Ringkasan · 2026-05-17 · Waktu baca ~ 4 mnt
Ringkasan Dongyang Pyeonghwa Ron — An Jung-geun (1910)
Ringkasan risalah perdamaian Asia Timur yang belum selesai oleh An Jung-geun (1879-1910), ditulis di Penjara Lushun sebulan sebelum eksekusi. Visi Pan-Asianisme setara Korea-Tiongkok-Jepang.
Pagera Editorial
Dongyang Pyeonghwa Ron: Risalah Perdamaian Asia Timur yang Belum Selesai
Penulis: An Jung-geun (안중근, 1879~1910) Judul Asli (Korea): 동양평화론 (東洋平和論) Diterbitkan: Februari 1910, Penjara Lushun (旅順) Format: Risalah pemikiran politik, belum selesai (hanya bagian "Pendahuluan" dan "Cermin Sejarah" yang terselesaikan sebelum eksekusi) Versi Pagera: Terjemahan Korea modern dari teks asli berbahasa Tionghoa Klasik, dipublikasikan di Wikisource Korea
Tentang Karya Ini
Dongyang Pyeonghwa Ron adalah risalah pemikiran politik terakhir yang ditulis An Jung-geun di penjara Lushun (旅順, Port Arthur, Manchuria) pada Februari 1910, hanya satu bulan sebelum eksekusi gantungnya pada 26 Maret 1910. Ditulis dalam bahasa Tionghoa Klasik, risalah ini adalah jawaban filosofis An Jung-geun atas pertanyaan: mengapa ia menembak Ito Hirobumi, Residen-Jenderal Jepang pertama di Korea, di Stasiun Harbin pada 26 Oktober 1909?
Jawabannya bukan sekadar balas dendam atas penindasan Jepang terhadap Korea. Jawabannya, menurut An Jung-geun sendiri, adalah demi perdamaian Asia Timur (Dongyang Pyeonghwa, 東洋平和) sebagai keseluruhan.
Garis Besar Karya
An Jung-geun merencanakan lima bab:
- Seomun (서문, 序文) — Pendahuluan — Diagnosis runtuhnya perdamaian Asia Timur sejak Perang Rusia-Jepang 1904-1905
- Jeongam (전감, 前鑑) — Cermin Sejarah — Pelajaran dari Perang Tiongkok-Jepang 1894-1895 dan ambisi Rusia
- Hyeonsang (현상, 現狀) — Keadaan Sekarang — Belum selesai
- Bokseon (복선, 伏線) — Garis Bawah Tersembunyi — Belum selesai
- Mundap (문답, 問答) — Tanya Jawab — Belum selesai
Hanya bab 1 dan 2 yang berhasil diselesaikan sebelum eksekusi. Bab 3, 4, dan 5 hanya berupa garis besar dalam kesaksian peradilan An Jung-geun.
Tesis Sentral
An Jung-geun bukanlah seorang anti-Jepang sederhana. Ia adalah seorang pro-perdamaian Asia Timur. Tesis sentralnya:
- Jepang, Korea, dan Tiongkok harus membentuk aliansi setara untuk melawan ekspansi kulit putih Eropa (khususnya Rusia).
- Ito Hirobumi adalah pengkhianat terhadap visi ini karena ia menjajah Korea sebagai sesama bangsa Asia, alih-alih membantunya berdiri tegak sebagai sekutu.
- Pembunuhan Ito Hirobumi adalah tindakan menyelamatkan perdamaian Asia Timur, bukan tindakan teroris nasionalis.
Lima Pilar Penting
1. Pukulan Pembuka: Kontras Kemanusiaan dan Teknologi
Pendahuluan dibuka dengan keluhan filosofis tentang penyalahgunaan teknologi modern (senapan mesin, kapal selam, balon udara) untuk membunuh sesama manusia, sementara nilai-nilai moral Asia Timur ("yang hanya mengabdi pada sastra dan menjaga negerinya sendiri") justru terlupakan.
2. Diagnosis Khianat Jepang
Saat Perang Rusia-Jepang 1904, "Kaisar Jepang dalam deklarasi perangnya menyatakan: 'Mempertahankan perdamaian Asia Timur dan memperkokoh kemerdekaan Korea Raya.'" Rakyat Korea dan Tiongkok membantu Jepang berdasarkan janji ini. Tapi setelah kemenangan, Jepang mengkhianati janjinya — menjajah Korea dan menguasai Manchuria selatan.
3. Imperialisme Rusia sebagai Kejahatan Utama
An Jung-geun tidak menganggap Rusia hanya sebagai musuh Jepang. Ia menganggap Rusia sebagai ancaman terbesar bagi seluruh Asia Timur, dengan "rakyat Rusia ingin pelabuhan tanpa beku, di Dalian, Lushun, dan Niuzhuang, sejak puluhan tahun lalu, seperti api dan air pasang."
4. "Naga dan Harimau, Mengapa Bertindak Seperti Ular dan Kucing?"
c1-p012 (kalimat ikonis): "Naga dan harimau (Jepang) dengan wibawa besar, mengapa bertindak seperti ular dan kucing?" Ini adalah teguran sastrawi An Jung-geun kepada Jepang yang menjadi predator sesama Asia.
5. Deklarasi Tindakan
c1-p016 ditutup dengan deklarasi: "Maka aku mulai perang suci untuk perdamaian Asia Timur di Harbin, dan menentukan tempat perundingan di Lushun (Lvshun), serta menyampaikan pendapatku tentang masalah perdamaian Asia Timur." Penembakan Ito Hirobumi bukan teror — itu adalah "perang suci" (uijun, 義戰).
Kalimat Tutup Bab 2
Bab "Jeongam" ditutup dengan diagnosis tajam mengenai Rusia pasca-Perang Tiongkok-Jepang 1895: "Rusia dengan tangan cepat dan licik menyewa Lushun, memperluas pelabuhan militer, dan membangun jalur kereta api." Ini adalah bukti bahwa imperialisme Eropa selalu memanfaatkan perpecahan Asia.
Mengapa Risalah Ini Penting?
Pertama, ini adalah karya filosofis terakhir seorang yang akan dieksekusi dalam satu bulan. Bobot historisnya luar biasa.
Kedua, ini adalah counter-narrative terhadap stereotipe "Korea sebagai korban pasif." An Jung-geun memformulasikan visi geopolitik aktif untuk Asia Timur — visi yang melampaui nasionalisme sempit.
Ketiga, bahkan tidak selesai, risalah ini menjadi cetak biru bagi gerakan Pan-Asianisme abad ke-20 yang sehat (bukan versi imperialis Jepang yang menyalahgunakan istilah ini).
Sebuah Catatan untuk Pembaca Muslim Indonesia
An Jung-geun adalah martir Katolik Korea (nama baptis: Thomas, 토마스). Ia menulis risalah ini sebagai seorang yang taat beragama. Bagi pembaca Muslim, perlu dicatat:
- Konsep "perdamaian Asia Timur" yang dibawa An Jung-geun memiliki paralel dengan konsep ummah dalam Islam — komunitas yang dipersatukan oleh nilai-nilai bersama, bukan ras atau bangsa.
- Penembakan Ito Hirobumi adalah tindakan politik dalam konteks penjajahan ekstrem. Islam mengajarkan adab dalam perlawanan (QS Al-Maidah 5:32, "Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya"). Pembaca dianjurkan menilai tindakan An Jung-geun dalam konteks historis kolonial ekstrem 1909.
- An Jung-geun menerima hukuman gantung dengan tenang, sebuah sikap yang dalam Islam disebut sabr (kesabaran dalam menghadapi ketetapan Allah).
Risalah ini adalah teks politik-filosofis, bukan religius. Pembaca Muslim disarankan membaca dengan kritis dan menggunakan kerangka adab Islam dalam menilai kompleksitas sejarah kolonialisme Asia Timur.
Baca karya lengkap: Dongyang Pyeonghwa Ron — An Jung-geun (Pagera)
Tema: Pemikiran politik · Pan-Asianisme awal · Kemerdekaan Korea · Penolakan imperialisme · Filsafat perdamaian Konteks: Korea kolonial 1910 · Insiden Harbin 1909 · Penjara Lushun Cocok untuk: Pembaca yang tertarik pada sejarah Asia Timur, gerakan kemerdekaan, filsafat politik kolonial, hubungan internasional pra-Perang Dunia I