Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari: Ringkasan Dongeng Miyazawa Kenji 1931
Pada 1931, dua tahun sebelum wafat, Miyazawa Kenji menulis dongeng pendek tentang Taneri, seorang anak laki-laki di pedesaan Iwate yang ditugaskan ibunya mengunyah batang wisteria. Tergoda padang rumput awal musim semi, Taneri malah berkejaran dengan burung Toki, berbicara dengan pohon kashiwa, dan
Pagera Editorial
Pada tahun 1931, dua tahun sebelum kematiannya yang terlalu dini di usia 37 tahun, Miyazawa Kenji menulis sebuah dongeng pendek yang sangat tidak mirip dongeng pada umumnya. Tidak ada raja, tidak ada putri, tidak ada naga. Hanya seorang anak laki-laki bernama Taneri, ibunya yang sedang menumbuk biji konara di depan gubuk, dan satu hari panjang di padang rumput awal musim semi pedesaan Iwate.
Judulnya saja sudah menjadi kalimat lengkap dan sedikit aneh: Taneri wa tashika ni ichinichi kandeita yō datta, yang berarti kira-kira Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari. Bukan judul yang menjual. Tapi inilah Miyazawa di puncak gaya khasnya: menulis seakan ia sedang menyaksikan musim semi Iwate dari mata seorang anak yang belum belajar memisahkan dirinya dari pohon, burung, dan angin.
Tugas Sederhana dari Ibu
Cerita dimulai dengan Taneri (nama lengkap Horotai Taneri) berdiri di pintu gubuk, menyanyikan lagu yang ia karang sendiri sambil memukul-mukul batang wisteria dengan tongkat. Batang wisteria itu sudah dibekukan sepanjang musim dingin lalu dirobek halus oleh ibunya. Tugas Taneri sederhana: mengunyahnya sampai cukup lembut untuk ditenun menjadi pakaian.
Tetapi padang rumput dan bukit di seberang gubuk terlalu cerah, terlalu agung. Udara hangat musim semi mengambang bergoyang-goyang, seolah memanggil, "Ayo, ayo pergi." Maka Taneri, dengan satu ikatan batang wisteria di tangan dan terus mengunyah, melompat keluar.
Ibunya hanya sempat berseru, "Jangan masuk ke dalam hutan ya. Di bawah Nagane, ambil kulit kayu birch putih lalu pulang." Tapi Taneri sudah berlari seperti anak rusa, dan tidak sempat menjawab.
Empat Pohon Kashiwa yang Tertidur
Yang dilakukan Taneri sepanjang hari, dari pagi sampai matahari mulai condong ke barat, sebenarnya bukan tugas yang ibunya berikan. Ia berlari sampai gubuknya terlihat sekecil kelinci. Ia berhenti dan menyanyi tentang awan biru yang seperti kimono matahari. Ia mendekati empat pohon kashiwa (oak Jepang) yang masih tidur tanpa daun, dan mencoba membangunkannya dengan ancaman: "Kalau tidur waktu tidak ada salju, angin barat Gosuke akan menggoyangmu, Hōsuke si lebah akan memakan sarangmu, Tōsuke si hibari akan menjatuhkan kotoran padamu."
Empat pohon kashiwa itu tetap diam. Maka Taneri, dengan sedih, hanya meninggalkan empat simpul rumput kering sebagai tanda bahwa ia pernah datang, lalu berjalan terus.
Kodok yang Berpikir Lewat Bisikan Angin
Di belakang bukit ada rawa kecil dengan lumpur hitam yang mengembuskan uap hangat musim semi. Di sana-sini tumbuh lysichiton putih kehijauan, sejenis bunga rawa Jepang, dan apa yang Miyazawa sebut bunga lidah sapi. Taneri menjulurkan lidah ke setiap bunga sebagai salam.
Lalu, dari balik barisan bunga, muncul seekor kodok coklat. Bukan kodok biasa. Yang aneh, apa yang dipikirkan kodok itu sambil merangkak terdengar sampai ke telinga Taneri, seakan-akan angin sedang berbisik dari jauh: "Bagaimana, di atas kepalaku ini. Sejak kapan, jadi seperti ini, api merah yang berkibar tipis."
Itu cara khas Miyazawa. Hewan tidak berbicara dalam bahasa manusia, tapi pikirannya bisa bocor ke telinga anak yang cukup peka. Taneri ketakutan dan lari sekuat tenaga.
Burung Toki dan Hutan yang Tidak Boleh Dimasuki
Di seberang bukit, Taneri melihat seekor burung putih besar terbang menghalangi matahari. Bagian dalam sayapnya bersinar merah muda berkilauan: ini burung Toki, Crested Ibis Jepang, salah satu hewan paling langka di kepulauan itu. Dada Taneri seakan dipenuhi oleh kegembiraan yang melimpah.
Taneri mengejar burung itu sampai ke hutan raksasa yang sangat gelap, lebih gelap dari pohon hiba, lebih suram dari kaya. Ia berseru, "Toki, Toki, ayo main denganku." Tetapi yang menjawab bukan burung Toki, melainkan sesuatu yang asing dan kasar: "Hus, berisik, pergi main saja di luar sana sesukamu."
Lalu, sesuatu menyeramkan muncul di depan hutan: wujud mirip inugami (dewa anjing) berwajah besar, matanya merah seperti buah pir gunung, satu tangan dimasukkan ke saku dadanya. Taneri mengecil dan lari sekuat tenaga, melewati empat bukit berturut-turut seperti kilat.
Pulang Tanpa Membawa Apa-apa
Matahari sudah condong jauh ke barat ketika Taneri akhirnya kembali ke gubuk, kelelahan total. Ibunya sedang menumbuk biji konara (oak Jepang yang dapat dimakan) di depan pintu, lalu bertanya, "Sudah dibawa pulang kulit kayu birch-nya?"
"Enggak," jawab Taneri sambil menyusutkan leher.
"Sudah dikunyah semua batang wisterianya?"
"Enggak, entah hilang di mana," jawab Taneri dengan kelu.
Ibu sedikit marah dan mengancam tidak akan menenun satu pun kimono untuknya tahun ini. Tetapi Taneri, dengan suara yang sama linglungnya, berkata: "Iya. Tapi aku, sepertinya memang mengunyah sepanjang hari."
Dan inilah penutup cerita yang tidak ada di dongeng manapun selain dongeng Miyazawa: "Oh, begitu. Kalau begitu sudah baik." Ibu, setelah memandang wajah Taneri, terlihat lega, dan mulai kembali menumbuk biji konara.
Bukan Moral, Hanya Satu Hari
Tidak ada moral. Tidak ada hukuman. Tidak ada pelajaran tentang tanggung jawab anak. Hanya satu hari yang sudah terjadi, dan seorang ibu yang, setelah memandang wajah anaknya, memutuskan bahwa hari itu memang sudah cukup baik adanya.
Dongeng pendek ini, sekitar 4.900 kata, ditulis menjelang akhir hayat Miyazawa Kenji ketika ia sudah lama menderita tuberkulosis. Dalam karya-karya akhir seperti ini, ia tampaknya melepaskan semua ambisi pengajaran moral atau alegori Buddhis-Shinto dari karya-karya sebelumnya seperti Restoran dengan Banyak Permintaan. Yang tersisa hanyalah pesona pedesaan Iwate, dilihat dari mata seorang anak yang belum perlu memilih antara berguna dan tidak berguna.
Bagi yang ingin mengenal karya Miyazawa Kenji lainnya, tersedia Restoran dengan Banyak Permintaan karya Miyazawa Kenji dan Dua Pejabat karya Miyazawa Kenji di Pagera.
Pelajari lebih lanjut tentang Miyazawa Kenji di Wikipedia Indonesia dan baca teks asli Jepang di Aozora Bunko.
Baca Sepertinya Taneri Memang Mengunyah Sepanjang Hari karya Miyazawa Kenji di Pagera, dongeng lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.