Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Ringkasan "Pohon Hijau Abadi" — Jerome K. Jerome (1891) Esai Humor Inggris

Ringkasan esai humoris-renungan Jerome K. Jerome dari Idle Thoughts (1891): perbandingan pohon hijau abadi dengan jenis manusia setia, lengkap dengan tiga anekdot bulldog yang mengocok perut dari masa Victorian.

Pagera Editorial

Pendahuluan

Pada tahun 1891 Jerome K. Jerome — penulis legendaris Three Men in a Boat (1889) — menerbitkan esai pendek berjudul "Evergreens" yang masuk ke dalam kumpulan renungan humorisnya. Esai ini adalah perpaduan khas Jerome: pengamatan alam yang lembut, metafora kemanusiaan yang hangat, dan tiga anekdot bulldog yang ditulis dengan kepiawaian komik yang sulit ditandingi.

Bagian I: Renungan Alam (p005~p013)

Jerome membuka dengan paradoks visual. Di musim semi yang dipenuhi bunga tetes salju dan krokus, pohon hijau abadi tampak kusam dan tak menarik. Di musim panas yang ranum, mereka justru tampak lebih lusuh, masih memakai gaun musim dinginnya yang pudar. Di musim gugur dengan jubah emas-cokelat-ungunya, pepohonan hijau abadi terlihat seperti "kerabat miskin di pesta orang kaya".

Tetapi ketika musim dingin tiba, ketika bunga-bunga mati dan hutan menjadi gundul, hanya merekalah yang berdiri tegak. "Musim semi tak dapat mencerahkan mereka, musim panas tak dapat menghanguskan mereka, musim gugur tak dapat melayukan mereka, musim dingin tak dapat membunuh mereka."

Bagian II: Manusia Hijau Abadi (p010~p027)

Dari sini Jerome melompat ke metafora kemanusiaan. Ada lelaki dan perempuan hijau abadi di dunia. Mereka bukan orang gemerlap, bukan orang cerdas dan menawan. Alam, kata Jerome, adalah pedagang kuno — "ia tidak pernah memajang barang terbaiknya di etalase."

Esai kemudian mengkritik pernikahan berdasarkan ketertarikan permukaan. Jerome menyapa "gadis-gadis muda konyol": "Kekasih yang menghela napas seperti tungku perapian tak akan menghela napas seperti tungku perapian selamanya. Tungku itu akan padam." Begitu pula ia menyapa anak-anak lelaki yang tertipu oleh gadis berkepala kosong yang cantik.

Inti perenungannya: kesetiaan (stanchness) adalah anugerah terbesar perang. Bukan kekerasan, melainkan kesetiaan kepada amanah, kepada kawan, kepada pos. Inilah yang melahirkan para syuhada, penjelajah, dan pembaharu sepanjang sejarah.

Bagian III: Kisah Viking Tua (p028~p031)

Jerome menyelipkan anekdot legenda. Seorang Viking tua, ketika akan dibaptis menjadi Kristen, bertanya: "Tetapi apa yang terjadi pada kawan-kawanku yang telah mati dalam kepercayaan lama?" Para pendeta menjawab bahwa mereka pergi ke tempat yang tak enak. Si Viking melangkah mundur dan berkata: "Kalau begitu, aku tidak mau dibaptis. Aku akan bergabung dengan kaumku sendiri."

Inilah kesetiaan: "Ia telah hidup bersama mereka, bertempur di sisi mereka; mereka adalah kaumnya." Jerome menyebutnya "Viking tua yang amat mengusik" — tetapi diam-diam memujinya sebagai contoh kesetiaan yang sudah pudar di abad ke-19.

Bagian IV: Tiga Anekdot Bulldog (p032~p104)

Di sinilah Jerome memamerkan kepiawaian komiknya. Bulldog, menurutnya, adalah satu-satunya pengingat tentang ketegaran lama yang tersisa di abad modern.

Anekdot 1: Boozer Tua (p034~p049)

Jerome dan temannya George pulang larut malam ke hostel pedesaan dan menemukan seekor bulldog ganas di permadani perapian. Mereka menumpang di atas meja berkaki tunggal selama lebih dari satu jam, takut turun. Akhirnya mereka melempar taplak meja ke arah si "calon pembunuh" dan kabur. Esok paginya, induk semang tertawa: "Boozer tua! Dia tak punya satu gigi pun! Dia ingin kalian membuainya!"

Anekdot 2: Bulldog Pamanku (p050~p096)

Paman Jerome menerima seekor bulldog muda sebagai hadiah. Anjing itu "terlalu rajin bekerja" — ia mengusir semua pedagang, mengurung tukang ledeng di dapur selama lima jam (tagihan: 18 shilling 2 penny), dan menahan koki tetap di luar dapur. Tetangga dua rumah sebelah menyarankan metode pelatihan adu tinju yang berbahaya — paman menjawab dengan sindiran tajam bahwa ia bersedia menanggung biaya pemakaman si tetangga.

Akhirnya pada suatu Sabtu sore, anjing itu lepas dan mengejar anak-anak — paman dipukuli orang tua sayang anak, lalu polisi datang, dan paman didenda tiga kali lima pound (membiarkan anjing buas + penyerangan orang tua + penyerangan polisi). Paman kemudian memberikan anjing itu sebagai kado pernikahan kepada seorang kerabat.

Anekdot 3: Krinolin Bibiku (p097~p104)

Kisah paling sedih sekaligus paling lucu. Bibi Jerome mengenakan krinolin baru yang besar sekaku pagar kawat. Saat berdiri di depan toko kain Jenkins di High Street, seekor bulldog menyelinap masuk ke bawah krinolinnya dan terjebak di dalamnya. Dalam panik, anjing itu menyerbu liar, membawa serta bibi terbang menyusuri jalan utama dengan kecepatan sepuluh mil per jam, masuk ke toko kelontong, berputar tiga kali, menabrak pak pos — sementara seluruh kota mengira bibi gila dan berbarikade di rumah masing-masing.

Akhirnya bibi "duduk di atas anjing itu, dan kedamaian kembali memerintah di kota pedesaan yang manis itu."

Mengapa Membacanya Hari Ini?

Esai ini menjadikan Jerome K. Jerome layak disebut sebagai "Mark Twain Inggris": pengamat kehidupan biasa yang menyulap rutinitas menjadi tawa dan, di balik tawa, menyelipkan kebijaksanaan yang dalam tentang persahabatan dan kesetiaan. Pembaca yang menyukai humor hangat akan menemukan teman seperjalanan terbaik di Jerome.

Baca lengkapnya di Pagera: Pohon Hijau Abadi

Kembali ke Pagera