Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Menertawakan yang Mati Kikuchi: Cerpen Satire Sosial Taisho 1921

Menertawakan yang Mati (死者を嗤う) karya Kikuchi Kan (1921) adalah cerpen satire pendek tentang seorang wartawan muda yang menyaksikan kerumunan tertawa terbahak-bahak saat para buruh kelurahan berulang kali menjatuhkan jenazah perempuan yang sedang diangkat dari Sungai Edogawa — refleksi sastra tentang

Pagera Editorial

Menertawakan yang Mati Kikuchi cerpen Taisho adalah salah satu cerpen pendek paling tajam dari periode awal Kikuchi Kan (菊池寛, 1888-1948), pendiri majalah sastra Bungeishunju dan kelak pendiri Akutagawa Prize. Cerpen sekitar empat ribu dua ratus enam belas kata yang diterbitkan pada 1921 (Taisho 10) ini, berlatar pagi musim gugur cerah di tepi Sungai Edogawa Tokyo, merekam momen ironis di mana sebuah tragedi pribadi berubah menjadi tontonan massa yang tertawa terbahak-bahak.

Konteks: Satire Moral, Bukan Glorifikasi

'Shisha wo Warau' adalah satire Kikuchi atas kekejaman massa yang mentertawakan tragedi orang lain — refleksi sastra tentang moralitas kolektif, bukan ajakan untuk tidak menghormati yang meninggal. Pembaca Indonesia perlu memahami bahwa Kikuchi sendiri berdiri pada posisi moral kritis yang sama dengan pembaca: ia mengecam kerumunan, bukan merayakannya.

Latar: Pagi Cerah yang Berubah Menjadi Tontonan

Cerpen dibuka dengan suasana paling sederhana: Pagi yang cerah dan menyenangkan setelah hujan musim gugur yang turun terus-menerus selama dua-tiga hari akhirnya reda. Keikichi, seorang wartawan muda yang tinggal di tepi Sungai Edogawa, keluar rumah sekitar pukul sepuluh seperti biasa. Pagi musim gugur yang cerah selalu membuat hatinya berdebar — seakan sesuatu yang baik sedang menantinya hari ini.

Tetapi pemandangan tidak biasa menariknya menuju Jembatan Kozakurabashi. Di atas jembatan dan tanggul, lebih dari seribu orang berdesakan sesak sepanjang tujuh puluh hingga sembilan puluh meter di hulu dan hilir. Semua menatap ke tengah sungai. Ketika Keikichi bertanya kepada seorang perempuan setengah baya di sebelahnya, jawabannya datar: Mayat orang tenggelam.

Wartawan dan Rasa Ingin Tahu yang Khas Manusia

Sebagai wartawan, Keikichi tahu betul bahwa berita tentang orang tenggelam, setelah dilirik sekilas seperti kertas bekas, langsung dilemparkan ke keranjang sampah. Tetapi kenyataan bahwa mayat sungguhan berada dalam jarak beberapa meter darinya adalah perasaan yang sama sekali berbeda. Ia pun terjebak oleh rasa ingin tahu yang aneh dan khas manusia itu — keinginan untuk melihat mayat. Dengan tenaga yang cukup, ia memaksakan tubuhnya masuk ke dalam lapisan kerumunan.

Tiga Kali Jatuh: Tawa yang Berlipat Ganda

Para buruh kelurahan dengan kait di ujung galah mencoba mengangkat mayat dari air. Tetapi mereka bekerja dengan terampil sebisa mungkin tidak membasahi tangan dan kaki, sebisa mungkin tidak merasa kotor, sebisa mungkin tidak banyak mengeluarkan tenaga. Pengulangan tiga kali ini adalah satire khas Kikuchi atas birokrasi yang dingin.

Tiba-tiba terdengar bunyi Cebur! Mayat yang sempat naik dari permukaan air telah jatuh kembali karena kaitnya lepas. Kerumunan serentak meledak dalam tawa terbahak-bahak. Pada awalnya Keikichi tidak memahami arti tawa yang tidak pada tempatnya itu. Betapapun kerumunan itu hanya digerakkan rasa ingin tahu, menertawakan saat mayat sedang diangkat adalah terlalu kejam.

Tetapi tragedi terulang. Untuk kedua kalinya, mayat jatuh kembali ke air, dan terdengar tawa dua kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Memikirkan bahwa mayat sedang dipajang secara tidak pantas karena penanganan dingin dan birokratis dari pihak berwenang dan kerumunan yang dangkal, Keikichi merasakan kepedihan dan amarah yang lebih dalam.

Film Universal dan Realisasi Ironis

Tetapi saat itu Keikichi tiba-tiba teringat film yang ia tonton di Asakusa dua-tiga tahun yang lalu — sebuah komedi Universal Amerika dengan tokoh utama aktris yang sangat gemuk, di mana adegan ia berulang kali jatuh ke danau membuat seluruh bioskop tertawa terbahak-bahak. Keikichi pun adalah salah satu yang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.

Bukankah adegan pengangkatan mayat yang sedang ia saksikan persis sama dengan adegan film itu? Hanya saja, sebagai pengganti aktris komedi yang riang, ada mayat yang menyedihkan. Dan adegan yang dipikirkan pembuat film untuk membangkitkan gelak tawa penonton, ternyata hanya direplikasi secara ironis dalam kehidupan nyata, dengan mayat sebagai pusatnya.

Penemuan: Bunuh Diri yang Sudah Disiapkan

Pada percobaan ketiga, akhirnya mayat berhasil diangkat ke tangga batu. Keikichi yang kebetulan berada di posisi terbaik melihat dengan jelas: seperti suatu pose dari patung Yunani, dengan rambut tergerai ke belakang, tangan yang putih seperti lilin terjulur lurus ke belakang. Ketika ia melihat bahwa perempuan itu, sebagai persiapan setelah kematiannya, mengenakan celana panjang dalam laki-laki, ia menerima kesan mendalam seakan menyaksikan babak kelima sebuah tragedi.

Itu jelas merupakan bunuh diri yang sudah disiapkan dengan tekad. Itu adalah klimaks akhir dari tragedi seumur hidup seorang perempuan. Keikichi merasa kelam, menahan air mata yang merembes, memalingkan wajah, dan pergi dari tempat itu.

Pertanyaan Akhir: Apakah Saya Lebih Baik?

Di dalam trem, Keikichi merasa kebencian terhadap kerumunan rendahan yang menertawakan terbahak-bahak di hadapan yang mati. Ia bahkan terpikir untuk menulis cerita pendek: ketika kerumunan di atas jembatan sedang tertawa terbahak-bahak, jembatan itu tidak kuat menahan beratnya dan runtuh, dan banyak orang yang tadi mencemooh yang mati tenggelam — sebuah kritik moral pengarang.

Tetapi setelah dipikir-pikir, Keikichi sendiri pun, tidak dapat dikatakan bahwa ia sepenuhnya tidak memiliki rasa ingin tahu dangkal seperti yang dimiliki kerumunan. Ini adalah penutup yang khas Kikuchi: pengakuan jujur atas keterlibatan diri sendiri dalam dosa kolektif yang dikecamnya. Tidak ada moralitas yang puas diri.

Mengapa Cerpen Ini Penting

Menertawakan yang Mati adalah salah satu cerpen Kikuchi paling khas karena ia menggabungkan tiga lapis pengamatan: jurnalisme (perspektif wartawan yang terbiasa dengan kematian), psikologi sosial (analisis kerumunan), dan etika diri (refleksi atas keterlibatan diri sendiri). Bagi pembaca Indonesia, cerpen ini adalah pintu masuk untuk memahami bagaimana realisme datar Kikuchi bisa lebih tajam daripada melodrama moralitas yang mendikte.

Kikuchi Kan lahir di Takamatsu pada 1888, lulus dari Kyoto Imperial University. Bersama Akutagawa Ryunosuke dan Kume Masao, ia adalah anggota generasi Shinshicho (Pemikiran Baru). Pada 1923 ia mendirikan Bungeishunju, majalah yang masih beroperasi hingga kini. Pada 1935 ia mendirikan Akutagawa Prize dan Naoki Prize — dua penghargaan sastra Jepang paling bergengsi.

Pelajari lebih lanjut tentang Kikuchi Kan di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Menertawakan yang Mati karya Kikuchi Kan di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera