Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 7 mnt

Sinterklas yang Diculik: Ringkasan Dongeng Anak L. Frank Baum 1904

Lima Setan yang tinggal di gua gunung — Keegoisan, Kedengkian, Kebencian, Niat Jahat, dan Penyesalan — kesal karena Sinterklas membuat anak-anak terlalu bahagia. Pada Malam Natal mereka menjerat dan menculik Sinterklas dari keretanya. Empat asisten kecil — Wisk sang Peri, Peter sang Knook, Nuter san

Pagera Editorial

Pada tahun 1904, ketika L. Frank Baum baru selesai menerbitkan The Wonderful Wizard of Oz empat tahun sebelumnya dan sudah menjadi penulis dongeng anak Amerika paling populer pada zamannya, ia menulis sebuah cerita pendek berjudul A Kidnapped Santa Claus untuk The Delineator, sebuah majalah Natal keluarga. Cerita itu kelak menjadi salah satu dongeng Natal paling unik di kesusastraan anak Barat: bukan tentang ajaib hadiah, melainkan tentang konflik antara kebaikan hati dengan personifikasi keburukan moral universal.

Karya ini, hanya 3.773 kata, dibawakan kepada pembaca Indonesia sebagai bagian dari warisan sastra dongeng anak dunia — bukan promosi tradisi keagamaan Natal, melainkan alegori moral sederhana tentang bagaimana kebaikan selalu menang atas keegoisan, kedengkian, dan kebencian, dalam balutan fantasi khas pengarang Negeri Oz.

Pembukaan: Sinterklas, Lembah Tertawa, dan Lima Gua

Cerita dibuka dengan lukisan tempat: Sinterklas tinggal di sebuah lembah ajaib bernama Lembah Tertawa, di mana di tengahnya berdiri kastel besar tempat semua mainan dibuat. Para pekerjanya dipilih dari kalangan ryl (makhluk peri penjaga tanaman), knook (makhluk peri penjaga hewan hutan), peri pixie, dan peri biasa. Lembah ini disebut Lembah Tertawa karena segala sesuatu di sana riang dan gembira — anak sungainya terkekeh sendiri, angin bersiul merdu, sinar matahari menari, dan bunga-bunga menengadah tersenyum dari sarang hijaunya.

Di satu sisi terbentang Hutan Burzee yang perkasa. Di sisi lain berdiri gunung raksasa yang menyimpan lima Gua Setan yang berurutan: Gua Setan Keegoisan, Gua Setan Kedengkian, Gua Setan Kebencian, Gua Setan Niat Jahat di jantung gunung, dan akhirnya Gua Setan Penyesalan yang dihubungkan ke keempat gua lain lewat terowongan kecil. Naratornya (suara seperti narator-paman Geoffrey Crayon karya Washington Irving) mengaku sendiri tidak tahu apa yang ada di balik Gua Niat Jahat — "ada yang bilang ada jurang-jurang mengerikan yang menuntun pada kematian dan kehancuran".

Pertemuan Lima Setan: "Sinterklas Menghancurkan Usaha Kita"

Para Setan mengadakan pertemuan. Setan Keegoisan mengeluh: anak-anak menjadi murah hati karena teladan Sinterklas, sehingga menjauhi guanya. Setan Kedengkian mengaku sedikit sekali anak yang bisa dibujuknya menjadi dengki. Setan Kebencian mengeluh tak ada yang sampai ke guanya kalau anak-anak tak melewati Gua Keegoisan dan Kedengkian. Setan Niat Jahat menyetujui. Setan Penyesalan tertawa pahit: kalau anak-anak tak masuk ke gua-gua tetangganya, ia juga sama terabaikannya. Mereka sepakat: sesuatu harus dilakukan terhadap Sinterklas.

Mula-mula mereka memutuskan godaan. Setan Keegoisan datang menggoda Sinterklas untuk menyimpan mainan-mainannya sendiri ("sayang sekali memberikannya kepada anak laki-laki yang berisik dan anak perempuan yang rewel"). Sinterklas tertawa: "Tak masuk akal! Jika aku bisa membuat mereka bahagia satu hari dalam setahun, aku sudah cukup puas." Setan Kedengkian mencoba membuatnya iri kepada toko mainan komersial yang menjual mainan demi uang. Sinterklas menolak iri. Setan Kebencian mencoba membuatnya membenci orang-orang yang tak percaya padanya. "Omong kosong belaka!" pekik Sinterklas. "Mereka tak menimbulkan bahaya nyata bagiku — mereka hanya membuat diri sendiri dan anak-anak mereka tak bahagia. Kasihan!"

Penculikan di Malam Natal

Karena godaan gagal, para Setan beralih ke kekerasan. Mereka menunggu Malam Natal, ketika Sinterklas keluar dari Lembah Tertawa dengan kereta luncurnya yang penuh mainan, karena di luar Lembah ia tak dilindungi para peri. "Bulan bersinar besar dan putih di langit, dan salju terhampar renyah berkilau di tanah saat Sinterklas melecutkan cambuknya dan melaju keluar Lembah menuju dunia luas di seberang."

Tiba-tiba sebuah tali jerat melesat menembus cahaya rembulan, melingkari lengan dan tubuh Sinterklas dan mengencang erat. Sebelum ia bisa melawan, Sinterklas tersentak dari kereta dan terjerembap kepala lebih dulu ke dalam tumpukan salju, sementara rusa-rusa melaju terus dengan muatan mainan. Para Setan mengikatnya dengan tali kasar, membawanya ke gunung mereka, memasukkannya ke gua rahasia, dan merantainya ke dinding batu. "Ha, ha!" tawa mereka. "Kita telah melakukan hal yang sangat cerdas, kita Setan Gua-gua!"

Empat Asisten Mengambil Alih

Kebetulan, pada Malam Natal itu Sinterklas membawa empat asisten favoritnya yang sembunyi di bawah kursi kereta luncur: Nuter sang Ryl (yang berpikir dan berbicara dengan hati-hati), Peter sang Knook (ketus dan suka mengomel tetapi selalu bisa diandalkan dalam darurat), Kilter sang Pixie (termenung dan bijaksana), dan Wisk sang Peri (kecil dan penuh kenakalan). Ketika mereka sadar tuan mereka hilang, Wisk berseru "Wo!" dan rusa-rusa berhenti.

Nuter ingin segera kembali mencari tuan mereka. Tetapi Peter sang Knook menolak: "Jika kita menunda atau kembali, takkan ada waktu untuk membawa mainan-mainan kepada anak-anak sebelum pagi; dan itu akan menyakiti Sinterklas lebih dari apa pun." Kilter setuju: tugas pertama adalah membagikan mainan seakan-akan Sinterklas sendiri yang hadir, sesudah itu baru menyelamatkan tuan mereka. Mereka memacu rusa-rusa menyeberangi bukit dan lembah, melalui hutan dan dataran, sampai ke rumah-rumah tempat anak-anak terlelap dan bermimpi tentang hadiah.

Mamie Brown dan Charlie Smith: Dua Kesalahan Lucu

Tetapi karena mereka tak memahami anak-anak sebaik Sinterklas, kesalahan tak terhindarkan. Mamie Brown, yang menginginkan boneka, malah mendapat genderang — yang tak berguna bagi anak perempuan yang mencintai boneka. Charlie Smith, yang gemar berlari di luar rumah dan ingin sepatu bot karet baru agar kakinya tetap kering, malah menerima kotak jahit berisi benang wol berwarna, benang biasa, dan jarum, yang membuatnya begitu kesal sehingga ia tanpa berpikir memanggil Sinterklas tercinta sebagai seorang penipu. Untungnya hanya dua kesalahan ini terjadi, dan keempat asisten menyelesaikan tur sebelum fajar.

Setan Penyesalan Membebaskan Sinterklas

Sementara itu di gua, para Setan menjaga Sinterklas bergantian dan mengejeknya dengan kata-kata penuh penghinaan. Ketika fajar Hari Natal tiba, Setan Niat Jahat sedang berjaga — lidahnya paling tajam. "Anak-anak mulai bangun! Mereka bangun untuk mendapati kaus kaki mereka kosong! Gua-gua kita akan penuh hari ini, Sinterklas tua!"

Sinterklas diam saja. Kesabarannya melukai Setan Niat Jahat, yang lalu menyerahkan tugas penjagaan kepada Setan Penyesalan — satu-satunya Setan yang berwajah lembut dan bersuara halus. "Saudara-saudara Setanku tak terlalu mempercayaiku," katanya, "tetapi sekarang sudah pagi, dan kerusakan sudah terjadi." Mereka berdialog tentang sifat penyesalan. "Apakah kau tak pernah menyesal sendiri?" tanya Sinterklas. "Oh, ya, tentu," jawab Setan itu. "Bahkan sekarang aku menyesal telah membantu dalam penangkapanmu."

Karena penyesalan itu, Setan Penyesalan diam-diam membuka simpul tali Sinterklas, melepas rantainya, memimpinnya melalui terowongan panjang ke Gua Penyesalan, lalu membuka pintu belakang yang membiarkan banjir cahaya matahari masuk. "Kuharap kau mau memaafkanku," pintanya. "Aku sebenarnya bukan orang jahat." Sinterklas menjawab dengan suara lembut: "Aku tak menyimpan dendam, dan aku yakin dunia akan menjadi tempat yang suram tanpamu. Maka, selamat pagi, dan Selamat Natal untukmu!"

Pasukan Peri Datang Terlambat

Saat Sinterklas berjalan tertatih sambil bersiul pelan ke arah rumahnya, ia melihat di salju datang pasukan besar yang dipimpin Wisk, Peter, Nuter, dan Kilter — pasukan ratusan knook, ryl, pixie, kurcaci, bidadari, dan seribu peri bersayap. Pasukan ini sudah siap menyerbu gunung Setan untuk membalas dendam. Tetapi Sinterklas berkata: "Sia-sia mengejar para Setan. Mereka punya tempatnya sendiri di dunia, dan tak pernah bisa dimusnahkan. Tetapi itu sangat disayangkan, bagaimanapun." Pasukan itu lalu mengantarnya ke kastel, dan Sinterklas mengirim Wisk dengan sepatu bot karet untuk Charlie Smith dan boneka untuk Mamie Brown — sehingga bahkan dua anak yang kecewa itu pun menjadi bahagia. Para Setan jahat, mendapati penangkapan cerdik mereka sia-sia, tak pernah lagi mencoba mengganggu perjalanan Sinterklas pada Malam Natal.

Pesan Moral: Kebaikan Selalu Menang, tetapi Keburukan Tetap Ada

Yang paling khas Baum dari penutup ini adalah keenganan Sinterklas memusnahkan para Setan. Mereka tetap ada di dunia, karena mereka punya tempatnya sendiri. Dongeng anak ini, di balik gembiranya, mengakui satu kebenaran moral dewasa: kebaikan akan menang, tetapi keburukan tak pernah benar-benar hilang. Sebagai penulis dongeng Amerika di awal abad ke-20, Baum percaya bahwa anak-anak pantas mendengar baik kebenaran maupun kelembutan. Sinterklas-nya tidak menghukum, melainkan memaafkan; dan inilah yang membuat dongengnya bertahan lebih dari 120 tahun.

Bagi yang ingin menikmati lebih banyak dongeng anak dan fantasi public domain, Pagera juga menyediakan Inggris Kecil (Little Britain) karya Washington Irving dan banyak karya sastra anak dunia lainnya.

Pelajari lebih lanjut tentang L. Frank Baum di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Inggris di Project Gutenberg.

Baca Sinterklas yang Diculik karya L. Frank Baum di Pagera, dongeng lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera