Penulis · 2026-05-16 · Waktu baca ~ 4 mnt
Kōda Rohan — Sarjana Konfusianisme Terakhir di Zaman Meiji-Taisho
Kōda Rohan (1867-1947), salah satu dari empat sastrawan besar Meiji. Profil singkat dari era Hokkaidō hingga periode tafsir Bashō pasca-perang.
Pagera Editorial
Kōda Rohan — Sarjana Konfusianisme Terakhir di Zaman Meiji-Taisho
Di sebuah jalan kecil di kawasan Mukōjima, Tokyo, pada akhir abad ke-19, ada satu rumah sederhana tempat seorang lelaki muda duduk berjam-jam di atas tatami sambil membaca naskah klasik Tiongkok dan Jepang. Lelaki itu bernama Kōda Shigeyuki (幸田成行, 1867–1947) — lebih dikenal sebagai Kōda Rohan (幸田露伴), salah satu dari empat sastrawan besar zaman Meiji yang oleh para sejarawan Jepang dijuluki Kō-Roha-Ō (紅露逍鴎): Ozaki Kōyō, Kōda Rohan, Tsubouchi Shōyō, dan Mori Ōgai.
Lahir di Penghujung Zaman Edo
Rohan lahir di Tokyo tahun 1867 — hanya beberapa bulan sebelum Restorasi Meiji menggulingkan keshogunan Tokugawa dan membuka Jepang kepada dunia modern. Keluarganya berasal dari kelas samurai yang status sosialnya runtuh seiring runtuhnya bakufu. Sejak kecil ia dididik dalam dua tradisi sekaligus: pendidikan Konfusianisme klasik (membaca Lunyu Konfusius, Mengzi, Shijing, Daxue dalam aksara Tionghoa) di rumah dan di sekolah swasta, serta pendidikan Barat (matematika, fisika, bahasa Inggris) di sekolah resmi.
Pada usia 18 tahun, Rohan masuk Sekolah Telegrafi Pemerintah dan dikirim sebagai operator telegraf ke kota terpencil Yoichi di Hokkaidō. Di sana, di tengah salju Hokkaidō yang membekukan, ia membaca habis sastra klasik Tiongkok dan menulis catatan-catatan pertama yang kelak menjadi inti karya-karyanya. Pada tahun 1887, ia memutuskan: hidupnya adalah untuk sastra, bukan telegraf. Ia berhenti dari pekerjaan dan berjalan kaki — secara harfiah — sepanjang seratus kilometer lebih dari Hokkaidō, lalu menyeberang dengan kapal kembali ke Tokyo.
Empat Periode Karya
Karir sastranya membentang enam puluh tahun, dari era Meiji ke era Taisho ke era awal Shōwa, dan dapat dibagi ke dalam empat periode besar:
Pertama — periode novel romantik klasik (1889–1899). Karya-karya seperti Tsuyu Dandan (露団々, 1889), Fūryū Butsu (風流仏, 1889), Gojū no Tō (五重塔 / Pagoda Lima Tingkat, 1891), dan Fūryū Mijinzō (風流微塵蔵) menempatkannya sebagai novelis muda paling cemerlang di zamannya. Gaya bahasanya — disebut gabuntai atau gaya elegan klasik — penuh kosakata Tionghoa, kutipan klasik, dan irama yang berat tetapi indah.
Kedua — periode sejarah dan riset filologis (1900–1920-an). Setelah berhenti menulis novel, Rohan tenggelam ke dalam riset klasik Tiongkok dan sejarah Jepang. Ia menulis biografi para tokoh besar (terutama biografi Tokugawa Ieyasu yang setebal ribuan halaman), risalah tentang permainan Go (囲碁雑考 Igo Zakkō / Catatan Tentang Permainan Go), dan komentar mendalam tentang Bashō dan haiku. Esai "Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri" lahir dari periode ini — sekitar tahun 1917-1920.
Ketiga — periode esai dan ceramah filsafat populer (1920–1930-an). Periode di mana suara Rohan paling lebar didengar khalayak luas. Ia diundang menjadi penceramah di berbagai pertemuan publik, dan banyak ceramahnya — termasuk yang ada di tangan Anda sekarang — diterbitkan ulang dalam bentuk esai. Tema favoritnya: hidup, takdir, kemajuan diri, dan harmoni antara kebijaksanaan Tiongkok klasik dengan zaman modern.
Keempat — periode pasca-Perang dan tafsir Bashō (1940–1947). Setelah Perang Pasifik berakhir, Rohan yang sudah tua dan sakit-sakitan tetap menulis. Karya terakhirnya adalah Hyōshaku Bashō Shichibushū (評釈芭蕉七部集 / Tafsir Tujuh Antologi Bashō), sebuah komentar raksasa atas seluruh karya penyair haiku Matsuo Bashō. Ia wafat tahun 1947 di usia 80 tahun, di rumah putrinya, Kōda Aya — yang kelak menjadi novelis besar sendiri.
Suara Khas Rohan: Sarjana yang Hangat
Yang membuat Rohan istimewa di antara sastrawan Meiji-Taisho adalah caranya menyatukan dua hal yang biasanya bertabrakan: kedalaman riset klasik dan kehangatan ceramah populer.
Bandingkan dengan kontemporer: Mori Ōgai dingin dan birokratik, Natsume Sōseki ironis dan modern, Nagai Kafū dekaden dan nostalgis. Rohan, sebaliknya, menulis seperti seorang paman tua yang murah hati — ia tahu lebih banyak dari Anda, tetapi ia berbicara dengan Anda, bukan menggurui Anda. Ia mengutip Konfusius dan Laozi sambil menertawakan kebiasaan suami yang membuka kalender saat istrinya melahirkan. Ia mengutip Xunzi sambil bercanda tentang Komachi yang jelita di masa muda dan papa di masa tua.
Mengapa Rohan Cocok untuk Pembaca Indonesia
Tradisi pemikiran yang Rohan wakili — yakni harmoni antara takdir yang sudah ditetapkan (qadar dalam Islam, 運命前定 dalam Konfusianisme) dan upaya manusia (ikhtiar dalam Islam, 後天的運命 dalam Konfusianisme) — sangat mirip dengan kerangka teologis Islam Indonesia mainstream. Rohan menolak fatalisme keras yang membuat manusia pasif, tetapi ia juga menolak voluntarisme angkuh yang melupakan bahwa manusia tidak menciptakan dirinya sendiri.
Bagi pembaca Indonesia yang mengenal kalimat "manusia berusaha, Tuhan menentukan," karya Rohan akan terasa seperti percakapan lintas zaman dengan seorang sarjana Asia yang sampai pada kesimpulan yang sama dari arah yang berbeda. Itulah kekuatan karyanya, dan itulah mengapa "Takdir Adalah Sesuatu yang Harus Dibuka Sendiri" layak dibaca sekarang, hampir seratus tahun setelah ditulis.
Baca karya-karya Kōda Rohan di Pagera: Pagera Indonesia — Kōda Rohan
Pagera menerjemahkan klasik Jepang dan dunia ke bahasa Indonesia yang mengalir, dapat dibaca gratis di peramban manapun.