Ringkasan · 2026-05-15 · Waktu baca ~ 5 mnt
Tidak Naik Kelas Soseki: Esai Otobiografis Meiji 1906
Tidak Naik Kelas (Rakudai) karya Natsume Soseki yang terbit 1906 — esai pendek tentang masa sekolahnya dari Chugaku hingga Daigaku Yobimon, dan satu titik balik ketika ia memilih sukarela tidak naik kelas demi memperoleh kepercayaan.
Pagera Editorial
Tidak Naik Kelas Soseki esai berjudul Rakudai (落第) yang terbit pada 1906 (Meiji 39) adalah salah satu karya otobiografis singkat Natsume Soseki. Esai pendek ini, sekitar empat ribu seratus kata dalam bahasa Jepang asli, menelusuri masa sekolahnya dari Chugaku (Sekolah Menengah) hingga Daigaku Yobimon (Sekolah Persiapan Universitas), dan menyimpan satu titik balik yang membentuk hidupnya sebagai penulis.
Pembukaan: Chugaku Tokyo Era Meiji
Narator membuka esai dengan mengingat masa kecilnya. Pada masa itu di Tokyo hanya ada satu Sekolah Menengah, dan letaknya di samping Sekolah Tinggi Perdagangan yang sekarang. Soseki masuk ke sana saat berusia entah dua belas atau tiga belas tahun. Sekolah itu terbagi menjadi dua jalur: Seisoku (jalur reguler) dan Hensoku (jalur khusus bahasa Inggris). Soseki berada di jalur Seisoku, bersama Yanagiya Usaburō dan Nakagawa Kojūrō yang kelak mendirikan Universitas Ritsumeikan.
Murid jalur Hensoku, seperti Kanō Kōkichi yang kemudian menjadi kepala Fakultas Sastra Universitas Kyoto, bisa masuk Daigaku Yobimon dengan mudah karena sudah banyak belajar bahasa Inggris. Murid jalur Seisoku seperti Soseki harus belajar lagi bahasa Inggris setamat sekolah. Karena merasa tidak menarik, dalam dua tiga tahun Soseki berhenti dari Chugaku itu dan pindah ke Nishōgakusha, sekolah klasik Konfusianisme yang dipimpin Mishima Chūshū.
Akademi Klasik Tiongkok dan Pelajaran Rinkō
Gambaran Nishōgakusha sangat khas: ruang kuliahnya begitu kotor sampai-sampai orang zaman sekarang tidak akan sanggup membayangkannya. Yang digelar di atas lantainya adalah tatami yang sudah menghitam dengan isinya terburai keluar, dan meja pun tidak ada. Murid duduk seenaknya tanpa urutan di atas tatami, lalu mendengarkan kuliah.
Pada saat rinkō (kuliah giliran ketika murid bergantian membaca dan menjelaskan), suasananya persis seperti orang yang sedang main kartu karuta. Urutan rinkō ditentukan dengan menarik bilah dari tabung bambu. Tetapi nomor pada bilah itu bukan satu-dua-tiga, melainkan istilah Tiongkok klasik seperti ichi-tō, ni-tō, san-kō, shi-shi — sepenuhnya menggunakan istilah kangaku.
Kebencian terhadap Bahasa Inggris
Bagian kedua mengungkap satu paradoks. Soseki, yang kelak menjadi profesor sastra Inggris di Universitas Kekaisaran Tokyo, pada masa muda sangat membenci bahasa Inggris. Kakak laki-lakinya yang pemarah mengajari di rumah, tetapi pelajaran mereka berhenti di jilid kedua National Reader.
Soseki mencintai studi klasik Tiongkok (kangaku). Tetapi di tengah dunia yang sedang mengalami pencerahan dan modernisasi peradaban (bunmei kaika), menjadi sarjana kangaku tampak tak ada gunanya. Maka ia bertekad masuk universitas dan belajar sesuatu di sana. Ia menjual habis tanpa sisa teks-teks klasik Tiongkok yang dicintainya, dan belajar bahasa Inggris dengan sepenuh hati di Seiritsu Gakusha selama hampir satu tahun. Pada musim panas Meiji 17 (1884), ia beruntung berhasil masuk Daigaku Yobimon.
Pemalas dan Kutu Buku
Bagian ketiga adalah potret kehidupan pelajar di Yobimon. Mizuno Rentarō, Masaki Naohiko yang kemudian menjadi kepala Sekolah Seni Tokyo, Haga Yaichi, semuanya berada di kelas yang sama dengan Soseki. Tetapi mereka adalah kutu buku yang berbeda dengan kumpulan pemalas seperti Soseki, dan ada jarak di antara kedua kelompok.
Pelajaran Yoka (Pendidikan Persiapan) mencakup matematika, fisiologi, zoologi, botani, mineralogi — semuanya dipelajari dari buku berbahasa Inggris. Tetapi tabiat murid sungguh kasar. Ada yang disebut stove-zeme (serangan tungku), yaitu menjejalkan begitu banyak kayu bakar ke dalam tungku di samping guru. Saat tungku itu memerah, wajah serius guru kangaku yang kepanasan ikut memerah seperti tungku, dan murid menonton sambil tertawa cekikikan.
Peritonitis dan Keputusan Sukarela
Bagian keempat adalah titik balik. Persis ketika Soseki berada di kelas dua, Universitas Teknik dan Sekolah Bahasa Asing bergabung dengan Yobimon, sehingga sekolah menjadi sangat kacau. Saat itu Soseki terkena peritonitis, sehingga tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Permohonan ujian susulan diabaikan oleh bagian pendidikan.
Di sanalah Soseki berpikir panjang. Mata pelajaran sama sekali tak ia kuasai, dan permohonan ujian susulan ditolak, sebagian karena kesibukan, tetapi di atas semuanya karena ia sendiri tidak memiliki kepercayaan. Kalimat inti esai ini adalah: "Jika tidak ada kepercayaan, sekalipun kau berdiri di tengah dunia, kau tak akan dapat melakukan apa pun. Pertama-tama, aku harus memperoleh kepercayaan orang. Untuk memperoleh kepercayaan, mau tak mau harus belajar sungguh-sungguh."
Maka Soseki, meskipun kawan-kawannya mendesak agar ia ikut ujian susulan, dengan sukarela memilih tidak naik kelas, mengulang kelas dua dari awal. Ini bukan kegagalan ujian, melainkan kegagalan yang disengaja.
Dari Arsitektur ke Sastra Inggris
Bagian terakhir mengantar pembaca pada peralihan akhir. Setelah naik ke kelas satu Yobimon, Soseki memilih Jurusan Kedua bahasa Prancis dan dari sana memilih Jurusan Arsitektur. Alasannya khas: "Aslinya aku ini orang aneh, sehingga seperti adanya aku tidak akan diterima oleh dunia. Tetapi jika aku memilih sebuah profesi yang menghasilkan pekerjaan yang tak boleh tidak ada dalam keseharian, maka aku bisa terus jalan tanpa terpaksa mengubah keanehanku."
Tetapi di kelas yang ia ulangi ada seorang sarjana sastra bernama Yoneyama, mahasiswa filsafat yang sangat berbakat namun berusia pendek. Yoneyama mendesak Soseki: "Dalam keadaan Jepang sekarang, mustahil untuk menciptakan arsitektur seni yang kau bayangkan dan mewariskannya untuk zaman-zaman setelah ini. Lebih baik kau menggeluti sastra. Kalau sastra, dengan kesungguhan belajar pun, kau bisa menciptakan mahakarya yang dapat diwariskan ratusan tahun, ribuan tahun ke depan, bukan?"
Pilihan Soseki terhadap arsitektur berangkat dari untung-rugi diri sendiri, sedangkan argumen Yoneyama meletakkan dunia sebagai patokan. Maka Soseki berpikir ulang sekali lagi, dan menetapkan akan menggeluti sastra — khususnya sastra Inggris. Esai berakhir dengan satu kalimat penuh sindiran diri yang menggantung: "aku pernah berpikir hendak meneliti sastra Inggris dan menulis mahakarya sastra dalam bahasa Inggris..."
Mengapa Esai Ini Penting
Tidak Naik Kelas ditulis ketika Soseki berusia tiga puluh sembilan tahun, ketika ia masih mengajar di Universitas Kekaisaran Tokyo dan sedang menulis novel pertamanya Aku Seekor Kucing. Esai ini adalah pengakuan singkat tentang bagaimana sebuah kegagalan yang disengaja justru menjadi obat bagi hidupnya. Bagi pembaca Indonesia, ini adalah pintu yang lembut untuk memahami pendidikan Meiji, transisi budaya kangaku ke kebudayaan Barat, dan suara intim Soseki sebelum ia menjadi novelis besar.
Tersedia juga karya Soseki lainnya di Pagera, antara lain Senja di Kyoto yang ditulis setahun setelah esai ini.
Pelajari lebih lanjut tentang Soseki di Wikipedia Indonesia dan teks asli Jepang di Aozora Bunko.
Baca Tidak Naik Kelas karya Natsume Soseki di Pagera, teks lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.
Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.