Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Ringkasan Orang-Orang yang Tak Terlupakan karya Kunikida Doppo – Cerpen Naturalis Meiji 1898 tentang Paradoks Ingatan

Ringkasan lengkap Orang-Orang yang Tak Terlupakan (忘れえぬ人々, 1898) karya Kunikida Doppo: pertemuan satu malam di penginapan Mizoguchi antara sastrawan Ōtsu dan pelukis Akiyama, dan naskah berisi nama-nama orang asing yang justru tak bisa dilupakan.

Pagera Editorial

Ringkasan Orang-Orang yang Tak Terlupakan karya Kunikida Doppo membawa pembaca ke salah satu cerpen pendiri naturalisme Jepang yang paling halus dan paling melankolis. Diterbitkan pada April 1898 di majalah Kokumin no Tomo — dan kemudian dimasukkan ke dalam kumpulan Musashino — cerpen ini hanya sekitar 9.342 kata dalam bahasa Jepang aslinya, namun di dalamnya tersimpan struktur kerangka kisah dalam kisah yang menjadi cetakan awal sastra Jepang modern.

Dengan kepekaan estetika yang mengingatkan pada William Wordsworth, Orang-Orang yang Tak Terlupakan dalam terjemahan Indonesia menjadi karya pertama yang membongkar paradoks ingatan: bahwa yang paling dalam membekas justru bukan yang paling dekat.

Latar Awal — Malam Berbadai di Penginapan Mizoguchi

Cerpen dibuka dengan satu lukisan murung yang khas Doppo. Awal Maret 1898, di kota persinggahan kecil bernama Mizoguchi — terletak sehabis menyeberangi penyeberangan Futako di Sungai Tama, di pinggiran barat Tokyo — sebuah penginapan pengelana bernama Kameya menyalakan pelita malamnya. Salju kemarin masih bersisa di atap ilalang, angin utara mengamuk, dan air lumpur di bekas jejak waraji beriak dingin. Si pemilik penginapan tua sedang menabuh bingkai hibachi dengan kiseru berleher angsa, ketika tiba-tiba pintu geser kertas dibuka — dan seorang lelaki muda berpakaian Barat masuk dengan langkah panjang.

Lelaki itu meminta menginap semalam. Ia bernama Ōtsu Benjirō — seorang sastrawan yang belum dikenal. Tak lama kemudian, di kamar tetangga (kamar nomor enam), tamu lain pun datang: Akiyama Matsunosuke — seorang pelukis yang juga belum dikenal. Dua pemuda asing yang anehnya seprofesi sebagai seniman muda bertemu di penginapan desa yang sepi ini.

Lewat tengah malam, di kamar tujuh, mereka berdua sedang berhadap-hadapan. Tiga botol sake hangat tergeletak di nampan, abu rokok lintingan jatuh ke hibachi, dan obrolan mereka — dari teori seni rupa, teori sastra, sampai teori agama — sudah melompati bahasa sopan ke bahasa biasa. Di luar, badai bercampur hujan beku mengamuk di padang Musashino.

Naskah Berjudul "Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa"

Ketika Ōtsu hendak tidur, Akiyama menarik sebuah naskah berisi sekitar sepuluh lembar hanshi yang tergeletak di sampingnya. Di sampulnya tertulis 「忘れ得ぬ人々」 — "Orang-Orang yang Tak Akan Kulupa". Akiyama tertarik. Daripada membacanya sendiri, ia meminta Ōtsu langsung bercerita.

Dan Ōtsu pun mulai bicara — dengan kalimat pembuka yang menjadi inti seluruh karya:

"Orang yang tak akan terlupakan, tidak harus berarti orang yang tak boleh kulupakan."

Orangtua, anak, sahabat, guru — semuanya, kata Ōtsu, justru bukan "orang yang tak terlupakan". Mereka adalah "orang yang tak boleh dilupakan". Yang ia bicarakan adalah sosok yang sama sekali tidak terikat oleh budi ataupun kewajiban; sosok yang sungguh-sungguh asing — yang sekalipun dilupakan, tak melanggar perasaan ataupun kewajiban apa pun — dan toh anehnya yang justru tak bisa dilupakan.

Tiga Sosok dari Naskah Ōtsu

Ōtsu lalu memaparkan tiga sosok dari naskahnya — semuanya dilihat sekilas dalam perjalanan, semuanya tak dikenal, tak diajak bicara, tak akan pernah dijumpai lagi:

1. Lelaki di pulau kecil Setouchi. Sembilan belas tahun, dalam perjalanan pulang dari Tokyo ke kampung halaman karena sakit, Ōtsu melayari Laut Pedalaman Seto dari Osaka. Di sebuah pulau kecil pohon pinus yang ia lewati pada jarak sepuluh chō — sekitar satu kilometer — ia menatap satu sosok lelaki yang sedang memungut sesuatu di bekas air pasang. Sosok itu menjadi titik hitam, lalu lenyap di balik halimun. Hampir sepuluh tahun setelahnya, Ōtsu berkali-kali mengenangnya.

2. Penggembala kuda di Miyaji, kaki Gunung Aso. Lima tahun lalu, Ōtsu bersama adiknya berjalan kaki dari Kumamoto ke Ōita melintasi Kyūshū. Setelah menyaksikan dahsyatnya kawah aktif Aso pada matahari sore, mereka turun ke desa Miyaji di malam hari. Di sebuah jembatan, dari arah jalan yang baru saja mereka lewati, datang seorang pemuda gagah berusia dua puluh empat atau lima yang menarik gerobak kosong, dengan suara jernih nyaring menembangkan lagu rakyat "Miyaji adalah tempat yang baik, di kaki Gunung Aso". Pemuda itu lewat tanpa menoleh; sisi wajahnya bahkan tak terlihat. Tetapi garis hitam tubuhnya yang kekar masih membekas di dasar mata Ōtsu sampai sekarang.

3. Biwa-sō di pasar pagi Mitsugahama. Suatu pagi awal musim panas di pelabuhan Mitsugahama, Shikoku, sambil menunggu kapal uap, Ōtsu menyusuri pasar ikan yang sedang ramai berisik. Di ujung jalan yang lebih sepi, ia mendengar alunan biwa. Di muka sebuah kedai berdiri seorang biwa-sō — pendeta pengembara pemain biwa — berusia sekitar 45-46, lelaki bertubuh pendek gemuk dengan wajah lebar persegi. Tak seorang pun di pasar memperhatikannya. Tetapi Ōtsu berdiri lama dan mendengarkan. Suara pilu biwa itu seakan satu aliran mata air jernih yang mengalir tersembunyi di celah-celah ombak keruh dunia.

Ōtsu menyebutkan tiga sosok lain hanya namanya saja — buruh tambang di Utashinai, Hokkaidō; nelayan muda di Teluk Dalian; tukang perahu dengan bisul di Sungai Banjō — dan menutup pembacaan.

Perasaan yang Mengalir di Larut Malam

Setelah membaca, Ōtsu menerangkan kepada Akiyama mengapa sosok-sosok itu yang justru tak bisa ia lupakan. Pada malam-malam ketika sendirian menatap pelita, ia merasakan kesendirian dari hidup ini hingga timbul perasaan pilu yang tak tertahankan. Pada saat itu, "tanduk keakuan"-nya patah seketika, dan ia rindu pada sesama manusia. Yang naik di hatinya bukan orangtua atau sahabat, melainkan orang-orang asing yang ia jumpai di perjalanan — beserta seluruh pemandangan di sekelilingnya.

"Apa beda antara saya dan orang lain? Bukankah kita semua menerima hidup ini di satu sudut langit dan satu pojok bumi, menapaki perjalanan tenang nan panjang, lalu bergandengan tangan kembali ke langit tak berhingga?"

Pada saat itulah, kata Ōtsu, tak ada saya dan tak ada orang lain. Siapa pun terasa rindu, terasa terkenang. Ketenangan hati, kebebasan, simpati pada segala hal — semua mengalir bersamaan. Itulah hadiah dari malam-malam itu.

Penutup yang Mengubah Segalanya

Dua tahun pun berlalu. Ōtsu, karena suatu sebab, tinggal di sebuah daerah Tōhoku. Hubungannya dengan Akiyama, yang pertama kali ia jumpai di penginapan Mizoguchi, terputus sepenuhnya. Kebetulan saat itu musim yang persis sama dengan ketika ia menginap di Mizoguchi. Pada satu malam ketika hujan turun, ia duduk seorang diri menghadap meja, tenggelam dalam renungan. Di atas meja tergeletak naskah yang sama — 「忘れ得ぬ人々」 — yang dua tahun lalu ia perlihatkan kepada Akiyama.

Yang ditambahkan paling akhir di sana adalah 「Tuan pemilik Kameya」.

Bukan 「Akiyama」.

Penutup dua kalimat ini menjadikan Orang-Orang yang Tak Terlupakan salah satu karya naturalisme Jepang yang paling tajam ironinya. Akiyama — teman dekat semalam yang berbagi hangatnya sake dan paham seni — ternyata bukan sosok yang masuk ke dalam naskah ingatan. Yang masuk justru pemilik penginapan tua yang ketus, yang nyaris tak bicara dengan Ōtsu, yang hanya sekilas dilihat sebagai latar belakang malam berbadai itu.

Mengapa Cerpen Ini Penting?

Baca Orang-Orang yang Tak Terlupakan secara penuh di Pagera (gratis, terjemahan Indonesia). Karya debutan naturalisme Kunikida Doppo (1871~1908) ini sering dijadikan tonggak awal cerpen modern Jepang. Bersama 「Musashino」(1898), karya ini membuka era ketika sastra Jepang berhenti meniru novel-novel klasik dan mulai memandang dunia melalui mata individu kecil yang sendirian. Pengaruh William Wordsworth — yang Doppo terjemahkan ke dalam bahasa Jepang — terbaca jelas dalam cara Ōtsu mengubah "orang sederhana di pinggir jalan" menjadi sumber wahyu spiritual.

Bagi pembaca Indonesia, terjemahan ini menjadi pintu masuk yang lembut ke sastra naturalisme Meiji — sekaligus jendela ke pertanyaan universal yang masih relevan hari ini: dalam ingatan kita, siapakah orang yang sebenarnya kita kenang? Mungkin jawabannya tak seperti yang kita kira.


Bacaan lanjutan: Burung Musim Semi (春の鳥, 1904) — cerpen naturalisme Doppo lain yang lebih getir.

Kembali ke Pagera