Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Nyanyian Berdua: Ringkasan Antologi Puisi Arthur Sherburne Hardy 1900
Pada tahun 1900, seorang diplomat-penyair Amerika bernama Arthur Sherburne Hardy menerbitkan kumpulan tiga puluh tujuh puisi lirik berjudul Songs of Two. Puisi-puisi pendeknya tentang cinta dua jiwa, alam, dan kematian masih terdengar segar setelah seratus dua puluh tahun. Inilah ringkasan antologi yang kini terbit dalam bahasa Indonesia sebagai Nyanyian Berdua.
Pagera Editorial
Pada awal abad ke-20, sebagian besar penyair Amerika sedang sibuk mencari suara modern. Whitman sudah meninggal. Emily Dickinson baru saja ditemukan kembali oleh publik. Frost belum lagi terkenal. Di tengah masa transisi inilah seorang lulusan akademi militer West Point yang menjadi diplomat di Persia, Yunani, Swiss, dan Spanyol — Arthur Sherburne Hardy (1847~1930) — menerbitkan sebuah buku puisi tipis yang sangat pribadi: Songs of Two. Dalam bahasa Indonesia, kini hadir sebagai Nyanyian Berdua.
Antologi ini berisi tiga puluh tujuh puisi pendek, dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama — siklus Songs of Two dengan dua puluh nomor I-XX — adalah duet dua jiwa yang saling memberi dan menerima. Bagian kedua, Verses, berisi enam belas puisi lepas tentang persahabatan, kematian, persembahan, dan dialog dengan Maria-Bunda.
Duet Dua Jiwa
Siklus pertama dibuka dengan mimpi tentang kematian — seseorang yang baru saja meninggal dunia, dan kekasihnya datang menyentuh dadanya dengan satu pertanyaan: "Apa yang harus kutulis di sebelah namamu agar dilihat manusia?" Jawaban yang datang sangat sederhana: "Aku dikasihi olehmu." Itulah seluruh epitaf yang dibutuhkan jiwa yang dicintai.
Dari sini Hardy bergerak melalui dua puluh adegan kecil tentang cinta antara dua manusia. Bukan cinta yang gegap gempita atau penuh erotisme, melainkan cinta yang dipikirkan dengan tenang. Mata air yang dicari bersama di lereng gunung, akhirnya tiba di laut yang luas. Bunga yang memanggil dari naungan hutan. Telapak tangan yang "paling kaya saat kosong, meminta sedekah." Cawan terakhir dari urat anggur, lalu kemiskinan, lalu maut.
Puisi XII bahkan menyentuh momen tergelap dari setiap hubungan: ingatan tentang luka lama. Si pencinta bermimpi malaikat ingatan datang membawakan satu memori — isakan derita ketika dulu ia melukai pasangannya. Suara Tuhan dari atas berkata, "Ulurkan tanganmu kepada-Ku dalam doa, dan akan Kuberikan engkau ampunan." Tetapi jawabannya: "Engkau? Tidak, ia telah memaafkan, ajarilah ia melupakan."
Sajak-sajak Lepas: Dari Persahabatan ke Lullaby
Bagian kedua antologi terasa lebih bervariasi. My Friend (Sahabatku) adalah enam stanza pendek tentang seseorang yang datang ke pintu jiwa yang nyaris tertutup, dan tinggal hanya untuk meminta istirahat. On Ne Badine Pas Avec La Mort mengambil judul dari drama Alfred de Musset 1834 — sebuah balada tiga bagian tentang gadis yang menyembunyikan cintanya kepada seorang ksatria yang sedang berburu dengan elangnya, dan kemudian melihat Maut berjalan di samping kekasihnya itu.
Iter Supremum (Perjalanan Terakhir) adalah elegi pendek tentang jiwa yang harus pergi pada malam bersalju. On the Fly-Leaf of the Rubaiyat adalah satu stanza yang ditulis Hardy di halaman pertama bukunya Omar Khayyam — "jerit pahit Cinta yang menanti balasan cinta." By a Grave adalah soneta tentang berdiri di samping kuburan dan tiba-tiba memahami bahwa hidup setelah kematian seperti cahaya pelita altar yang menyala ketika kemegahan katedral senja telah memudar.
Antologi ditutup oleh Lullaby — tiga stanza tentang dialog antara seorang ibu di bumi dan Maria-Bunda di surga, masing-masing menyanyi bagi bayinya. Stanza terakhir paling lembut: "Tidur, sayang, dengan damai, Maria, Bunda, menghiburku; Kristus, putranya, telah mati untukmu."
Mengapa "Nyanyian Berdua" Penting
Pertama, karena Songs of Two adalah salah satu antologi puisi cinta paling teratur dari era pasca-Perang Saudara Amerika. Dua puluh puisi membentuk satu siklus naratif tunggal — dari mimpi kematian, melalui kebersamaan dan luka, sampai ke perpisahan pada akhir hutan musim gugur. Tidak banyak penyair Amerika abad ke-19 yang menulis dengan struktur seperti ini.
Kedua, karena Hardy menulis dalam diksi thee/thou/thy yang khas abad ke-19. Dalam terjemahan Indonesia, sapaan ini dipertahankan sebagai engkau — bukan "kau" atau "kamu". Pilihan ini menjaga kehormatan dan jarak yang sengaja dibangun Hardy antara penyair dan kekasih. Setiap puisi terdengar seperti doa yang dialamatkan dengan sopan, bukan obrolan biasa.
Ketiga, karena Hardy adalah penulis yang nyaris terlupakan. Novel-novel romannya — But Yet a Woman (1883) dan The Wind of Destiny (1886) — pernah laris di Amerika dan Eropa, tetapi nama Arthur Sherburne Hardy tidak lagi dikenal di luar arsip akademik. Antologi puisi ini adalah pintu masuk paling sederhana untuk mengenalnya.
Bagi yang ingin menjelajahi puisi klasik Inggris dan Amerika lainnya di Pagera, tersedia juga Poems karya John Keats dan koleksi karya penyair klasik lainnya.
Pelajari lebih lanjut tentang Arthur Sherburne Hardy di Wikipedia Inggris dan baca teks asli Inggris di Project Gutenberg.
Baca Nyanyian Berdua karya Arthur Sherburne Hardy di Pagera, tiga puluh tujuh puisi lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.