Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt

Ringkasan Pencarian Bunga Lili karya Hawthorne – Alegori Kebahagiaan 1837

Ringkasan dan analisis cerpen Pencarian Bunga Lili karya Nathaniel Hawthorne (1837): dua kekasih membangun Kuil Kebahagiaan, dibayangi sepupu tua yang murung, dan menemukan bahwa kebahagiaan hanya bisa berdiri di atas kesedihan.

Pagera Editorial

Ringkasan Pencarian Bunga Lili (The Lily's Quest) karya Nathaniel Hawthorne membawa kita ke sebuah tanah luas milik keluarga Lilias Fay pada suatu petang berangin tahun 1837. Dua orang kekasih muda, Adam Forrester dan tunangannya Lilias Fay yang dipanggil Lily, berangkat dengan satu tujuan sederhana: menemukan tempat yang sempurna untuk mendirikan Kuil Kebahagiaan mereka. Apa yang terasa seperti perjalanan suka cita perlahan berubah menjadi pelajaran mendalam tentang hakikat kebahagiaan itu sendiri.

Siapa Saja Tokoh dalam Pencarian Bunga Lili?

Cerpen ini hanya memiliki tiga tokoh, namun masing-masing membawa beban alegoris yang besar. Adam Forrester mewakili harapan manusia yang optimis, keyakinan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan bila kita mencarinya cukup jauh. Lilias Fay adalah perwujudan keindahan yang rapuh: tubuhnya serapuh bunga lili, pipinya sepucat mahkota bunganya. Nama panggilannya, Lily, bukan sekadar keindahan; bunga lili dalam tradisi Barat melambangkan kemurnian sekaligus kematian.

Tokoh ketiga adalah Walter Gascoigne, kerabat tua Lilias yang murung. Ia mengenakan jubah beludru hitam seperti kain kafan dan topi kehitaman seperti yang dipakai para pelayat. Setiap kali sepasang kekasih itu menemukan tempat yang indah, Gascoigne sudah berdiri di sana dengan kisah tentang kesedihan yang pernah terjadi di tempat tersebut. Ia bukan tokoh jahat; ia adalah lambang dari semua pengaruh menyedihkan yang dapat dilimpahkan kehidupan kepada manusia.

Alur: Tiga Tempat yang Ditolak, Satu yang Diterima

Struktur cerpen ini mengikuti pola pencarian berulang yang semakin mencekam. Sepasang kekasih menemukan sebuah lokasi yang tampak sempurna, Gascoigne membebaninya dengan kenangan duka, dan mereka terpaksa pergi mencari lagi.

Tempat pertama adalah sudut terlindung di kaki bukit dengan pemandangan danau dan menara gereja. Tempat yang tenang, menghadap ke barat untuk menikmati warna langit senja. Namun Gascoigne menunjuk sisa-sisa bangunan lama dan bunga-bunga kebun yang kembali liar, lalu bercerita bahwa di tempat itu pernah ada keluarga yang diracuni oleh Duka yang tinggal bersama mereka.

Tempat kedua adalah lembah berbatu dengan anak sungai yang mengalir riang, buih, dan suara kegembiraan yang tiada henti. Suara airnya seperti nyanyian anak yang berbahagia. Namun Gascoigne mengungkapkan bahwa lebih dari seratus tahun lalu, seorang pemuda memancing seorang gadis ke lembah itu lalu membunuhnya, dan mencuci tangan berdarahnya di anak sungai yang sama. Lily gemetar dan memohon agar mereka pergi.

Setelah itu, pencarian berlanjut lebih lama. Gascoigne memiliki kisah untuk setiap tempat: seorang perempuan yang diusir anak kandungnya, seorang nenek tua yang menerima kedengkian iblis, seorang bayi yang ditemukan mati dengan bekas jari-jari ibunya, dua kekasih yang disambar petir. Adam akhirnya berseru dengan putus asa, dan Lily, kelelahan, duduk di puncak sebuah bukit kecil.

Tempat Keempat: Gundukan dengan Bunga Lili Pucat

Di sanalah mereka tersadar: tempat mereka berhenti adalah sebuah gundukan tanah kecil dengan bentuk yang agak teratur, dikelilingi pohon-pohon yang menaunginya. Rumah leluhur dan gereja tampak di dua sisinya. Dan di kaki mereka tumbuh setangkai bunga lili pucat.

Kali ini Gascoigne tidak menolak. Senyumnya yang tak terbaca diterima sebagai persetujuan diam-diam. Kuil dibangun: marmer putih, tiang-tiang ramping, kubah melengkung. Namun penduduk sekitar membisikkan bahwa bangunan itu menyerupai sebuah mausoleum kuno, dan lempengan marmer gelap di tengahnya terlihat seperti batu nisan yang menunggu ukiran nama.

Prasangka itu terbukti benar. Pada malam sebelum peresmian, Lily terlihat memudar bersama cahaya matahari yang terbenam. Keesokan paginya ia ditemukan tak bernyawa di dalam Kuil, kepala bersandar pada lempengan marmer. Dan ketika Adam hendak mengubah Kuil itu menjadi makam, para penggali menemukan bahwa di bawah lantai marmer sudah ada makam kuno berisi tulang-belulang generasi terdahulu. Gundukan yang mereka pilih memang sudah menjadi makam sejak lama.

Pesan Alegoris: Kebahagiaan di Atas Kuburan

Walter Gascoigne berkata kepada Adam dengan senyum anehnya: kau tidak menemukan fondasi yang lebih baik untuk kebahagiaanmu selain di atas sebuah kuburan. Pada titik ini, yang semula terasa seperti ejekan membawa kesadaran baru. Adam menjawab dengan rentangan tangan ke langit: di atas kuburan inilah Kuil kita, dan kini kebahagiaan kita adalah untuk Keabadian.

Inilah inti alegoris Hawthorne: kebahagiaan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesedihan. Bukan karena kesedihan harus mengalahkan kebahagiaan, melainkan karena keduanya tumbuh dari tanah yang sama. Setiap tempat di bumi sudah pernah menyaksikan duka. Fundasi kebahagiaan yang sejati bukan ketidakhadiran kesedihan, melainkan penerimaan bahwa keduanya ada bersama.

Posisi Cerpen Ini dalam Kumpulan Twice-Told Tales

The Lily's Quest pertama kali terbit pada 1839 dan masuk dalam edisi diperluas Twice-Told Tales (1842). Dalam kumpulan itu, cerpen ini berdiri di antara karya-karya yang lebih dramatis seperti The Minister's Black Veil dan yang lebih satirikal seperti Aliran dari Pompa Kota. Jika dibandingkan dengan cerpen Hawthorne yang lebih panjang dan intens, Pencarian Bunga Lili terasa seperti miniatur yang sempurna: setiap kalimat mengemban bobot alegoris tanpa terasa berat.

Pembaca yang ingin mengenal sisi Hawthorne yang lebih kontemplatif dan lambat dapat juga menjajal Pedagang Apel Tua dari kumpulan Mosses from an Old Manse (1846): sebuah sketsa karakter tentang lelaki tua yang nyaris tidak terlihat di stasiun kereta, penuh dengan renungan tentang usia dan kerendahatian.

Mengapa Cerpen Ini Layak Dibaca?

Ada tiga alasan. Pertama, ini adalah salah satu contoh alegori Hawthorne yang paling kompak dan paling jernih. Struktur tiga penolakan dan satu penerimaan adalah geometri naratif yang elegan. Kedua, tokoh Walter Gascoigne adalah salah satu tokoh pendamping paling menakjubkan dalam sastra Amerika abad ke-19: bukan penjahat, bukan pahlawan, melainkan bayangan yang tidak bisa dihindari dan akhirnya harus dipahami. Ketiga, kalimat penutupnya, tentang kebahagiaan yang hanya bisa berdiri di atas kuburan, adalah salah satu kalimat yang paling mudah diingat dan paling sulit dilupakan dalam seluruh karya Hawthorne.

Baca Pencarian Bunga Lili karya Nathaniel Hawthorne secara gratis di Pagera — sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Referensi lanjutan: Twice-Told Tales (Wikipedia) · Teks asli di Project Gutenberg #9217

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera