Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Penulis Wanita: Ringkasan Cerpen Tokuda Shusei 1927 Tentang Dunia Sastra Tokyo
Pada April 1927, Tokuda Shusei menerbitkan Penulis Wanita di majalah Shincho. Sebuah cerpen pendek tentang kritikus Komori, kekasih mudanya Eiko, dan sastrawan wanita generasi sebelumnya yang merantau jauh di Amerika. Inilah dokumen paling intim tentang kalangan sastra Tokyo Taisho-Showa awal.
Pagera Editorial
Pada April 1927, dalam Shincho edisi tahun ke-24 nomor 4, Tokuda Shusei—salah satu dari empat tokoh besar naturalisme Jepang—menerbitkan satu cerpen pendek yang sederhana namun kemudian menjadi salah satu dokumen paling intim tentang dunia sastra Tokyo akhir era Taisho. Judulnya: Joryu Sakka—dalam terjemahan Indonesia, Penulis Wanita.
Bukan novel besar, bukan saga panjang. Hanya seratus tiga puluh paragraf, mengisahkan satu petang dan satu hari di hidup kritikus sastra Komori yang sudah memasuki separuh baya, kekasih mudanya Eiko yang sedang berjuang sebagai penulis pemula, dan bayangan jauh yang hadir di hampir setiap percakapan: Nyonya T, sastrawan wanita generasi sebelumnya yang sekarang merantau dalam kemiskinan di Amerika.
Satu Malam, Satu Film, Satu Antologi yang Dibuka Lagi
Cerita dimulai dengan adegan kecil yang nyaris tak ada plot. Tadi malam, Eiko mengajak Komori menonton pratayang sebuah film bertajuk Lima Wanita di Sekelilingnya di Aula XX—sebuah gedung pertunjukan modern di tengah Tokyo. Mereka pulang dengan kecewa: film itu hanya peniruan dangkal sinema impor.
Tapi dalam perjalanan pulang dan setelahnya, percakapan mereka berputar bukan tentang film. Melainkan tentang seorang wanita yang tidak pernah hadir secara fisik di cerita ini: Nyonya T—yang kadang disebut T-ko—sastrawan wanita yang novel debutnya Akirame (Pasrah) pernah memenangkan sayembara surat kabar besar di Kansai, dan setelah hampir sepuluh tahun terpuruk secara ekonomi, sekarang menulis kolom-kolom kecil di sebuah surat kabar Amerika yang oplahnya tidak sampai seribu eksemplar.
Tiga Generasi Penulis Wanita di Satu Ruangan
Yang membuat cerpen ini terasa kaya adalah bagaimana Shusei dengan tenang menumpuk tiga generasi penulis wanita dalam satu percakapan malam. Nyonya I—dari generasi yang jauh lebih awal, yang kini dipuja sebagai mahaguru sastra wanita. Nyonya T / T-ko—generasi Taisho, yang novel debutnya pernah membakar dunia sastra namun sekarang terlupakan. Dan Eiko sendiri—penulis pemula Showa awal yang sedang menyerialkan cerita tentang cinta sesama wanita, dengan bayang-bayang dua pendahulunya yang menulis tema yang sama puluhan tahun sebelumnya.
Ketika Eiko berkata, "Memang zamannya berbeda, tapi melihat Nyonya I dipuja begitu hebat sebagai mahaguru, sementara T-ko nyaris terlupakan oleh semua orang—kupikir itu sangat tidak adil," kita mendengar suara generasi muda yang merasakan ketidakadilan kanonisasi sastra. Sebuah suara yang masih sangat relevan seratus tahun kemudian.
Anekdot Kankichi, Edokko, dan Rentenir Mitsue
Bagian-bagian terbaik cerpen ini adalah ketika Komori, dengan ketenangan naturalisme khas Shusei, bercerita tentang sosok T-ko muda. Bagaimana T-ko pernah mencoba peruntungan sebagai aktris panggung, tampil kaku seperti tongkat, sampai-sampai semua orang menertawakannya dengan memanggil-manggilnya "Kankichi-san!"—nama tokoh laki-laki yang ia kejar di lorong hanamichi Kabuki dengan suara yang tak nyambung sama sekali.
Bagaimana T-ko, dengan darah Edo akhir yang mengalir di tubuhnya—blak-blakan, gengsi, berani—pernah meminjam uang dari seorang rentenir wanita yang ternyata seperti tokoh fiksi Akagashi Mitsue dari novel klasik Kin'iro Yasha. Bagaimana rentenir itu malah jatuh hati pada watak Edokko T-ko, membuatkan bantal duduk yang luar biasa, dan akhirnya menghapus utangnya begitu saja.
Setiap anekdot adalah satu cangkang kecil yang menyimpan satu sisi T-ko. Tidak ada satu pun yang menjelaskan keseluruhannya. Justru karena itu, sosok T-ko menjadi lebih hidup daripada banyak protagonis utama dalam novel panjang.
Naturalisme Shusei: Mata Observatoris yang Tenang
Tokuda Shusei adalah salah satu dari empat tokoh besar naturalisme Jepang, bersama Tayama Katai, Shimazaki Toson, dan Futabatei Shimei. Berbeda dengan novel Katai yang dramatis-melankolis, atau prosa Toson yang lirik-puitis, Shusei memilih jalan yang lebih sukar: observasi sosial yang tenang, tanpa dramatisasi.
Dalam Penulis Wanita, kita mendapatkan pratayang sempurna naturalisme Shusei: tidak ada klimaks, tidak ada keputusan besar, tidak ada pertobatan emosional. Hanya seorang lelaki yang menyetrika rambut kekasih mudanya, sebuah obrolan tentang seorang penulis yang merantau jauh, sebuah film yang mengecewakan, sebuah novel debut yang ditemukan kembali di atas meja, dan sebuah keinginan halus untuk menulis surat berdua kepada teman yang sudah lama tidak tertulis.
Modern Tokyo 1927: Antara Marumage dan Danpatsu
Latar belakang cerpen ini adalah Tokyo dalam masa transisi yang tajam. Kita melihat marumage—sanggul tradisional wanita yang sudah menikah—di satu sisi, dan danpatsu, rambut pendek bob ala modan garu 1920-an, di sisi lain. Kita melihat Eiko yang mengganti pakaian di sudut ruangan kerja Komori dan meminta Komori menyetrika gelombang rambutnya dengan kote.
Kita melihat penggalangan sumbangan amal untuk daerah bencana Gempa Kanto 1923 di pratayang film—empat tahun setelah bencana, ingatan kolektif masih segar. Kita melihat Gaien, taman luar Kuil Meiji yang baru saja selesai dibangun. Kita melihat Teater Kekaisaran (Teikoku Gekijo), yang berusia tujuh belas tahun dan sudah menjadi pusat kanonisasi sastra.
Pagera Pertama Tokuda Shusei dalam Bahasa Indonesia
Penulis Wanita adalah karya pertama Tokuda Shusei yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia di Pagera, dan menjadi langkah penting dalam menghadirkan empat tokoh besar naturalisme Jepang—Katai, Toson, Shimei, Shusei—ke pembaca berbahasa Indonesia.
Bagi yang ingin mengenal karya-karya naturalisme Jepang lainnya yang sudah tersedia, lihat Setangkai Anggur karya Arishima Takeo dan Cahaya Lentera karya Shimazaki Toson di Pagera.
Pelajari lebih lanjut tentang Tokuda Shusei di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.
Baca Penulis Wanita karya Tokuda Shusei di Pagera, terjemahan lengkap dari teks Aozora Bunko, gratis di Bahasa Indonesia.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.