Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-14 · Waktu baca ~ 5 mnt

Ringkasan 'Oni Momotaro' – Ozaki Koyo: Parodi Dongeng dari Sisi Para Iblis

Apa jadinya jika dongeng Momotaro diceritakan dari sudut pandang para oni yang kalah? Ozaki Koyo membalikkan legenda Jepang paling terkenal itu dalam cerpen Meiji (1891) yang penuh ironi. Dari buah persik pahit lahirlah Kumomotaro, oni raksasa setinggi empat meter yang dikirim membalas dendam. Namun

Pagera Editorial

Hampir semua orang Jepang tahu kisah Momotaro: seorang anak lahir dari buah persik, lalu bersama kera, burung pegar, dan anjing, ia menaklukkan Pulau Oni dan membawa pulang harta rampasan. Kisah itu berakhir dengan kemenangan sang pahlawan. Tapi tidak ada yang bertanya: lalu apa yang dirasakan para oni setelah itu?

Pertanyaan itulah yang dijawab Ozaki Koyo dalam Oni Momotaro (1891). Bukan dengan kesedihan, melainkan dengan ironi yang tajam dan gaya prosa klasik Meiji yang agung.

Latar: Pulau Oni yang Terhina

Cerita dibuka dengan nada dongeng yang khidmat. Konon dahulu kala, seorang kakek pergi menebang kayu sementara sang nenek mencuci di sungai. Dari buah persik yang hanyut, lahirlah Momotaro. Dengan menggiring seekor kera, seekor burung pegar, dan seekor anjing, ia menyerang Pulau Oni, merampas seluruh harta pusaka turun-temurun, dan pulang dengan angkuh.

Di Pulau Oni, peristiwa itu bukan sekadar kekalahan. Itu adalah aib yang membekas sampai ke tulang. Raja Oni, sang penguasa Pulau Oni, menanggung malu yang dalam. Lebih celaka lagi, dua penjaga gerbang, sepasang suami-istri oni, dihukum karena dinilai lalai: sang suami kehilangan tanduk kanannya dalam pertarungan itu, dan keduanya diasingkan ke tepi Sungai Ashura.

Namun dendam di Pulau Oni tidak padam begitu saja.

Permohonan di Kuil Yaksha

Bertahun-tahun kemudian, pasangan oni yang hidup di pengasingan itu belum punya anak. Sang istri memohon kepada dewa Yaksha di kuil tepi sungai: selama dua puluh satu malam ia bersemedi tanpa henti, memohon agar lahir seorang anak pemberani yang kelak bisa memulihkan kehormatan para oni.

Pada malam terakhir, ia mendapat mimpi keramat. Keesokan harinya, sebuah buah persik pahit terapung-apung dari hulu Sungai Ashura. Bukan persik manis seperti yang melahirkan Momotaro, melainkan buah yang pahit dan keras, sebesar batu besar. Pasangan oni itu membawanya pulang dan menunggunya dengan penuh harap.

Buah itu terbelah. Dari dalamnya muncul bayi oni yang tidak biasa: kulitnya kehijauan, badannya besar sejak lahir, dan tanduknya sudah muncul di dahi. Mereka menamainya Kumomotaro, Anak Persik Pahit.

Kumomotaro Tumbuh dan Diangkat

Kumomotaro bukan anak yang lambat. Dalam tempo singkat ia tumbuh menjadi oni bertubuh luar biasa: setinggi satu jo lima shaku (sekitar empat setengah meter), berwarna hijau pekat, dengan sepasang tanduk yang berkilat dan mata yang menyala seperti bara. Ia bisa menyemburkan api dari mulutnya.

Kabar tentang oni luar biasa ini sampai ke telinga Raja Oni. Sang Raja memanggilnya ke istana untuk menghadap. Setelah melihat sendiri kehebatan Kumomotaro, Raja Oni menetapkan: inilah pahlawan yang ditunggu-tunggu. Kumomotaro diangkat sebagai panglima ekspedisi pembalasan ke Jepang.

Upacara pemberangkatan digelar dengan penuh kemegahan. Raja Oni sendiri melepaskan cawat kulit harimau putih dari pinggangnya dan menghadiahkannya kepada Kumomotaro sebagai lambang kehormatan. Disiapkan pula gada besi bersegi delapan bertatahkan 288 bintang perak, seberat lima puluh kan (sekitar 187 kilogram). Bekal perjalanan? Sepuluh tengkorak manusia panggang, parodi kibi-dango yang dulu dibawa Momotaro.

Kumomotaro begitu gembira sehingga ia menggantungkan cawat hadiah raja di kedua tanduknya, lalu menari-nari dengan gaya tarian gedō yang aneh dan menggelikan, berlompat-lompat di depan seluruh barisan tentara oni yang mengelu-elukan namanya.

Sekutu Perjalanan

Sebelum menuju Jepang, Kumomotaro menapaki Gunung Maō untuk merekrut sekutu. Di sana ia bertemu Naga Berbisa (Dokuryū), naga emas beracun sepanjang sepuluh ken (sekitar 18 meter) yang bersarang di danau puncak gunung. Naga itu menawarkan diri untuk bergabung, mengutip peribahasa Tionghoa: "seribu kulit domba tidak sebaik satu ketiak rubah" (artinya: lebih baik sedikit yang berkualitas daripada banyak yang lemah).

Kumomotaro menerima. Bergabung pula seekor babon raksasa berbulu putih bermuka merah dari utara, dan seekor serigala raksasa sebesar sapi dari barat. Rombongan pun lengkap: Kumomotaro sang pemimpin, Naga Berbisa, Si Babon, dan Si Serigala.

Penerbangan di Atas Awan dan Antiklimaks

Naga Berbisa menyiapkan kendaraan perjalanan: gumpalan awan keemasan yang bisa membawa seluruh rombongan terbang melintasi lautan menuju Jepang. Mereka pun mengudara dengan gagah, seperti lukisan kisah Perjalanan ke Barat.

Di atas awan, perjalanan terasa mulus. Kumomotaro berdiri dengan angkuh, memandang ke bawah sambil membayangkan betapa mengerikannya ia akan tampak ketika menghantam daratan Jepang. Namun di sinilah ironi Ozaki Koyo bermain.

Naga Berbisa dan Kumomotaro berselisih di atas awan. Naga yang ambisius itu mulai bertingkah di luar kendali, maju-mundur bingung tanpa arah, mengguncang awan keemasan yang menjadi pijakan mereka. Terjadilah kekacauan di antara anggota rombongan sendiri. Dalam kebingungan itu, Kumomotaro yang berdiri di atas punggung naga kehilangan keseimbangan.

Oni raksasa setinggi empat setengah meter itu pun jatuh. Bukan jatuh dengan gagah seperti pahlawan yang gugur di medan perang, melainkan jatuh seperti batu kecil yang terlepas dari jembatan, menghilang ke dalam laut, jauh di bawah awan keemasan.

Ekspedisi pembalasan berakhir sebelum mencapai daratan Jepang.

Apa yang Membuat Cerpen Ini Menarik

Ironi Oni Momotaro bekerja di beberapa lapis sekaligus. Di permukaan, ini adalah dongeng parodi yang lucu: para oni yang ingin balas dendam justru gagal karena pertikaian internal mereka sendiri. Sang pahlawan pembalas yang dipersiapkan dengan segala upacara megah itu tidak pernah sampai ke tujuan.

Namun di lapisan yang lebih dalam, Ozaki Koyo sedang berbicara tentang ambisi besar yang runtuh akibat ketidakmampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Kumomotaro hebat, tapi ia tidak bisa mengendalikan sekutunya. Naga Berbisa cerdas, tapi ia terlalu ambisius untuk tetap patuh. Para oni berteriak-teriak dengan gagah berani, tapi mereka tidak tahan uji ketika momen kritis tiba.

Gaya bahasa Ozaki Koyo menambah dimensi lain: ia menulis dalam prosa klasik Meiji yang agung, penuh diksi Han-Jepang yang berat dan ritme setengah puisi. Ironi semakin terasa justru karena kemegahan bahasanya kontras dengan keluculan peristiwanya. Kisah yang seharusnya epik itu dikisahkan dengan bahasa yang sangat serius, dan itulah sumber tawa yang sebenarnya.

Untuk Pembaca yang Ingin Melanjutkan

Jika kamu menikmati ringkasan ini, teks lengkap Oni Momotaro tersedia di Pagera dalam bahasa Indonesia. Terjemahan ini mempertahankan nada dongeng yang agung dan sedikit khidmat dari prosa klasik Meiji Ozaki Koyo, sekaligus menjaga kelucuan momen-momen parodi yang disengaja oleh pengarangnya.

Baca Oni Momotaro di Pagera

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera