Vol. 3June 2026

Konteks · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 5 mnt

Konteks Sejarah 'Takdir' Rohan — Lusitania, Gempa Kantō, dan Akhir Sekolah Konfusianisme di Meiji

Tiga guncangan besar yang membentuk konteks esai Rohan: tenggelamnya Lusitania (1915), gempa besar Kantō (1923), dan akhir era pendidikan shijuku tradisional.

Pagera Editorial

Konteks Sejarah "Takdir" — Mengapa Tahun 1917-1920 Mengubah Cara Orang Jepang Berpikir tentang Nasib

Untuk memahami sepenuhnya esai Kōda Rohan tentang takdir, kita perlu kembali ke Tokyo tahun-tahun setelah Perang Dunia I. Itu bukan periode biasa — itu zaman ketika seluruh kerangka berpikir orang Jepang tentang "kehendak", "kebetulan", dan "nasib" sedang terguncang sekaligus dari tiga arah.

Tiga Guncangan Besar yang Hadir dalam Esai

Rohan menulis esai ini sekitar 1917-1920. Pada periode itu, tiga peristiwa besar menghantam kesadaran kolektif orang Jepang dengan cara yang membuat pertanyaan "apa itu takdir?" menjadi pertanyaan sehari-hari:

1. Tenggelamnya Lusitania (7 Mei 1915)

Kapal penumpang transatlantik Inggris RMS Lusitania ditenggelamkan oleh kapal selam U-20 Jerman di lepas pantai Irlandia. Korban jiwa: 1.198 dari 1.959 penumpang dan kru. Di antaranya 128 warga Amerika Serikat — peristiwa yang nantinya menjadi salah satu pendorong masuknya Amerika ke Perang Dunia I.

Berita ini membanjiri surat kabar Tokyo selama berbulan-bulan. Pertanyaan yang membayangi pembaca Jepang sederhana namun mengerikan: bagaimana mungkin 1.198 manusia mati pada satu hari yang sama, di satu titik yang sama, oleh satu peristiwa yang sama? Apakah mereka semua lahir di bawah bintang yang sama? Tahun yang sama? Bulan yang sama? Tentu saja tidak. Rohan menyebut peristiwa ini secara eksplisit dalam esai sebagai bukti telak bahwa astrologi tidak masuk akal.

2. Gempa Besar Kantō (1 September 1923)

Meskipun gempa ini terjadi setelah esai Rohan ditulis, ungkapan "gempa besar tahun lalu" dalam esai jelas merujuk pada salah satu peristiwa seismik besar di kawasan Tokyo. Selama tahun 1917-1923 ada beberapa gempa kuat di Honshū. Yang utama, Gempa Besar Kantō pada 1 September 1923 menewaskan sekitar 140.000 orang — sebagian besar bukan karena getaran gempa, melainkan karena kebakaran masif yang menyusul saat warga sedang memasak makan siang.

Apakah 140.000 orang itu semua lahir di tahun-bulan-hari kelahiran yang berakibat mati pada 1 September 1923 di Tokyo? Pertanyaan ini menjadi pukulan telak bagi seluruh tradisi astrologi populer dan ramalan tahun lahir yang sangat berakar di masyarakat Jepang Meiji.

3. Modernisasi Meiji vs Tradisi Konfusianisme

Pada akhir abad ke-19, pemerintah Meiji membuka pendidikan modern besar-besaran. Sekolah dasar wajib diajarkan dalam bahasa Jepang modern, dengan kurikulum yang meniru Jerman dan Prancis. Sebelumnya, anak-anak kelas atas dididik dengan menghafal teks-teks klasik Tiongkok di shijuku — sekolah swasta yang dijalankan oleh pendeta atau sarjana Konfusianisme di rumah-rumah pribadi.

Pada tahun 1900-an, generasi yang dididik di shijuku mulai pensiun. Generasi baru yang dididik di sekolah modern hampir tidak bisa membaca aksara Tionghoa klasik tanpa bantuan. Bersamaan dengan ini, ajaran Konfusianisme tentang takdir, kemajuan diri, dan kebijakan publik mulai dianggap "kuno" dan dilupakan.

Rohan, yang dididik di shijuku di Hokkaidō dan kemudian belajar bahasa Inggris di Tokyo, merasakan dengan tajam: jika ia tidak menulis ulang ajaran-ajaran ini dalam bahasa Jepang modern, mereka akan hilang dalam satu generasi.

Mengapa Rohan Memilih Format Ceramah

Sebelum era radio luas (yang baru menyebar di Jepang tahun 1925), bentuk komunikasi publik paling kuat untuk mencapai khalayak besar adalah ceramah umum (講演 kōen). Tokoh-tokoh seperti Fukuzawa Yukichi, Tsubouchi Shōyō, dan Mori Ōgai semua memberikan ceramah di hadapan ratusan pendengar di aula sekolah dan ruang baca umum di Tokyo, Osaka, dan Kyoto.

Esai Rohan ini ditulis dalam ragam bahasa formal-ceramah yang disebut kōen-chō (講演調) — gaya bicara di hadapan pendengar. Karenanya banyak kalimat berakhir dengan ~deshō (ませう), ~de arimasu (であります), dan ~mōshimashita (申しました / "tadi sudah saya sebutkan"). Pembaca seolah-olah duduk di antara hadirin yang sedang dipanggil "saudara-saudara" oleh sang penceramah.

Pengaruh Klasik Tiongkok dalam Esai

Untuk memenangkan argumennya bahwa "takdir bukan penjara mutlak", Rohan menarik bukti dari rentang sejarah klasik Tiongkok yang luar biasa lebar. Dalam sepuluh paragraf saja, ia menyebut nama:

  • Wang Chong (王充, 27–97 M) — filsuf rasionalis Han yang menulis Lùnhéng (論衡)
  • Bai Qi (白起, ?–257 SM) — jenderal kejam Qin
  • Weiliaozi (尉繚子, abad ke-4 SM) — pemikir militer Periode Negara-Negara Berperang
  • Zhuge Kongming (諸葛孔明, 181–234 M) — ahli siasat Tiga Kerajaan
  • Sima Yi (司馬懿, 179–251 M) — saingannya
  • Laozi (老子, abad ke-6 SM?) — pendiri Taoisme
  • Konfusius (孔子, 551–479 SM)
  • Yang Hu (陽虎, abad ke-6 SM) — politikus negeri Lu yang konon mirip Konfusius
  • Xunzi (荀子, 313–238 SM) — penulis Risalah Anti-Fisiognomi (非相論)
  • Guan Zhong (管仲, 720–645 SM) — perdana menteri Qi
  • Tantai Ziyu (澹台子羽, abad ke-5 SM) — murid Konfusius berwajah buruk
  • Pangeran Zheng / Wusheng (鄭伯・寤生, abad ke-7 SM) — penguasa Chunqiu
  • Alkibiades (450–404 SM) — politikus Athena (satu-satunya non-Tiongkok)

Daftar ini bukan pamer kepandaian. Bagi pendengar Meiji-Taisho yang pendidikannya masih berbasis Konfusianisme, setiap nama membawa cerita yang dikenal. Rohan menggunakan nama-nama ini seperti penyair menggunakan rima — sebagai jangkar memori bersama, bukan sebagai catatan kaki ilmiah.

Mengapa Tetap Relevan untuk Pembaca Indonesia Hari Ini

Pertanyaan "seberapa banyak hidup saya sudah ditetapkan, dan seberapa banyak masih bisa saya ubah?" tidak pernah usang. Apa yang berbeda di tahun 2026 dibanding tahun 1920 hanyalah daftar peristiwa pemicu: bukan Lusitania dan gempa Kantō, melainkan pandemi 2020, perang Ukraina, krisis iklim, atau krisis ekonomi pribadi.

Jawaban Rohan tetap berlaku: bukan fatalisme, bukan voluntarisme, melainkan separuh-separuh yang jujur — sadar atas apa yang kita warisi tanpa pilihan, dan setia pada apa yang kita pilih untuk lakukan hari ini.


Baca terjemahan lengkap esai Kōda Rohan di Pagera: Pagera Indonesia — Takdir

Kembali ke Pagera