periode Taishō. Setelah gagal ujian masuk Ikkō, Dia mulai tergila-gila pada buku-buku Marx dan Engels. Aku, yang waktu itu memuja Verlaine, Rimbaud, dan Baudelaire sebagai berhala melampaui berhala, terus didebat habis-habisan oleh Dia yang menyebut para penyair itu "tak lebih dari pembuat hashish dan opium".

Teman ketiga, seorang siswa kedokteran bernama K, selalu mencemooh perdebatan mereka. K mengajak mereka pergi ke Susaki, kawasan hiburan Tokyo Taishō. Tapi Dia, sambil menggigit rokok Golden Bat, dengan sikap superior tenang menolak dengan kalimat yang menjadi terkenal: "Revolusi pada akhirnya adalah menstruasi sosial, kan begitu."

Tuberkulosis Ginjal dan Cinta Murni

Bagian keempat menggelap. Setelah masuk Rokkō (Sekolah Tinggi Keenam Okayama), Dia jatuh sakit dan kembali ke rumah Paman. Diagnosisnya tuberkulosis ginjal. Di dalam tempayan kencing di sudut kamarnya, hampir selalu terlihat kencing berdarah yang berkilauan tembus pandang.

Tapi yang menghibur Dia bukan obat-obatan, melainkan cinta yang sangat murni terhadap putri Paman, yang dipanggil Miyo-chan dalam cerita. Pada suatu sore yang berawan musim bunga, Dia akhirnya mengaku kepada aku bahwa ia diam-diam membaca buku harian Miyo-chan dan menemukan tulisan tentang seorang mahasiswa yang dikenal Miyo-chan di trem.

Aku, hampir tanpa berpikir, menyindir: "Bukankah itu kontradiktif? Kau boleh saja mencintai Miyo-chan, tapi Miyo-chan tak boleh mencintai orang lain — logika semacam itu tak ada dasarnya." Dia jelas tidak senang, tapi tidak membantah. Aku pulang ke asrama di Yayoi-chō dengan hati yang nyaris pasrah, dan tak bisa berhenti merasa iri kepada Dia yang patah hati namun setidaknya memiliki seseorang yang dicintai.

Pantai dan Samudra Pasifik

Bagian kelima membawa cerita ke pesisir. Dia pindah berobat ke suatu pantai, tinggal di rumah sakit yang dilewati angin dari celah. Aku mengunjunginya saat libur musim dingin. Di kamar pasiennya, Dia memandangi pohon palem di luar jendela dan berkata, "Aku, setiap melihat pohon palem itu, jadi anehnya merasa ingin bersimpati."

Mereka berdua keluar berjalan ke pantai setelah makan malam. Duduk di lereng bukit pasir, melihat burung-burung laut kecil terbang. Dia menyuruh aku memasukkan tangan ke dalam pasir di antara rumput pantai Kōbō-mugi yang kering. Panas matahari masih tersisa samar-samar di sana. Adegan ini, dengan Samudra Pasifik yang hitam pekat dan tenang membentang di hadapan mereka, adalah inti emosional seluruh cerita.

Kematian dan Kartu Pos Berbingkai Hitam

Bagian terakhir singkat dan tajam. Aku menerima kabar kematian Dia tepat pada Tahun Baru Imlek tahun berikutnya. Para dokter dan perawat di rumah sakit malam itu sedang bermain karuta sampai larut malam. Dia, yang tak bisa tidur karena keramaian, marah dan membentak mereka dengan suara keras, lalu mengalami pendarahan besar dari paru-parunya dan langsung meninggal.

Aku menerima kartu pos berbingkai hitam dengan kalimat yang ditulis tangan di sudutnya: buku-buku milik almarhum telah dibakar bersama jenazahnya. Di antara buku-buku itu pasti tercampur jilid satu Jean-Christophe karya Roman Rolland yang pernah dipinjamkan aku.

Pertemuan Terakhir dengan K

Cerita ditutup dengan pertemuan singkat aku dengan K. K bertanya dengan dingin, "Setelah X mati begini, apa kau merasakan semacam perasaan sebagai pemenang yang muncul dalam dirimu?" Aku terdiam ragu-ragu. K menjawab pertanyaannya sendiri: "Setidaknya aku merasakan hal itu."

Kalimat penutup cerpen adalah satu baris yang mengganggu: sejak saat itu, aku mulai merasakan sedikit kecemasan setiap akan bertemu K.

Mengapa Cerpen Ini Penting

Dia ditulis sembilan bulan sebelum Akutagawa bunuh diri pada Juli 1927. Cerpen ini adalah salah satu karya akhir di mana ia berhenti menulis dongeng dan kisah Edo, dan beralih sepenuhnya ke pengakuan diri otobiografis. Tidak ada plot besar, tidak ada ironi tajam seperti dalam Rashōmon. Hanya pengamatan yang sangat presisi tentang kehilangan, kerapuhan kawan muda, dan rasa cemas yang tidak bisa dijelaskan tentang dunia yang ditinggalkan.

Bagi pembaca Indonesia, cerpen ini adalah pintu yang lembut untuk masuk ke karya akhir Akutagawa yang lebih kompleks seperti Aru Ahō no Isshō (Seumur Hidup Seorang Tolol). Tersedia juga karya Akutagawa lainnya di Pagera, antara lain Sennin dan Untuk Kawabata Yasunari karya Dazai Osamu yang ditulis delapan tahun kemudian dalam tradisi pengakuan diri serupa.

Pelajari lebih lanjut tentang Akutagawa di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Dia karya Ryūnosuke Akutagawa di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera