Vol. 3June 2026

Ringkasan · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 6 mnt

Hari yang Beruntung: Ringkasan Cerpen Hyun Jin-geon 1924 Realisme Korea

Pada Juni 1924, majalah Gaebyeok memuat Hari yang Beruntung karya Hyun Jin-geon. Sehari penuh keberuntungan bagi penarik becak Kim Cheomji di Seoul kolonial — pelanggan tak putus, uang berderak — namun semangkuk seolleongtang yang dibelinya untuk istrinya yang sakit tiba terlambat. Mahakarya realism

Pagera Editorial

Pada Juni 1924, sebuah cerpen pendek terbit di majalah Gaebyeok (개벽 — "Pencerahan") edisi ke-48. Penulisnya seorang lelaki muda berusia 24 tahun yang akan dikenang sebagai salah satu pendiri realisme Korea modern. Namanya Hyun Jin-geon (현진건, 玄鎭健, 1900~1943). Judul cerpennya tampak sederhana, hampir riang: Unsu Joheun NalHari yang Beruntung. Tetapi judul itu adalah salah satu ironi paling pedih dalam sejarah sastra Korea. Sehari penuh keberuntungan bagi seorang penarik becak miskin di Seoul kolonial — di balik keberuntungan itu, sang istri sedang sekarat sendirian di kamar sewa berdinding tipis, menunggu semangkuk sup yang akan tiba terlambat.

Seoul yang Hujan dan Berlumpur, Awal 1924

Cerita dibuka dengan satu kalimat yang menjadi salah satu kalimat pembuka termasyhur dalam sastra Korea: "Langit menggantung mendung dengan ekspresi cemberut yang tidak bersahabat, seolah hendak menurunkan salju, namun salju tak kunjung datang; sebagai gantinya, hujan yang hampir serasa dingin beku turun rintik-rintik tanpa henti." Latar tempat: di dalam gerbang Dongsomun, salah satu dari delapan gerbang besar tembok Seoul. Latar waktu: akhir musim dingin 1924, masa kolonial Jepang yang mencengkeram setiap sendi kehidupan rakyat. Tokoh utama: Kim Cheomji, seorang illyeokga-kkun — penarik becak yang seluruh penghasilannya bergantung pada dua kaki dan satu gerobak tangan.

Rangkaian Keberuntungan yang Mencurigakan

Hari itu nasib berpihak padanya — tidak seperti biasanya. Mengantar seorang nyonya dari rumah sebelah ke jalur trem: tiga puluh jeon. Mengantar seorang guru ke Sekolah Donggwang: lima puluh jeon. Sudah hampir sepuluh hari ia tak melihat sekeping pun, dan kini dalam telapak tangannya berderak delapan puluh jeon. Cukup untuk semangkuk seolleongtang (sup tulang sapi tradisional Korea) yang sudah tiga hari diidamkan istrinya yang sakit, dan secangkir makgeolli untuk tenggorokannya sendiri yang kering.

Lalu seorang murid sekolah memanggil — "Berapa ke Stasiun Namdaemun?" Kim Cheomji terdiam sejenak. Sebuah firasat menyelinap. Pagi tadi sebelum berangkat, istrinya — yang wajahnya tinggal tulang dengan dua mata besar cekung sebagai satu-satunya yang tampak hidup — telah memohon dengan suara nyamuk: "Jangan pergi hari ini. Kasihanilah aku, tinggal di rumah saja. Aku sangat sakit—" Tetapi keberuntungan terus mengekor. Satu won lima puluh jeon untuk perjalanan itu. Lebih banyak daripada gabungan kedua penumpang sebelumnya.

Istri yang Memakan Nasi Jawawut Sebelum Matang

Sudah lebih dari sebulan istrinya batuk-batuk tersengal. Mereka makan nasi jawawut (foxtail millet, makanan termurah masyarakat miskin Korea kolonial) seadanya, setengah waktu bahkan melewatkan makan. Sepuluh hari lalu, ketika Kim Cheomji pulang membawa setakar jawawut dan seikat kayu bakar, istrinya yang kelaparan menanak nasi dengan kalap, menjejalkan nasi yang belum matang ke mulutnya sampai pipi membenjol — dan sejak malam itu jatuh sakit.

Sudah tiga hari ia merengek meminta seteguk kuah seolleongtang. Kim Cheomji membentaknya: "Perempuan terkutuk! Yang nasi jawawut saja tidak bisa ditelan, seolleongtang!" Tetapi tidak bisa membelikan istrinya itu, hatinya tidak juga lega. Sekarang dengan satu won lima puluh jeon di tangan, ia bisa. Tetapi keberuntungan yang berlebihan itu malah membuatnya gentar.

Bertemu Sahabat Chisam di Warung Minum

Setelah mengantar penumpang dan mendapat satu won lima puluh jeon, Kim Cheomji kembali — dan dapat satu penumpang lagi sampai Insadong. Saat ia mendekati rumah, kaki yang tadi ringan kini berat. Tepat saat itu, dari sebuah warung minum di pinggir jalan, keluarlah sahabatnya Chisam — bertubuh gemuk, berjanggut lebat, kontras tajam dengan Kim Cheomji yang kurus berwajah kuning layu.

Di warung yang hangat, mereka melahap pancake kacang hijau, sup ikan loach chueotang, dan dua porsi ganda demi dua porsi ganda makgeolli yang dihangatkan. Kim Cheomji yang mabuk berbohong — "Tiga puluh won kudapat hari ini!" Ia mempercundangi pelayan, melemparkan keping perak ke baskom, tertawa-tawa. Lalu tiba-tiba meledak dalam tangisan panjang: "Istriku sudah mati."

Chisam terperangah. "Kapan?" "Hari ini." Lalu Kim Cheomji terbahak lagi — "Siapa yang mati? Aku menipumu!" Sambil bertepuk tangan seperti anak kecil, ia tertawa. Tetapi dalam suaranya terdengar ketegangan seorang pria yang sedang berjuang keras untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Pulang ke Rumah yang Diam

Membeli semangkuk seolleongtang seperti yang ia janjikan, Kim Cheomji yang tiga perempat mabuk tiba di rumahnya — yaitu, satu kamar luar yang disewa seharga satu won per bulan ditambah mengangkut air untuk kebutuhan rumah utama. Begitu ia melangkah ke gerbang, ia merasakan sebuah keheningan yang mencekam — hening seperti lautan setelah badai berlalu.

Suara batuk tersengal pun tidak terdengar. Suara napas berderak-derak pun tidak. Satu-satunya yang memecah keheningan adalah suara hisap kering yang sayup — suara Gaedongi, anaknya yang berumur tiga tahun, sedang mengisap payudara yang kosong. Untuk mengusir kepastian yang merayap, Kim Cheomji berteriak lebih keras dari biasanya: "Kamu perempuan sialan, suamimu masuk dan kamu tidak keluar menyambut, perempuan terkutuk!"

"Mengapa Kamu Tidak Bisa Memakannya"

Ia mendorong pintu kamar, menendang kaki istrinya — namun yang tertendang bukan daging manusia, melainkan tonggak kayu. Ia mengguncang kepala yang bagaikan sarang burung dari ranting-ranting. Tidak ada jawaban. Putih mata istrinya tergulir di balik kelopak. Saat itulah air mata sebesar kotoran ayam mulai jatuh dari mata Kim Cheomji ke wajah keras si mati. Setengah gila, ia menggosok-gosokkan wajahnya ke wajah istrinya sambil bergumam kalimat penutup yang menjadi salah satu epilog paling termasyhur dalam sejarah sastra Korea:

"Sudah kubelikan seolleongtang — mengapa kamu tidak bisa memakannya, mengapa kamu tidak bisa memakannya... betapa anehnya hari ini! Kukira nasibku sedang baik..."

Realisme yang Tidak Mengkhotbahi

Inilah Hyun Jin-geon di puncak teknik realismenya. Tidak satu pun kalimat dalam cerpen ini yang berkhotbah tentang penindasan kolonial Jepang. Tetapi setiap detail — dari rumah sewa berdinding satu won sebulan, dari nasi jawawut yang dimakan setengah waktu, dari penarik becak yang menganggap 80 jeon sebagai keberuntungan luar biasa, dari istri yang mati menunggu semangkuk sup — menggambarkan apa yang dilakukan kolonialisme pada rakyat biasa Korea 1920-an.

Tidak seperti naturalisme Émile Zola yang menggiring tokoh ke kemerosotan total, atau realisme yang menyajikan tesis sosial dengan terang-terangan, Hari yang Beruntung menyembunyikan kritik sosialnya di balik ironi judulnya sendiri. Hari yang beruntung — yang sesungguhnya adalah hari paling tidak beruntung dalam hidup Kim Cheomji. Setiap won, setiap jeon, setiap mangkuk seolleongtang yang akhirnya terbeli, justru mengukir kepedihan yang lebih dalam.

Pelajari lebih lanjut tentang Hyun Jin-geon di Wikipedia English dan baca teks asli Korea di Wikisource Korea.

Baca Hari yang Beruntung karya Hyun Jin-geon di Pagera, cerpen lengkap dalam bahasa Indonesia, gratis.

Tim Pagera | Sastra dunia public domain dalam bahasa Indonesia.

Kembali ke Pagera