Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt
Masker Kikuchi Kan: Cerpen tentang Ketakutan dan Kepalsuan Saat Pandemi 1920
Masker (マスク) karya Kikuchi Kan, 1920 — cerpen autobiografis yang ditulis saat pandemi influenza Spanyol melanda Jepang. Narator gemuk dengan jantung lemah mengembangkan keterikatan obsesif pada masker, lalu membongkar kepalsuannya sendiri saat berpapasan dengan seorang pemuda di stadion bisbol.
Pagera Editorial
Masker Kikuchi Kan cerpen 1920 adalah salah satu karya pendek paling tajam dari sastra Jepang awal abad ke-20 — sebuah cerpen autobiografis sepanjang sekitar empat ribu dua ratus kata yang ditulis pada puncak pandemi influenza Spanyol (19181920) yang menelan puluhan juta nyawa di seluruh dunia. Kikuchi Kan (菊池寛, 18881948), yang kemudian mendirikan majalah Bungei Shunjū dan Hadiah Akutagawa, di sini menunjukkan kekuatan terbaiknya: realisme psikologis yang lugas dan tanpa belas kasih terhadap diri sendiri.
Pembukaan: Tubuh yang Berbohong
Kikuchi membuka cerpennya dengan paradoks fisik yang langsung memikat. Narator — pria yang dengan jelas adalah versi fiktif Kikuchi sendiri — gemuk, sehingga orang luar selalu menyangkanya kuat dan sehat. Tetapi dia tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: semua organ dalamku jauh lebih rapuh dari ukuran normal. Mendaki tanjakan kecil saja dia terengah. Naik tangga membuatnya megap-megap. Paru-parunya tidak bisa menarik napas dalam. Jantungnya lemah. Sejak tahun lalu lambungnya pun bermasalah.
Namun karena tubuhnya gemuk, orang terus mengatakan, Wah, Anda kelihatan kuat sekali. Dan, mengakui kepalsuan ini dengan jujur yang langka, narator menambahkan: aku jadi punya semacam rasa percaya diri palsu hanya karena dikatakan demikian. Persis seperti perempuan yang sebenarnya kurang menarik tetapi mulai berpikir mungkin dia tidak seburuk itu gara-gara komentar orang sekitarnya.
Diagnosis: Ilusi yang Pecah
Akhir tahun lalu, dokter memeriksa nadinya, lalu memeriksa jantungnya dengan stetoskop berkali-kali. Diagnosisnya: katup jantung tidak menutup sempurna, jantung sedikit membesar ke kanan, tidak boleh terlalu gemuk karena jantung berlemak bisa memicu serangan jantung mendadak. Yang paling menakutkan: kalau terkena tifus atau influenza dengan demam empat puluh derajat selama tiga-empat hari, sudah tidak ada harapan.
Sejak diagnosis itu, narator merasa keselamatan hidupnya terancam setiap detik. Dan saat itu, pandemi influenza Spanyol mulai mewabah dengan dahsyat. Bagi narator, terjangkit influenza secara harfiah sama dengan mati.
Ritual Pencegahan
Narator mengembangkan rutinitas pencegahan yang teliti: tidak keluar rumah, melarang istri dan pembantu keluar, berkumur dengan larutan hidrogen peroksida pagi dan sore, memakai masker yang dipadati banyak kain kasa setiap kali terpaksa keluar. Dia berduka-cita atas naik-turunnya angka kematian harian yang dimuat surat kabar. Ketika angka itu mencapai puncak 3.337 orang per hari di Tokyo, lalu mulai menurun, dia menghela napas lega.
Teman-teman dan istrinya menertawakannya. Dia sendiri menduga dirinya mungkin sedikit menderita fobia penyakit akibat neurastenia. Tetapi ketakutannya nyata.
Dari Ketakutan ke Kebanggaan Moral
Inilah titik balik psikologis terbesar cerpen ini. Memasuki Maret, ketika hampir tidak ada lagi orang yang memakai masker, narator tetap memakainya. Dan dia mulai membenarkan dirinya dengan argumen yang cantik:
Tidak takut penyakit dan menempuh risiko penularan — itu keberanian orang biadab. Justru takut penyakit dan benar-benar menghindari risiko penularan — itulah keberanian orang beradab.
Bahkan saat dia sendirian memakai masker di halte trem, dia merasa bangga sebagai praktisi higiene yang sejati, orang beradab yang menjunjung tinggi nilai hidup. Ketika sesekali dia menemukan satu-dua orang lain yang masih memakai masker hitam, dia merasa mereka adalah rekan seperjuangan, sahabat sealiran.
Klimaks: Pemuda Bermasker Hitam
Tetapi pada bulan April-Mei, narator akhirnya melepas masker. Kekuatan musim panas memberinya keberanian. Lalu pada pertengahan Mei, dia pergi ke pertandingan bisbol — tim Chicago dari Amerika melawan tim Universitas Kekaisaran Tokyo — yang berlangsung di Waseda.
Dan di sanalah, di jalan setapak menuju pintu masuk stadion, di hari yang cemerlang dengan matahari awal musim panas, di tengah kerumunan ribuan penggemar bisbol, seorang pemuda berusia awal duapuluhan mendahuluinya. Dan pemuda itu mengenakan masker hitam.
Reaksi narator seketika: guncangan yang sangat tidak menyenangkan, kebencian yang jelas, keburukan semacam siluman yang mengerikan. Dia membenci pemuda itu.
Pengakuan Akhir: Reaksi Orang Lemah
Lalu, dalam paragraf terakhir yang menjadi inti cerpen, Kikuchi memberikan analisis diri yang mengejutkan jujur. Mengapa narator begitu benci? Pertama, karena pemuda itu mengingatkannya pada ancaman flu di hari yang seharusnya cerah. Kedua — dan ini lebih egois — karena saat dia sendiri memakai masker, dia senang melihat orang lain yang memakai masker; tetapi setelah dia tidak lagi memakainya, justru orang yang masih memakai masker terasa menyebalkan.
Tetapi yang ketiga, dan ini paling tajam:
Bukankah perasaan tidak senangku terhadap pria itu sebenarnya adalah reaksi orang lemah terhadap orang yang kuat?
Padahal narator yang dulu begitu rajin memakai masker, kini sudah merasa malu memakainya karena musim. Tetapi pemuda ini — dengan berani dan angkuh — tetap mengenakan masker dan melangkah masuk ke tempat di mana ribuan orang berkumpul. Sikap itu adalah sikap seorang kuat yang sungguh tuntas. Apa yang ragu narator lakukan karena pandangan dunia, pemuda ini melakukannya dengan berani. Perasaan tidak senangnya, dia simpulkan dengan jujur, sebenarnya adalah hati yang tertekan oleh keberanian pemuda itu.
Mengapa Cerpen Ini Penting
Dalam empat ribu kata saja, Kikuchi mengantarkan tiga lapis pengakuan moral: (1) ketakutan tulus menjadi (2) kebanggaan moral palsu menjadi (3) kemunafikan yang dibongkar oleh seorang asing. Bagi pembaca Indonesia pasca-COVID-19, cerpen ini terasa luar biasa kontemporer — semua orang yang pernah memakai atau melepas masker selama 2020~2022 akan mengenali setiap fase pikiran narator dengan keterkejutan yang menyakitkan.
Kikuchi tidak menghakimi narator. Dia membiarkan narator sendiri yang menghakimi dirinya, dan itulah yang membuat cerpen ini abadi.
Pelajari lebih lanjut tentang Kikuchi Kan di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di Aozora Bunko.
Baca Masker karya Kikuchi Kan di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.