Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt

Setangkai Anggur: Ringkasan Cerpen Anak Arishima Takeo 1920 Yokohama Taishō

Tahun 1920, Arishima Takeo menerbitkan Setangkai Anggur, sebuah cerpen anak singkat tentang seorang bocah Jepang di sekolah orang Barat di Yokohama yang mencuri dua bongkah cat warna nila dan merah karmin milik temannya Jim, lalu mengalami pengampunan yang mengubah hidupnya melalui sebatang anggur d

Pagera Editorial

Pada tahun 1920, di tengah masa kemilau singkat Taishō Demokrasi, Arishima Takeo menerbitkan sebuah cerpen yang segera menjadi salah satu teks paling banyak dibaca dalam sastra anak Jepang modern. Judulnya sederhana: Setangkai Anggur (Hitofusa no Budō). Ceritanya pendek, kurang dari sepuluh halaman. Tetapi tonggak emosionalnya, ribuan anak Jepang membawanya seumur hidup.

Sekolah Orang Barat di Yamate

Latar belakangnya adalah Yamate, sebuah distrik bukit di Yokohama tempat orang-orang Barat tinggal sejak pembukaan pelabuhan Jepang pertengahan abad ke-19. Narator, seorang bocah Jepang, masuk ke sekolah yang seluruh gurunya orang Barat dan sebagian besar muridnya juga anak-anak ekspat. Setiap pagi ia berjalan ke sekolah melewati jalan tepi pantai yang berjejer hotel dan kantor dagang Barat, dengan pemandangan kapal perang, kapal dagang, dan bendera berbagai bangsa berkibar di tiang-tiang.

Bocah itu pelukis amatir. Ia ingin sekali menangkap warna laut yang biru cerah dan warna merah karmin di lambung kapal layar. Tetapi cat air yang dimilikinya tidak cukup. Tidak peduli berapa kali ia coba, warnanya tak pernah hidup seperti aslinya.

Cat Warna Jim

Sampai suatu hari, ia mengingat Jim, seorang teman sekelas berbadan tinggi besar dari Eropa, dua tahun lebih tua. Jim memiliki kotak cat impor mewah: dua belas warna dipadatkan menjadi blok kecil seperti batang tinta, tersusun dalam dua baris di dalam kotak kayu ringan berwarna karamel. Yang paling cemerlang di antara dua belas warna itu, dengan jelas, adalah nila dan merah karmin yang ia inginkan.

Si bocah terobsesi. Hari demi hari berlalu. Sampai pada satu hari musim gugur saat buah anggur sedang matang dan langit jernih, di tengah bekal siang bersama bu guru, ia tak kuasa lagi. Saat bel masuk berbunyi dan seluruh teman pergi mencuci tangan, ia menyelinap ke meja Jim, mengangkat tutupnya, dan mencuri dua warna yang ia idam-idamkan.

Penangkapan dan Pengampunan

Tentu saja, ia tertangkap. Jam berikutnya berlalu dengan jantung berdebar. Saat bel istirahat berbunyi, anak besar paling pandai di kelasnya menariknya ke sudut lapangan. Cat warna tertarik keluar dari sakunya bersama kelereng marbel dan keping mainan timah. Anak-anak menatapnya penuh kebencian. Ia menangis tersedu di tengah cuaca cerah saat semua teman sedang bermain riang.

Mereka menyeretnya ke lantai atas, ke ruang wali kelas kesayangannya. Bu guru muda dengan rambut dipotong rata di leher seperti laki-laki, mendengarkan dengan tenang. Saat anak-anak lain dipulangkan, ia mendekat, memeluk bahu si bocah, dan dengan suara pelan bertanya: "Apakah kamu merasa yang kamu lakukan itu hal yang buruk?"

Si bocah tak sanggup menjawab. Air mata jatuh terus. Bu guru mendudukkannya di sofa panjang, lalu dari tanaman anggur yang merambat tinggi sampai ke jendela lantai dua, ia memetik setangkai anggur Barat dan meletakkannya di pangkuan si bocah yang masih terus terisak.

Anggur yang Mengubah Seorang Anak

Tanpa dimarahi. Tanpa hukuman. Hanya anggur. Saat ia bangun dari tidur kelelahan menangis, bu guru menyelipkan setangkai itu ke dalam tasnya dan menyuruhnya pulang, dengan satu permintaan: "Besok, apa pun yang terjadi, kamu harus datang ke sekolah, ya. Kalau aku tak melihat wajahmu, aku akan sedih."

Esok harinya, Jim menyambutnya di gerbang sekolah seakan tak ada apa-apa yang terjadi. Di ruang bu guru, dua bocah berjabat tangan. Lalu bu guru, mengenakan blus linen putih, menjulurkan tubuhnya ke jendela, memetik setangkai anggur ungu yang berlapis serbuk, meletakkannya di telapak tangan kirinya yang putih bersih, lalu dengan gunting panjang ramping berwarna perak memotongnya menjadi dua dan memberikannya kepada Jim dan si bocah.

Sejak saat itu, sepertinya aku menjadi anak yang sedikit lebih baik dari sebelumnya, dan menjadi sedikit kurang pemalu.

Tangan Putih Seperti Marmer

Cerita berakhir bukan dengan moral, melainkan dengan satu rindu: bu guru itu sudah tiada. Sang narator, kini dewasa, tahu mereka takkan bertemu lagi. Tetapi setiap musim gugur datang, ketika tandan-tandan anggur berubah warna menjadi ungu dan berlapis serbuk indah, ia masih mencari tangan putih seperti marmer itu, dan tak menemukannya di mana pun.

Inilah Arishima di puncak kelembutannya. Bukan ideologis seperti dalam Perpisahan kepada Para Petani Penggarap, bukan kontemplatif seperti dalam karya-karya alam panjangnya. Melainkan sebuah cerpen anak yang merangkum seluruh teologi sekuler Taishō: bahwa pengampunan, bukan hukuman, adalah yang sesungguhnya mendewasakan seorang anak.

Pelajari lebih lanjut tentang Arishima Takeo di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.

Baca Setangkai Anggur karya Arishima Takeo di Pagera, cerpen anak lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera