Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Ringkasan Hasegawa-kun dan Aku karya Natsume Soseki — Esai Kenangan untuk Futabatei Shimei
Esai kenangan Natsume Soseki ditulis tak lama setelah kematian Futabatei Shimei, pelopor novel Jepang modern. Lima perjumpaan singkat di redaksi Asahi, di pemandian umum, di penginapan Kandagawa, menjadi potret persahabatan dua sastrawan Meiji yang berjalan beriringan namun tak pernah saling menjama
Pagera Editorial
Hasegawa-kun dan Aku (長谷川君と余, 1909) adalah salah satu esai pendek Natsume Soseki yang paling jujur — dan paling getir. Ditulis pada Mei 1909, hanya satu bulan setelah kematian temannya Hasegawa Tatsunosuke (lebih dikenal sebagai Futabatei Shimei, pelopor novel Jepang modern) di kapal pulang dari Rusia, esai ini memuat lima perjumpaan sederhana yang menjadi seluruh persahabatan mereka.
Pengantar: Mengapa Esai Ini Penting
Pada April 1909, Futabatei Shimei meninggal di Teluk Bengal dalam perjalanan pulang dari Sankt-Peterburg ke Jepang. Ia baru berusia 45 tahun, dan baru saja menjalani satu tahun setengah sebagai koresponden Asahi Shimbun di ibu kota Rusia. Tubuhnya yang sudah lemah karena tuberkulosis tak sanggup melawan dingin Rusia, lalu menyerah di laut tropis dalam perjalanan pulang. Berita kematian itu mengguncang dunia sastra Jepang.
Natsume Soseki — yang juga seorang karyawan Asahi Shimbun dan tetangga rumah Futabatei — diminta menulis sebuah kenangan. Hasilnya adalah esai pendek ini: tidak panjang, tidak sentimental, tidak pula penuh ratapan. Soseki memilih bentuk yang khas dirinya: kejujuran yang nyaris menyakitkan.
Ringkasan Lima Perjumpaan
Esai ini disusun dalam lima tahapan yang masing-masing berisi satu perjumpaan singkat antara Soseki dan Hasegawa.
Pertemuan Pertama: Jamuan Yūrakuchō
Ikebe-kun (Ikebe Sanzan, kepala redaksi Asahi Tokyo) mengundang sekitar sepuluh karyawan baru ke klub di Yūrakuchō, karena Torii-kun (Torii Sosen) datang dari Osaka. Soseki, yang baru saja bergabung dengan Asahi, untuk pertama kalinya bertemu Hasegawa. Yang membuatnya tercengang adalah tubuh Hasegawa yang serba kotak: bahu lebar yang kaku, dagu persegi, bahkan kepalanya pun terasa kotak. "Sama sekali tak tampak seperti seseorang yang akan menggenggam pena halus dan mengerang di depan meja tulis," tulis Soseki. Ini bukan deskripsi yang menyenangkan, tapi inilah kejujuran Soseki.
Pertemuan Kedua: Ruang Redaksi
Beberapa hari kemudian Soseki datang ke kantor karena ada urusan. Ia melihat sosok dengan setelan jas abu-abu ("nezumi-iro no sebiro") membelakangi pintu. Itu Hasegawa. Ketika Soseki mengatakan, "Aku berniat datang berkunjung—" Hasegawa memotong dengan kalimat yang menjadi terkenal: "Tidak bisa, selama tekanan udara rendah masih berlaku, aku menolak tamu." "Tekanan udara rendah" (低気圧, kiatsu) adalah kiasan Hasegawa untuk kondisi kepalanya yang sedang sakit dan migrain. Soseki baru memahami ini belakangan.
Pertemuan Ketiga: Pemandian Umum
Pada suatu sore panas, Soseki pergi ke pemandian umum (sentō). Ia melihat profil seseorang yang sedang membasuh diri — ternyata Hasegawa. Setelah keluar dari air panas, keduanya duduk-duduk di teras yang dialasi tikar goza, sambil mengipasi diri dengan kipas uchiwa. "Kami berdua dalam keadaan benar-benar tanpa busana, kalau seingatku," tulis Soseki dengan humor halus. Namun cara bicara Hasegawa tetap bariton rendah, tenang, lapang — sama sekali tak sebanding dengan keadaan telanjang itu. Hasegawa menceritakan bahwa tahun lalu ia pernah pingsan dan istirahat di Tabata.
Pertemuan Keempat: Penginapan Kandagawa
Setelah Soseki pindah dari Nishikatamachi ke Waseda, hubungan mereka makin jauh. Tetapi Soseki membaca novel Hasegawa, Sono Omokage ("Bayang Itu", 1906), dan terkagum-kagum. Ia mengirim pujian lewat surat. Balasannya berupa satu kartu pos yang sangat ringkas — "Tak ada sedikit pun gaya Sono Omokage," Soseki mencatat dengan sedikit terkejut.
Pertemuan keempat terjadi di penginapan Kandagawa, ketika keberangkatan Hasegawa ke Rusia sudah hampir dipastikan. Mereka makan siang dengan Torii-kun. Hasegawa menceritakan perjalanannya ke Manchuria, kisahnya ditangkap orang Rusia dan dijebloskan ke penjara, dunia sastra Rusia yang terus berubah, dan harapannya menerjemahkan cerita pendek Jepang ke bahasa Rusia. Di akhir percakapan, ia menitipkan dua hal: pertama, menghadiri perjamuan untuk Danchenko (Vasily Nemirovich-Danchenko, jurnalis perang Rusia yang sedang berkunjung ke Jepang), dan kedua, menjaga Putri Mozume (Mozume Kazuko, putri ilmuwan klasik Mozume Takami) sebagai murid jika ia tiada.
Pertemuan Kelima dan Terakhir: Pamit di Waseda
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Hasegawa datang ke rumah Soseki di Waseda untuk berpamitan. Itu pertama kali — sekaligus terakhir kali — Hasegawa menjejakkan kaki di rumah Soseki. Memandang ruang tamu yang luas, Hasegawa berkata, "Entah mengapa, terasa seperti aula kuil Buddha (garan)." Ia menitipkan kembali soal Putri Mozume dan seorang lagi orang dari Hokkoku, lalu pergi.
Sehari setelah itu Soseki pergi membalas kunjungan, tetapi Hasegawa sedang tidak di rumah. Soseki tidak sempat mengantarnya pergi. Selama Hasegawa di Sankt-Peterburg, hanya satu kartu pos yang ia kirim. Isinya: "Aku tahu ini terdengar lemah, tapi dingin di tempat ini sulit kulawan." Membaca itu, Soseki merasa sedikit geli — tak menyangka dinginnya akan sampai bisa membunuh seseorang.
Kalimat Penutup yang Mengubur Seluruh Esai
Esai ini ditutup dengan empat kalimat singkat yang menjadi salah satu paragraf terbaik dalam seluruh sastra esai Meiji:
"Tetapi rupanya memang sungguh dingin sampai bisa membunuh. Hasegawa-kun akhirnya meninggal juga. Hasegawa-kun tak memahami diriku, dan aku tak memahami Hasegawa-kun, lalu ia mati. Sekalipun ia masih hidup, mungkin pergaulan kami akan tetap sebatas itu."
Tidak ada ratapan, tidak ada pujian berlebihan, tidak ada upaya menyembunyikan bahwa persahabatan ini sebenarnya tidak pernah benar-benar mekar. Soseki memilih kejujuran yang dingin sebagai bentuk penghormatan terakhir. Dan justru karena kejujuran inilah, esai pendek ini terasa lebih hangat dari ratusan kata-kata pujian biasa.
Bagi Pembaca Indonesia: Mengapa Esai Ini Berbicara kepada Kita
Esai ini sangat dekat dengan pengalaman hampir setiap orang dewasa. Kita semua memiliki kawan yang nyaris — orang yang seharusnya menjadi sahabat, tetapi karena keadaan, kemalasan, atau jarak, persahabatan itu tidak pernah benar-benar terjadi. Soseki menamai pengalaman itu, mengakui kerugiannya, dan tidak mencoba memperbaiki keadaan secara retrospektif. "Mungkin pergaulan kami akan tetap sebatas itu, atau mungkin saja kesempatan untuk menjadi lebih akrab akan datang — tak ada yang tahu." Inilah kejujuran orang dewasa yang sudah memahami bahwa kesempatan kedua tidak selalu datang.
Baca Teks Lengkapnya di Pagera
Kurang dari lima ribu kata, esai ini adalah perkenalan sempurna pada prosa pendek Soseki yang lebih dalam dari yang tampak. Baca Hasegawa-kun dan Aku lengkap di Pagera, gratis, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Karya Soseki lainnya yang tersedia di Pagera: Senja di Kyoto.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.