Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Wajah Joseon (고향): Ringkasan Cerpen Hyun Jin-geon 1922 Tragedi Nasional Kolonial

Pada 1922, Hyun Jin-geon menulis «고향» (Gohyang—Kampung Halaman), cerpen pendek yang kemudian dimuat dalam kumpulan «Joseon-ui Eolgul» (Wajah Joseon, Maret 1926). Di dalam kereta Daegu-Seoul, narator «aku» berhadapan dengan seorang petani tanpa nama yang berkostum tiga negara—kimono Jepang, jeogori K

Pagera Editorial

Pendahuluan: Wajah Joseon yang Muram

Pada tahun 1922, Hyun Jin-geon (현진건, 1900–1943)—penulis muda berumur dua puluh dua tahun yang baru saja memantapkan posisinya lewat «Bincheo» (1921) dan «Sul gwonhaneun sahoe» (1921)—menulis sebuah cerpen pendek berjudul sederhana «Gohyang» (고향, Kampung Halaman). Cerita ini kemudian dimuat sebagai pembuka kumpulan «Joseon-ui Eolgul» (조선의 얼굴, Wajah Joseon) yang terbit Maret 1926. Satu kalimat dari narator—«aku merasa melihat dengan jelas Wajah Joseon yang muram dan menyedihkan»—menjadi judul kumpulan itu, dan satu cerpen ini dianggap sebagai padatan paling ringkas dan paling dingin atas seluruh tragedi nasional Joseon di bawah pendudukan Jepang (1910–1945).

Kisah Berbingkai di Dalam Kereta

Cerita berlangsung sepanjang perjalanan kereta tiga belas jam dari Daegu menuju Seoul pada suatu hari di awal 1920-an. Narator—seorang intelektual muda yang kembali ke ibukota—duduk di gerbong kelas tiga dan menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pria muda dengan kostum yang aneh: kimono Jepang dikenakan sebagai pengganti durumagi, jeogori ogyangmok (atasan hanbok katun) terlihat di celah kimono itu, celana model Tionghoa membungkus kaki bagian bawah, kaki dibalut gamppal (kain pembungkus betis ala buruh) dan beralas jipsin (sandal jerami), rambut dipangkas gaya gobu-gari Jepang.

Pria itu mencoba menyapa orang Jepang dan Tionghoa di gerbong dengan bahasa keduanya, tetapi ditanggapi dingin. Akhirnya ia menoleh kepada narator dan berkata dalam logat Gyeongsang yang keras: «Mau ke mana, Tuan?» Dari sapaan itu, kisah hidupnya pun mulai terurai.

Lapis Pertama: Kampung Halaman yang Dirampas

Kampung halamannya adalah sebuah dusun di Kabupaten K, Desa H, tidak jauh dari Daegu—seratus kepala keluarga yang hidup dari yeokdun-to (tanah pos kerajaan Joseon yang disewakan kepada petani). Hidup mereka damai dan cukup, sampai «dunia berbalik»: tanah itu jatuh ke tangan Dongyang-cheoksik Hoesa (Perusahaan Kolonisasi Oriental, 1908), lembaga semi-pemerintah Jepang yang mendapatkan monopoli atas tanah-tanah negara Joseon pasca aneksasi 1910.

Yang lebih buruk lagi, perusahaan ini tidak menyewakan langsung kepada petani. Muncullah chunggan sojagin—penyewa-perantara, orang yang tidak pernah menyentuh tanah dengan tangannya sendiri tetapi bertindak sebagai tuan tanah terhadap penggarap sejati. Setelah membayar dua kali (perusahaan dan perantara), di tangan petani sejati tidak tersisa bahkan tiga puluh persen hasil panen. «Tak sanggup hidup, mati lebih baik»—ucapan ini mengalir di mulut petani seperti bhiksu yang melagukan doa.

Lapis Kedua: Pelarian ke Manchuria Barat

Sembilan tahun sebelum perjalanan kereta itu, keluarga pria itu—yang saat itu berumur tujuh belas tahun—berpindah ke Seogando (서간도, Manchuria Barat, kawasan di seberang Sungai Yalu yang menjadi tujuan emigrasi petani Joseon sejak akhir 1800-an). Mereka pergi terbujuk kabar bahwa «di sana mudah hidup». Tetapi tanah baik di Seogando sudah habis diambil pendatang lebih dahulu, dan walau lahan terbengkalai masih banyak, mulai hari pertama mereka tiba sarapan dan makan malam sudah jadi masalah.

Setelah dua tahun bertahan susah payah, ayahnya jatuh sakit tiba-tiba dan menjadi «arwah kesepian di tanah asing». Pria itu yang baru sembilan belas tahun harus memikul ibunya yang menjanda. Sebelum genap empat tahun berlalu, ibunya pun tiada—tubuhnya terlalu lemah karena kekurangan gizi yang akut dan beban kerja berat di tanah liar.

Lapis Ketiga: Buruh di Tambang Kyushu dan Pabrik Osaka

Setelah kematian kedua orang tuanya, pria itu enggan berlama-lama di tanah Manchuria. Ia berkelana ke Sinuiju di tepi Sungai Yalu, lalu menyeberang ke Andong-hyeon (Dandong sekarang, kota perbatasan Tiongkok), menjadi buruh upahan. Lalu ia menyeberang ke Jepang—pernah bekerja di tambang batu bara Kyushu, pernah pula di pabrik logam Osaka.

Upahnya sedikit lebih baik, tetapi tubuh muda yang kesepian itu lambat laun terjerumus pada hidup tak teratur. Uang tak terkumpul, dada penuh amarah yang sesekali meletup. Akhirnya, karena rindu pada «langit dan bumi tanah air», ia kembali untuk melihat-lihat kampung halaman.

Lapis Keempat: Kampung yang Lenyap

Yang ditemukannya di kampung halaman setelah sembilan tahun absen bukan kampung yang berubah, melainkan kampung yang lenyap sama sekali: «Tidak ada rumah, tidak ada orang, bahkan seekor anjing pun tidak terlihat berkeliaran». Yang tertinggal cuma dinding-dinding sisa reruntuhan berderet panjang. Kasau-kasau lapuk yang roboh dan batu-batu fondasi yang menggelinding—«persis kuburan yang dibongkar dan tengkorak-tengkoraknya berserakan».

Pada titik ini, dua tetes besar air mata jatuh dari mata pria itu ke meja kereta. Dan di balik tetes air mata itu, narator merasa «melihat dengan jelas Wajah Joseon yang muram dan menyedihkan»—kalimat yang akan menjadi judul kumpulan 1926.

Lapis Kelima: Tunangan yang Dijual ke Rumah Pelacuran

Cerita memiliki satu lapis terakhir yang lebih dingin lagi. Dalam perjalanannya menjenguk reruntuhan kampung, pria itu bertemu dengan satu—dan hanya satu—orang dari masa lalunya: perempuan yang dulu sempat dibicarakan untuk menjadi istrinya sejak ia berumur empat belas tahun. Sebab gadis itu menghilang? Pada usia tujuh belas tahun, ayahnya menjual perempuan itu seharga dua puluh won ke yugwak—rumah pelacuran resmi yang diatur kolonial—di Daegu.

Selama sepuluh tahun perempuan itu mencicil uang tubuhnya. Setelah membayar pokok dua puluh won, masih ada enam puluh won lagi sebagai bunga. Akhirnya, karena tubuhnya didera penyakit berat dan menjadi «mayat hidup», pemilik rumah pelacuran membebaskannya musim gugur tahun lalu. Saat ia pulang ke kampung yang ia rindukan sepuluh tahun, di sana tidak ada rumah, tidak ada orang tua, hanya tumpukan batu sepi.

Yang tersisa baginya hanyalah menjadi pengasuh anak di rumah orang Jepang—berkat sepatah dua patah kata Jepang yang ia pungut selama sepuluh tahun di rumah pelacuran. Pertemuan keduanya tidak menghasilkan air mata. «Kami masuk ke kedai udon Jepang, menuang habis sepuluh botol jeongjong berdua, lalu berpisah, Tuan.»

Closing: Sinminyo Empat Bait

Lalu kedua lelaki di gerbong itu menghabiskan sebotol penuh satu doe (sekitar 1,8 liter) sake. Dalam keadaan agak mabuk, pria itu melagukan sebuah sinminyo (lagu rakyat baru zaman kolonial) yang dulu mereka nyanyikan di masa kecil tanpa mengerti maknanya:

Sawah yang menghasilkan karung-karung padi
kini menjadi sinjangno (jalan raya baru bentukan kolonial)——
Kawan yang sanggup berkata-kata
kini menuju gamokso (penjara kolonial)——
Kakek yang mengisap pipa panjang
kini menuju gongdong-myoji (pemakaman umum)——
Perempuan rupawan elok wajah
kini menuju yugwak (rumah pelacuran resmi kolonial)——

Empat bait ini—setiap bait memetakan satu kelompok sosial (petani / intelektual / orang tua / perempuan) ke satu lembaga kolonial (jalan raya / penjara / pemakaman / rumah pelacuran)—dianggap sebagai padatan paling ringkas dan paling dingin atas seluruh tragedi nasional Joseon. Empat puluh kata mengandung tiga puluh lima tahun pendudukan.

Wajah Joseon yang Dilihat Narator

«Gohyang» menjadi cerpen pembuka kumpulan «Joseon-ui Eolgul» (Maret 1926) karena satu kalimat di tengah teks: narator merasa, di balik dua tetes air mata pria di hadapannya, «melihat dengan jelas Wajah Joseon yang muram dan menyedihkan». Wajah itu bukan wajah seseorang—itu adalah wajah seluruh bangsa yang dirampas tanahnya, kehilangan kampung halamannya, kehilangan anak-anaknya, dan akhirnya hanya bisa menyanyikan lagu rakyat di dalam kereta yang melintasi tanah jajahan.

Cerpen ini—bersama «Bincheo» (1921) dan «Hari yang Beruntung» (1924)—melengkapi cap-3 Hyun Jin-geon dan menutup lima penulis realis modern Korea: Kim Yu-jeong, Kim Dong-in, Na Do-hyang, Chae Man-sik, dan Hyun Jin-geon.

Kembali ke Pagera